
"Bibi Rosi sedang apa?" tanya Sabrina.
Artur menyusul di belakang gadis itu. Keduanya baru saja pulang dari kampus. Merasa dipanggil, Bibi Rosi menoleh. Wanita paruh baya itu tersenyum.
"Ini, Nona. Saya sedang mencari serai," jawab Bibi Rosi.
"Serai?" Sabrina melongokkan kepala. "Apa empon-empon ini Bibi Rosi yang menanamnya?"
"Nona Sabrina tahu empon-empon?" dahi Bibi Rosi berkerut heran.
Sabrina mengangguk antusias. "Tahu. Dari Oma Ani. Kan yang sering ngajakin masak Oma. Karena sudah sepuh, Oma Ani punya lahan sempit di samping mansion. Jadi, ya kesibukannya berkebun. Karena Sabrina sering main ke sana, akhirnya tahu semua jenis bumbu masak deh."
"Wah, oma Nona Sabrina keren. Sudah jadi orang kaya saja, masih mau berkebun?" Bibi Rosi melebarkan kedua matanya seolah tak percaya.
"Iya! Oma Ani hebat. Selain berkebun, dia punya kolam ikan. Banyak juga jenisnya. Jadi kalau ingin makan ikan, tinggal nyari di kolam. Maklum saja, opa dan oma hanya diam di rumah." Sabrina mengukir senyuman sendu.
"Keluargamu benar-benar luar biasa," gumam Artur. Pria itu melangkahkan kakinya memasuki rumah.
"Oh iya, Bi. Tuan sudah pulang belum?" tanya Sabrina.
"Tuan belum pulang, Nona. Ada apa?" balas Bibi Rosi.
"Tidak apa-apa. Sabrina masuk ke dalam dulu ya, Bi. Menu untuk makan malam nanti apa, Bi?" Sabrina kembali memutar tubuhnya menghadap Bibi Rosi.
__ADS_1
"Mau masak rendang, Nona. Tadi Tuan William sudah berpesan sebelum berangkat kerja. Ada apa, Nona? Apa Nona Sabrina ingin bibi masakkan yang lain?" Kini Bibi Rosi justru balik bertanya.
Sabrina menggelengkan kepala perlahan. Gadis itu berjalan masuk ke dalam rumah. Ia terus berjalan menuju kamarnya bersama William. Sabrina harus bergerak cepat. Mengingat ia sudah mengantongi beberapa informasi penting.
"Aku harus bergerak cepat. Sebelum mereka bergerak terlebih dahulu. Pertama-tama, aku harus bersiap untuk ke markas. Memberikan informasi, jika keadaan telah beralih ke siaga. Seharusnya memang mendatangi markas. Akan tetapi, membawa Uncle William itu tidak mungkin. Jadi lebih baik, aku menggerakkan Ben saja sebagai pengantar pesanku," kata Sabrina dalam hati.
Gadis itu mengambil laptopnya. Kemudian memberikan email berisikan pesan di dalamnya. Tentu saja memberikan perintah untuk siaga. Ini akan menjadi awal dari pergerakan pertama dua geng mafia yang telah bersatu. Sudah lama para pasukan telah tertidur. Sudah saatnya bangun dan memberikan tanda bahwa mereka adalah legenda.
"Jika saja, aku tak memiliki perjanjian konyol dengan Uncle William, aku pasti masih bisa bergerak bebas. Sayangnya, musuh bergerak di saat hubunganku dan Uncle William mulai membaik. Sudahlah. Aku tidak usah berpikir macam-macam. Lebih baik aku menjalaninya saja," gumam Sabrina.
Ting.
Sebuah pesan masuk ke dalam jam tangannya. Gadis itu segera memencet tombol yang ada di sana. Sabrina memicingkan kedua matanya. Sebuah isyarat rahasia masuk ke jam tangan yang sudah ia desain sedemikian rupa.
Ia berlari menuju kamar miliknya yang lama. Segera menyalakan komputer berlayar tabung itu. Memainkan jarinya di atas keyboard. Sesekali ia menggigit ujung kuku jarinya.
"Brengs*k! Berani bermain denganku?" Sabrina mengumpat berulang kali.
Suara gaduh itu mengusik Artur yang berada tak jauh dari kamar lama milik Sabrina. Pria muda itu menyipitkan kedua matanya. Mendapati pintu kamar lama terbuka. Terlebih, Artur menangkap suara seseorang sesekali mengumpat keras.
"Sabrina? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Artur.
Sabrina tak langsung menjawab. Ia masih sibuk berkutat dengan komputernya. Artur yang memahami Sabrina tengah dalam keadaan yang tegang, memilih tak bersuara lagi. Pria itu menatap layar monitor komputer Sabrina yang dipenuhi tulisan-tulisan asing.
__ADS_1
"Dia ini. Entah kenapa, aku selalu terkejut setiap dia bertindak," kata Artur dalam hati.
Cukup lama keduanya berada di kamar lama milik Sabrina. Artur seperti tak bosan menatap kesibukan Sabrina. Hingga tanpa keduanya sadari, William telah berdiri di ambang pintu.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Suara William terdengar tidak enak di telinga Artur.
"Aku sedang menunggu Sabrina. Dia seperti sedang memiliki masalah, Ayah," jawab Artur. Pria itu mencoba untuk tenang.
Jawaban dari Artur membuat William menautkan kedua alisnya. "Masalah?" tanyanya kemudian. Artur menjawabnya dengan sebuah anggukan.
Bip bip bip.
Sebuah suara aneh, membuat William dan Artur menoleh. Disusul dengan sebuah suara gebrakan meja. Sabrina bangkit lalu mendekati CPU PC komputer miliknya. Mencabut colokan kabel yang membuat layar monitor komputernya padam. Terlihat gadis itu menghembuskan napas lega.
"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya William.
Sabrina mengusap wajahnya dengan kasar. Gadis itu menganggukkan kepala. "Hem. Ada orang yang ingin membobol data perusahaan Xander Grup milikmu. Saat aku ingin menyerang balik dengan mencari data dirinya, dia menyerang komputerku menggunakan virus. Aku hanya bisa mencabut colokan kabel, daripada mereka tahu yang menyerang mereka balik adalah aku. Jika identitasku terkuak, bukan tidak mungkin si peneror sebelumnya akan melakukan hal yang lebih tak masuk akal lagi."
"Apa segawat itu?" desak William. Artur juga bangkit dari duduknya.
Sabrina mendesah. Mengangguk cepat sembari menyugar rambut dengan tangan. Wajah Artur dan William tampak berubah. Wajah keduanya diliputi kekalutan yang luar biasa. Tidak percaya jika Sabrina bahkan bisa sepanik ini. Jika Sabrina sepanik itu, bagaimana dengan mereka berdua? Pikiran rumit bergelayut di benak ayah dan anak itu.
"Ben!" teriakan Sabrina menggema di sudut kamar tersebut. Membuat William dan Artur bingung.
__ADS_1
Dari jendela, melompat seorang pria masuk ke dalam kamar tersebut. "Perintahku, malam ini aku akan bergerak! Siapkan para anak buahmu untuk menyambutku."