Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 146


__ADS_3

Suara gebrakan meja itu terdengar cukup nyaring. Siapa lagi jika bukan Ardan Wijaya. Laki-laki itu dengan nafas tersengalnya mengamati satu-persatu bawahannya. Emosi memuncak ketika pertanyaannya kembali tak mendapat jawaban.


"Apa yang kalian lakukan?! Kenapa bisa sampai kecolongan seperti ini?!" teriakan Ardan menggema di ruangan itu.


Keempat orang itu menundukkan kepalanya. Ya benar, mereka adalah Zack, Lita, Jesslyn, dan Kaisar. Padahal sangat jelas mereka tengah melaksanakan sebuah misi. Dan sekarang mereka disalahkan? Ah sudahlah. Inilah resiko menjadi seorang bawahan.


"Dan kalian bilang bahwa mobil itu bahkan tidak ada plat nomornya? Bagaimana bisa?! Seharusnya saat ini kita bisa pergi menyerang tapi karena kecerobohan kalian semua kita malah harus kacau begini !!" suara barang bergesekan kembali terdengar kali ini sebuah kursi yang ditendang oleh Ardan.


"Segera cari tau dimana lokasi Smith menyandra Rianna !! Aku tidak mau tau !! Kerahkan semua anak buah kalian !!" sebagai penutupan Ardan kembali meninju sebuah meja hingga menyebabkan tangannya berdarah. "Pergi kalian !!"


Keempat orang itu segera menundukkan kepalanya. Kemudian segera melesat pergi meninggalkan ruangan Ardan. Ardan kembali menjatuhkan bokongnya dikursi kebesaran miliknya. Memijat pelipisnya. Rasanya kepalanya mau pecah.

__ADS_1


"Aku akan membawa anak buahku ikut serta. Atau setidaknya ikut penyerangan dan pencarian Rianna," Agnes membuka pembicaraan dikala hening menerpa.


"Lakukan apapun !! Temukan Rianna secepat mungkin," lirih Ardan. Kenapa jadi begini? Kami hanya lengah sebentar dan mereka dengan cepat membawa Rianna pergi. Hah... paman ternyata paman mengintai rumahku dua puluh empat jam rupanya. Mungkin saja jika yang di posisi Rianna itu adalah Ani, istriku. Entah bagaimana aku jadinya. Mengingat dia adalah orang yang paling aku cintai. Hidupku saat ini beserta buah cinta kami berdua. Sudah pasti aku akan hancur. Rianna, tolong bertahan sebentar lagi.


Ardan mengusap wajahnya kasar. Terlihat di depannya sahabatnya yang menemaninya dengan sabar. Terlebih Agnes. Ini bukan masalahnya tapi gadis itu setia menemani istrinya dan khawatir dengan Rianna.


"Agnes, terima kasih karena telah mendampingi istriku selama ini. Dan telah bersikap baik kepada Rianna. Aku berharap setelah ini Rianna tidak akan kambuh lagi,"


"Aku akan menemanimu," ucapan Dion tak digubris oleh Agnes gadis itu lebih memilih diam tak menjawab namun gadis itu melangkahkan kakinya berlalu meninggalkan ruangan Ardan. Meski begitu Dion tetap mengikuti istrinya dari belakang.


"Kalau saja aku sehat Kevin. Aku pasti akan turun tangan sendiri. Sudah bisa kupastikan saat ini bisa menemukan Rianna. Tapi kenapa aku malah seperti ini? Aku tak menyangka jika istriku hamil dan aku yang akan menanggungnya. Kepalaku masih pusing,"

__ADS_1


"Sabar Ardan. Sebentar lagi pasti kita akan menemukan Rianna. Haris sedang mencoba melacak GPS yang terdapat diponsel Rianna. Semoga saja kita bisa cepat menemukan Rianna,"


"Ya semoga saja,"


💞💞💞


"Cih....kenapa mereka terlihat anteng-anteng saja?"


"Sudah aku bilang sayang. Gadis itu hanya adik angkat saja. Makanya mereka tak memperdulikannya. Kan aku udah bilang culik istrinya. Itu kelemahan terbesar Ardan Wijaya saat ini," Intan meraba dada bidang milik Smith yang saat ini tengah bertelanjang dada. Seperti biasa setelah pergulatan panas itu maka Intan pasti akan bermanja kepada Smith. Mencoba untuk memainkan perannya. Untuk balas dendam kepada sahabatnya.


💞💞💞

__ADS_1


Mau lanjut lagi? Like dan komen serta vote karena kalau author mau bakalan update sampai besok pagi hahahaha. Makanya beri author like comen dan vote. Kalau kalian rajin besok author tamatin 🤣🤣🤣 tenang author update dan nulis smpek pagi


__ADS_2