
Pagi ini begitu cerah. Secerah senyuman Sabrina yang sejak tadi terukir di bibirnya. Dari subuh, gadis itu telah bersiap untuk rutinitasnya sebagai seorang pelajar. Setelah siap, gadis itu segera keluar dari kamarnya. Memilih untuk segera sarapan dan berangkat ke sekolah. Bibi Rosi sudah ia mintai tolong untuk membuatkannya sarapan sesuai dengan apa yang ia inginkan.
"Selamat pagi, Bibi Rosi!" sapa Sabrina.
"Selamat pagi, Non! Wah, sepertinya Nona Sabrina sangat bersemangat pagi ini," ucap Bibi Rosi.
"Tentu saja, Bi. Hari ini, hari pertama ke sekolah, setelah sekian lama. Sebentar lagi, aku juga akan masuk ke kampus pilihanku." Sabrina tersenyum sembari memasukkan bekalnya ke tas.
"Semangat ya, Nona. Bibi akan terus bikinkan bekal kesukaan Nona Sabrina. Hari ini menunya sesuai permintaan, Nona. Rendang daging sama sambal terasi," ucap Bibi Rosi.
"Terima kasih, Bi!" Sabrina kini mendudukkan bokongnya di kursi. Menyantap sarapan dengan santai.
Terlihat William dan juga Artur telah ada di ruang makan. Akan tetapi dua pria itu memilih mematung di tempatnya. Menatap gerak-gerik Sabrina yang makan dengan santai tanpa menunggu yang lainnya.
"Uncle William? Artur? Kenapa tak cepat sarapan? Kalian kan harus segera berangkat," ucap Sabrina mengawali pembicaraan. Terlihat di kedua mata Sabrina jika William dan Artur tengah kikuk.
William segera duduk di kursinya. Saat akan mengambil piring, Sabrina terlebih dahulu mengambilnya. Bahkan gadis itu juga mengambilkan nasi di piring baru tersebut. Tak hanya itu, Sabrina juga mengambilkan lauk. Kemudian piring tersebut diletakkan di depan William. William yang bingung, menatap Sabrina dengan penuh tanya.
__ADS_1
"Ada apa, Uncle?" tanya Sabrina. Ternyata gadis itu telah duduk di kursinya kembali. "Ayo, Uncle. Jika tidak cepat nanti terlambat. Hari ini aku nebeng mobil Uncle ya? Mobilku belum ada," imbuh Sabrina.
"Kau memiliki mobil?" tanya William.
"Tentu! Tapi aku tidak mungkin mengemudikannya. Darren yang akan mengemudi. Aku mana mungkin diberikan izin sama papa. Boleh kan, Uncle? Hanya hari ini saja. Besok-besok tidak lagi nebeng. Aku tahu Uncle akan keberatan," sahut Sabrina.
Mendadak hati William tersentil. "Boleh. Kenapa tidak boleh?" William merutuki kata-kata yang ia lontarkan.
"Biasanya kan, Uncle selalu menolak." Sabrina mengendikkan bahunya.
"Kenapa kau memakai mobil? Bukankah kau selalu memakai sepeda motormu?" kali ini Artur bersuara.
"Bukankah sebentar lagi kita akan keluar dari sekolah SMA? Kita akan ke kampus, bukan? Tidak mungkin aku selamanya memakai sepeda motor. Toh, papa sudah menyiapkan orang untuk menjagaku. Aku juga harus memberinya sedikit kesulitan dong. Masa hanya berdiam diri saja. Lagipula, Uncle sudah memberikan tumpangan padaku. Terima kasih ya, Uncle. Tapi kenapa kau seperti tidak suka, Artur?" bidik Sabrina.
"Ayah, kalau begitu aku juga ikut menumpang di mobil Ayah," pinta Artur. Tatapannya tak beralih dari wajah Sabrina.
"Tidak! Kau tidak boleh ikut menumpang. Mobil sudah penuh!" bentak Sabrina.
__ADS_1
"Hei, apa katamu? Mobil penuh? Dari mananya?" sungut Artur tidak terima.
"Di depan kan sudah ada Tuan Ryu. Di belakang aku dan Uncle William. Jadi benar kan mobil sudah penuh? Uncle, kau sudah berjanji untuk memberiku tumpangan loh." Sabrina memainkan kedua alisnya. Membuat William tersentak. Tetapi pada akhirnya pria itu mengukir senyuman.
"Sabrina tidak berubah. Dia seperti masih menginginkanku. Tapi, jelas sekali jika Sabrina kemarin seperti bersikap berbeda. Atau hanya aku saja yang terlalu baper? Tapi, ini bukan cemburu kan?" William membatin resah.
"Iya," jawab William singkat. Lalu pandangan William beralih pada Artur. "Cepat habiskan sarapanmu. Hari ini Sabrina berangkat bersama ayah. Sepeda motormu juga sudah ayah kembalikan. Jadi tidak ada alasan untuk merengek," lanjut William.
"Sial*n! Sabrina masih belum berubah juga. Dia malah semakin mengesalkan! Lihat saja, aku tidak akan tinggal diam. Keluarganya saja semua sombong-sombong. Bahkan dengan teganya mengancam ayahku." Artur membatin dengan kedua tangan yang terkepal.
Pada akhirnya Sabrina dan William berangkat bersama dengan menggunakan satu mobil. Sedangkan Artur dengan perasaan dongkol ia mengendarai sepeda motornya ke sekolah.
"Uncle, sepertinya Artur sedang kesal." Sabrina memecah kebisuan. Tapi apa yang dikatakan oleh Sabrina ada benarnya juga.
"Mungkin karena aku menolak permintaannya." William melirik Sabrina yang masih asyik memainkan ponsel. "Ngomong-ngomong, kau liburan kemana?" tanya William dengan hati-hati.
Pertanyaan itu membuat Sabrina menoleh ke arah William. Gadis itu malah tersenyum semakin membuat William salah tingkah. William pura-pura fokus pada jalanan yang ada di luar jendela.
__ADS_1
"Aku ke Bali, Uncle," jawab Sabrina.
William menoleh. "Bali? Jelas-jelas Ryu waktu itu melacak penerbangan ke Bali, yang ada malah nihil. Ada apa dengan Sabrina?" William membatin gelisah.