
Sesaat Smith membeku. Tubuhnya mengejang, namun matanya menangkap Rangga bersiap menarik pelatuk senjata api.
"Rangga berhenti !!" Smith segera memberikan sebuah tendangan untuk menghentikan niat Rangga, melesatkan timah panas itu kearah Rianna. Namun naas sebuah tembakan kembali melesat. Matanya menatap nanar tubuh Rianna yang sudah bersimbah darah. Beruntung, peluru meleset jauh dari tubuh gadis itu. Smith menghela nafas berat, namun pemandangan mengerikan didepan matanya tak ayal membuat jantungnya seakan tertikam.
Segera dia berusaha melepaskan ikatan Rianna. Rangga, yang melihatnya hanya mampu menautkan kedua alisnya.
"Tuan,"
Smith tak menjawab. Tangannya tetap berusaha untuk melepaskan ikatan erat yang membelenggu tubuh gadis itu ditiang.
"Bantu aku melepaskannya !!" titah Smith segera diangguki oleh Rangga. Beberapa menit kemudian, Smith berhasil melepaskan ikatan Rianna. Tubuh gadis itu luruh. Segera Smith menangkapnya. Matanya sudah memerah menahan gejolak didadanya.
"Cepat siapkan mobil !!" namun Rangga masih diam ditempat. Untuk apa menyiapkan mobil? Batinnya bergejolak. "Sekarang !!" teriakan Smith kembali menggema. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah Smith menggendong tubuh gadis itu. Segera, Rangga mengikuti perintah Smith. Mereka keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa. Ardan yang melihat pemandangan yang mengerikan itu, darahnya mendidih. Emosi meluap-luap, bagaimana tubuh seorang gadis itu telah tak sadarkan diri. Matanya menatap nyalang saat mendapati tubuh gadis itu sudah bergulat dengan darah.
"Smith brengs*** kau !!" segera Ardan menarik tangan Smith. Rangga maju kedepan karena bossnya dalam bahaya. Bogeman mentah sudah mendarat diwajah Rangga.
"Berhenti Ardan kita harus membawanya kerumah sakit," ucapan Smith tak hanya membuat Ardan dan Rangga melongo. Tapi juga semua orang yang berada disana terheran-heran.
"Hah?"
__ADS_1
"Kubilang kerumah sakit !! Atau dia akan mati !! Cepat !! Brengse* !!" teriakan menggelegar itu kembali terdengar membuat Ardan dan Rangga terkesiap kaget. Kemudian, dengan segera Rangga berlalu untuk segera menyiapkan mobil sesuai perintah dari Smith. Walau masih bingung dengan apa yang terjadi, tapi Ardan dan Kevin mengikuti Smith dari belakang.
"Hentikan semua ini!! Obati yang terluka !!" ucapan nyaring dari Smith sebelum meninggalkan ruangan itu. Membuat semuanya terheran. Kembali keruangan selanjutnya, terlihat Dion dan Agnes masih bergelut dengan para laki-laki yang bertubuh kekar. Jangan lupakan kaki Agnes yang masih diperban, jika semula perban itu berwarna putih maka sekarang sudah berubah warna menjadi merah. Sepertinya, lukanya kembali terbuka.
"Bro !! Kaki istri loe berdarah !! Nyok ikut kita kerumah sakit !!" teriakan Kevin membuat Dion mengalihkan pandangannya kearah kaki Agnes dan benar saja. Sepertinya, lukanya kembali terbuka. Reflek Dion segera menggendong Agnes dan mengikuti Ardan dan Kevin dari belakang.
"Kyaaaa,...apa yang kau lakukan?!" Agnes memukul dada bidang milik Dion. Meronta untuk diturunkan.
"Berisik !! Diamlah atau kucium bibirmu itu," kata Dion sembari berjalan dengan cepatnya. Agnes terdiam. Rupanya kata-kata Dion sangat manjur untuk membungkam mulut Agnes.
Zack, Kaisar dan Mickhael yang melihatnya segera berlari untuk bergabung dengan mereka. Pasukan dari kedua belah pihak sudah mundur menarik diri masing-masing dan segera meninggalkan tempat Durjana itu.
💞💞💞
Begitu mobil memasuki halaman rumah sakit Smith segera keluar dengan tergopoh-gopoh berteriak dan memaki semua orang yang dilewatinya. Memang Ardan sangat mengenali pamannya itu. Perkataan kasar memang sangat lekat di keseharian Smith. Namun ada hal yang sangat menggelitik hati Ardan. Kenapa pamannya begitu kalut dengan keadaan Rianna? Bukankah seharusnya dia yang saat ini tengah kalut dan ketakutan melihat keadaan Rianna yang mengenaskan?
Saat didepan UGD Smith segera berteriak memanggil dokter untuk menangani Rianna.
"Tolong selamatkan gadis ini. Aku mohon," suara serak akibat tangis yang tertahan. Ardan hanya mampu melihatnya dengan berbagai pertanyaan. Bukan hanya itu sudut mata Smith terlihat ada buliran air bening. Ardan mengamati semua gerak-gerik Smith.
__ADS_1
Dokter segera bergerak cepat. Rianna digiring untuk segera mendapatkan pertolongan. Beberapa menit kemudian dokter keluar.
"Maaf pasien kehilangan banyak darah. Sedangkan stock darah ditempat kami tidak ada yang memiliki stock dengan golongan darah seperti milik pasien. Karena golongan darah ini cenderung langka,"
"Memang golongan darahnya apa dok?" Smith rupanya tak sabar untuk mengetahui golongan darah gadis bernetra biru itu.
"Golden Blood atau Rhnull Blood. Jenis golongan darah langka ini, Golden blood atau Rhnull Blood hanya dimiliki beberapa orang saja," penuturan dari dokter itu membuat Smith luruh dilantai. Tak perlu susah-susah bertanya kepada gadis itu. Dia sudah tau jawabannya. Atau tes DNA yang membutuhkan paling tidak waktu dua Minggu. Semua itu tak diperlukan lagi karena dia sudah tau jawabannya. Golongan darahnya sama dengan golongan darah gadis itu. Matanya menatap nanar tangannya. Tangan yang penuh dosa dan disana terdapat noda darah dari tubuh Rianna.
"Aku hubungi mami dulu, golongan darahnya sama dengan milik mami. Sedangkan golongan darahku sama dengan papi. Sebentar dokter," Ardan mengambil ponsel disaku celananya. Namun saat hendak menelfon Smith mengucapkan
"Tidak perlu, golongan darahnya sama dengan milikku,"
"Baiklah suster tolong ambil darah tuan ini,"
Smith segera mengikuti suster itu pergi ketempat yang dimaksud. Kembali meninggalkan Ardan dengan banyak pertanyaan.
Ada apa ini?
💞💞💞
__ADS_1
Mau lagi? Ayok likenya jangan ketinggalan vote juga😒😒😒 mau tamat loh