Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 190


__ADS_3

"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam mari masuk non," seorang pelayan membukakan pintu.


Ani tersenyum dan kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah besar nan mewah yang berlantai 3 itu. Berikut dengan kedua gadis yang menemaninya saat itu.


Sesaat Ani dan kedua gadis itu mendudukkan bokongnya disofa panjang yang empuk. Kedua mata Jesslyn dan Lita memandang setiap interior yang ada didalam rumah itu. Mata mereka memandang kagum akan rumah yang berdesain modern klasik itu. Dari ujung sebuah tangga terlihat seorang gadis bermata biru mengenakan drees selutut tanpa lengan berwarna merah muda. Rambut hitam yang tergerai panjang nan indah itu beterbangan seiring bertubrukan dengan angin. Tak lupa senyum terkembang dibibir mungilnya. Menyambut kedatangan Mariani dengan kebahagiaan yang tiada tara.


"Kakak ipar," teriaknya kencang diiringi dengan lari-lari kecil. Kemudian menghujani wajah Mariani dengan banyak kecupan. Siapa lagi jika bukan Rianna. Gadis yang manja namun begitu banyak menyimpan luka. Namun saat ini perlahan luka itu mengering. Bersamaan dengan hadirnya seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.


Kedua pasang mata Jesslyn dan Lita memandang Rianna penuh dengan kekaguman. Gadis itu tak hanya cantik dengan tinggi yang semampai dan pinggang yang ramping membuatnya sempurna bak seorang Dewi. Terlebih memang Rianna seorang blasteran. Tentu saja dirinya memiliki keindahan mata berwarna biru dari sang papa. Begitu pula dengan rambut hitam lurus sepinggangnya. Identik dengan ciri khas orang Indonesia yang diturunkan dari sang mama. Meskipun Jesslyn dan Lita sesama perempuan dengan Rianna. Tetapi tetap saja keduanya nampak kagum dengan gadis yang berparas cantik itu. Siapa saja lelaki yang melihatnya pun pasti akan jatuh cinta padanya.


"Bagaimana kabarmu Rianna?" Ani berdiri menyambut ciuman bertubi-tubi yang diberikan Rianna.


"Kabarku baik kakak ipar," menatap kedua gadis yang duduk dengan begitu canggungnya disofa. "Siapa mereka kak?"


"Oh kenalkan ini Jesslyn," Jesslyn bangkit dan menyodorkan tangannya. Rianna menyambutnya dengan senyum yang mengembang dibibirnya.


"Jesslyn," ucap Jesslyn singkat.


"Dan ini kita," Lita pun melakukan hal yang sama dengan Jesslyn bangkit berdiri mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Rianna.


"Lita,"


"Namaku Rianna senang bisa berkenalan dengan kalian," menoleh kearah kakak iparnya.


"Hari ini aku ingin mengajakmu membeli sesuatu untuk hadiah pernikahan Monica Ri,"


"Benar juga kak. Aku juga belum menyiapkan hadiah untuk mereka besok. Ehm aku pamit papa dulu ya,"

__ADS_1


"Tuan Smith ada dirumah? Apa beliau tidak bekerja?" tanya Ani penasaran.


"Tidak kakak ipar. Papa sudah menyerahkan perusahaan untuk dikelola oleh Rangga. Tangan kanan papa, jadi papa dirumah setiap saat bersamaku," Ani tersenyum mendengarnya. Memang dari awal dia yakin jika tuan Smith akan menyayangi Rianna dengan setulus hati. Mengingat seberapa besarnya laki-laki itu mencintai mama Rianna. Tiba-tiba dari dalam rumah terlihat Smith berjalan kearah mereka. Laki-laki paruh baya itu mendengar keributan suara anak gadisnya. Menurut pelayan seorang wanita hamil datang bertamu dan dia yakin jika itu menantu keponakannya.


"Halo sayang," mencium pipi kanan dan kiri Mariani. "Ada apa? Apa Ardan juga ikut?" matanya mencari sosok keponakannya. Namun nihil tidak ada seorang laki-laki disana. Kedua matanya menatap dua orang gadis yang menurutnya bukan gadis biasa. Jangan lupakan masa lalu Smith karena dia juga harus mengamati dengan cermat setiap musuhnya. "Apa kalian kaki tangan milik Ardan Wijaya?"


"Benar tuan," kedua gadis itu menjawab bersamaan.


"Ada apa kemari sayang? Kalau kau rindu Rianna kalian telpon saja aku. Aku pasti akan mengizinkan dia untuk kerumah Wijaya. Kasihan jika kamu yang harus repot-repot kemari. Perutmu sudah kelihatan besar," menatap perut buncit milik Mariani.


