
"Akhirnya! Kalian semua datang! Mari masuk ke rumahku!" Lexi terlihat antusias sekali ketika Sabrina dan Artur menginjakkan kaki di rumah yang besar dn mewah milik Lexi. Artur dan Sabrina pun berjalan masuk ke dalam rumah Lexi. Pria itu senyum-senyum tak jelas saat bersimpangan jalan dengan Julia.
"Lex! Kenapa kau di situ? Aku tidak tahu di mana Justin dan Dixton berada." Sabrina berteriak membuat Lexi tergagap.
"Oh!" Pria itu sedikit berlari hingga tanpa sengaja menubruk tubuh Julia karena terburu dan salah tingkah. Kini tubuh Julia limbung lantaran Lexi menabraknya. Beruntung, Lexi cepat menangkap tubuh Julia. Keduanya pun beberapa saat saling beradu tatap.
"Ehem!" Artur yang berdehem membuat Lexi seketika tersadar. Segera melapaskan tubuh Julia. Gadis itu berdiri salah tingkah. Seumur hidupnya ia baru menghadapi situasi kikuk dan canggung hanya saat ini.
"Em, sebentar." Lexi tampak menunjuk salah satu ruangan. "Eh, salah!" Jari telunjuknya menunjuk arah lain. "Mereka ada di taman belakang. Ayo."
Meski bingung, Artur dan Sabrina mengekor di belakang Lexi. Mereka berdua melewati lorong yang terdapat pilar-pilar menjulang tinggi. Hingga keluar ruangan di mana sangat banyak sekali tanaman hias yang berjejer rapi dan memanjakan mata. Lalu sebuah lapangan dengan rumput hijau dan terlihat Dixton, Justin dan Aretha?
__ADS_1
"Aretha!" Sabrina berteriak memanggil Aretha. Dengan semringah Aretha berlari menuju Sabrina berada.
"Aku canggung sekali di sini. Nggak enak karena tiba-tiba Lexi mengundangku dan di sini ada Justin juga Dixton." Aretha berbisik agar tidak terdengar yang lainnya.
"Em, Sabrina kuharap kau tidak keberatan aku mengundang Aretha. Karena aku merasa dia orang yang kau hargai. Jadi, sebagai teman aku juga mengundang Aretha karena menghargainya." Lexi membeberkan alasan mengundang Aretha sebelum Sabrina sempat bertanya.
"Benar, Aretha sahabatku. Terima kasih karena telah mengundangnya. Restoran apa yang kau beli?" tanya Sabrina.
"Restoran apa? Tidak besar kok. Mereka menyediakan steak dengan harga murah. Lalu ada juga makanan yang lainnya. Kebab, bakso, lalu kopi kenangan. Yah, kupikir daripada uangku kubuang percuma kan? Kau membuka mataku, Sabrina." Lexi berkata dengan wajah yang puas. Sepertinya ia bangga membeli restoran yang cukup merakyat.
"Kau berasal dari keluarga Wijaya tapi masih bisa memakai barang biasa, hidup biasa, dan memiliki teman yang tulus. Aku iri. Jujur, aku iri sekali. Dua temanku sebelumnya kau ingatkan?" Lexi berkata tentang pengkhianatan dua orang temannya yang sangat berbahaya.
__ADS_1
Sabrina menganggukkan kepala. Lexi pun melanjutkan kata-katanya, "Kau membuka mataku. Sekalipun dari keluarga kaya, mengapa aku membuang uangku menjadi tak berguna? Kau jauh di atasku, akan tetapi lihatlah. Kau bahkan sangat santai menjalani hidupmu. Jangan bodoh, karena aku juga dari keluarga kaya. Kita pasti sama-sama mendapatkan uang jajan yang tidak sedikit. Aku hanya belajar darimu. Ah tidak. Jujur saja, aku malu. Kau seolah menamparku dengan keadaanmu. Jadi, bolehkah aku menjadi sahabat kalian juga?"
Sabrina terdiam. Sepertinya karena kehamilan ia menjadi tidak fokus. Sabrina yakin jika Lexi menyelidikinya. Ia pun melirik pergelangan tangan. Ah, bahkan Sabrina melupakan jam tangannya. Saat ia menghancurkan Anggi pun ia menggunakan laptop milik William.
"Hei, Lexi! Kau bilang apa? Kami bahkan sudah menganggapmu sahabat sejak lama! Kenapa kau baru menganggap kami sahabatmu?" Dixton merangkul pundak Lexi.
"Benar. Kata-katamu sok puitis membuatku merinding!" Tubuh Justin menggeliat seolah benar-benar jijik.
"Ah, steak!" Sabrina menjerit ketika mendapati steak yang menggiurkan tengah dipanggang seorang chef.
Air liur Sabrina menetes. Ia pun mendekati chef yang sepertinya memiliki dedikasi tinggi. Sabrina melirik ke arah Lexi yang tengah bercanda dengan Justin dan Dixton. Sedangkan Artur berbicara dengan Aretha. Entah apa yang mereka bicarakan Sabrina tak ingin ikut campur.
__ADS_1
"Dasar, Lexi. Sok-sok an memiliki restoran harga kantong merakyat. Lah, dia saja mempekerjakan chef yang pastinya merogoh uang yang tidak sedikit. Aku yakin, jika dia hanya bersikap sok keren tanpa tahu ilmu. Dasar, untungnya berapa kalau begitu? Hmm, sahabat? Sepertinya dia hanya bocah nakal yang tidak jauh berbeda dengan Artur. Sikapnya bisa cepat berubah-ubah. Jika pada dasarnya dia keras kepala dan angkuh, itu akan berbeda lantaran sulit untuk membuatnya sedikit menghargai orang." Sabrina membatin seraya menggelengkan kepala. Lalu beralih mengambil piring dan mengabaikan sahabatnya yang lain.
"Perut lebih utama. Berikan aku tiga potong steak, Chef!" Mendengar kata-kata Sabrina, mata chef itu membulat.