"Aku kemari ingin mengajak Rianna pergi tuan Smith. Besok hari pernikahan Monica dan Kevin, jadi aku mengajak Rianna untuk berbelanja. Apa aku boleh mengajak Rianna tuan?" menatap takut-takut kearah Smith. Laki-laki paruh baya itu malah tertawa nyaring. Membuat Mariani, Jesslyn dan Lita merinding.


"Hahahaha, tidak apa-apa sayang. Kau boleh mengajak kemanapun putriku ini pergi. Asal jangan aneh-aneh saja. Aku tidak akan membiarkannya berkeliaran sesuka hatinya. Tapi jika kamu yang mengajaknya aku akan mengizinkannya dengan senang hati. Karena berkatmulah aku bisa hidup berbahagia disini bersama anak gadisku,"


"Papa, papa membuat mereka takut," Rianna memeluk manja sang papa. Lagi-lagi Mariani tersenyum melihat kehamonisan papa dan anak gadisnya itu.


"Papa hanya tertawa saja sayang. Habis kakak iparmu itu lucu sekali. Oh ya sayang kau jangan memanggilku dengan panggilan tuan. Aku termasuk keluarga jaya begitu pula denganmu. Jadi panggillah aku dengan sebutan paman seperti Ardan,"


"Baiklah paman. Cepetan Ri siap-siap kita akan segera berangkat. Dari pada nanti kita kemalaman,"


"Sebentar aku ambil tasku dulu ya kak,"


Mereka semua menatap kepergian Rianna. Punggung milik gadis itu semakin lama semakin menghilang.


"Terima kasih Nak,"


Lagi-lagi Smith mengucapkan terima kasih untuk yang kesekian kalinya.


"Jangan sungkan paman. Aku sudah menganggap Rianna adikku sendiri. Bagaimana keadaan psikis Rianna?"

__ADS_1


"Alhamdulillah Nak, sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Oh ya, anak laki-lakimu dimana? Kau tidak mengajaknya jalan-jalan? Dia juga cucuku bukan?"


"Tentu saja Paman. Rendy masih di mansion milik papi dan mami. Mereka membutuhkan Rendy untuk menemani mereka dimasa tua mereka. Sebenarnya aku sangat ingin bersamanya. Tetapi mengingat papi dan mami juga tak ingin jauh dari Rendy ya sudah Paman. Aku yang mengalah, jika aku senggang aku akan kerumah utama nantinya. Saat ini aku sering lelah,"


"Ya, itu bawaan lahir. Apa kau dan Ardan sudah mengetahui jenis kelamin calon anak kalian nantinya? Sepertinya perutmu terlalu besar untuk ukuran orang hamil biasanya," Smith menunjuk perut Mariani.


"Benarkah Paman?" Ani menautkan kedua alisnya. Tetapi ikut membenarkan apa yang dikatakan oleh Smith.


"Lebih baik kalian menanyakannya kedokter,"


"Iya, kemungkinan hari Minggu nanti aku akan periksa Paman. Selama ini aku hanya periksa keadaannya saja. Mungkin besok kami akan melihatnya," mengelus perutnya secara perlahan. Terlihat Rianna sudah menuruni anak tangga. Kali ini gadis itu memakai sebuah blazer hitam agar lebih tertutup.


."Ayo kakak ipar. Pa aku pergi jalan-jalan dulu ya," meraih tangan Smith dan mencium punggung tangannya.


"Iya sayang," dengan cepat Rianna dan Mariani berbalik menuju pintu utama diikuti oleh Jesslyn dan Lita tanpa banyak bicara.


"Tunggu sayang," mendekati Rianna. "Kau lupa bahwa kau tidak membawa uang sepeserpun," membuka dompet dan memberikan sebuah kartu ATM debet kepada Rianna.


"Hehe iya pa,"


"Rianna kenapa kau suka sekali lupa membawa uang?" ledek Mariani.


"Ish kakak ipar jangan membuka aibku begitu. Aku kan selama ini ditraktir oleh kak Ardan," mencoba membela diri gadis itu memang masih suka seenaknya.


"Belanjalah sesukamu sayang. Tenang saja papamu ini orang kaya," mengecup kening Rianna. "Sudah sana berangkatlah. Ingat pulangnya jangan malam-malam,"


"Baik Paman,"


"Baik Pa,"

__ADS_1


Keempat orang wanita itu pergi meninggalkan rumah Smith. Laki-laki paruh baya itu tersenyum melihat kebahagiaannya kini.


"Lihatlah anak kita Rosita. Dia gadis yang sangat menyenangkan. Baik hati dan berparas cantik sepertimu. Inilah satu-satunya caraku untuk membahagiakanmu walau terlambat," laki-laki itu menghembuskan nafas berat dan kemudian menutup pintu secara perlahan.


__ADS_2