
Steward memejamkan kedua mata. Lelah rasanya jika disudutkan begini. Pantas saja dia merasa ada yang ganjil ketika dua algojo sang papa ada di rumah kecil Sabrina. Ditambah aunty Lady Alana juga ada di sana.
"Oke." Tak lagi membantah. Steward pasrah.
Lady Alana tersenyum. Wajah yang tadinya datar, kini melunak. Wanita itu lalu menjatuhkan tubuh di sofa. Tepat di samping Elena mendudukkan bokongnya.
"Jadi? Bisa kita bahas perjodohan yang pernah kita bahas?" Pertanyaan dari Lady Alana membuat Steward mengerutkan kening.
"Apakah masih ada yang akan dijodohkan lagi? Siapa? Aku rasa Kezio dan Amelia masih kecil." Steward mendahului Elena yang baru akan membuka mulutnya.
"Artur. Perjodohan kali ini tentang Artur dan Aretha Rosseanne Harrison Winata." Rendy mengambil alih pembicaraan.
Artur mengerjapkan kedua mata. Remaja itu luruh di sofa tepat di samping Sabrina. Meski syok, Artur membuka suara. "Aretha? Apakah maksudnya Aretha teman kami di kampus?"
__ADS_1
"Benar. Tidak ada bantahan, karena setelah kamu menikah dengan Aretha aku akan memberikanmu rumah dan mobil. Itu kuberikan untuk modal rumah tangga kalian berdua. Kurasa tidak salah dengan adanya perjodohan ini. Lihat Sabrina dan William. Mereka bisa hidup romantis bukan?" Rendy menunjuk Sabrina dan William yang tak malu mengumbar kemesraan.
"Aku rasa tidak masalah dengan perjodohan ini. Lagipula, Artur dan Aretha kupikir cocok. Kita akan memiliki keluarga besar dengan kekuasaan yang mengakar kuat." Rendy tersenyum bangga. Akan tetapi berbeda dengan Sabrina. Wajah wanita itu tidak bisa ditebak.
"Aku tidak setuju," celetuk Sabrina.
Semua orang menoleh ke arah Sabrina. Wajahnya yang pucat tanpa senyuman itu mulai menampakkan wajah tidak bersahabat. Artur mengerjapkan mata tatkala mendapati pembelaan dari Sabrina. Sejujurnya, ia ingin menolak perjodohan ini. Akan tetapi, apakah ia bisa menolak perjodohan itu? Sedangkan dari kata-kata sang opa tiri ia bisa menyimpulkan perjodohan ini terkait dua keluarga besar. Wijaya dan Winata.
"Biarkan Artur memilih pasangannya sendiri. Usianya juga sepantaran denganku. Artur adalah seorang laki-laki. Jika dia menikah, dia akan menjadi seorang pemimpin nantinya. Dia begitu muda, takutnya perjodohan itu tidak berhasil. Aku takut jika Aretha, sahabatku akan menderita nantinya setelah melepas status istri." Sabrina mengeluarkan unek-uneknya.
Sebenarnya ia bahagia dengan perjodohan ini. Sahabatnya akan menjadi anaknya juga. Hubungannya dengan Aretha bisa lebih erat lagi. Akan tetapi Sabrina takut dengan kemungkinan terburuknya. Mengingat sikap Artur yang tempramental dan sikap lemah Aretha rasanya itu bagaikan mimpi buruk Sabrina jika perjodohan itu tidak berhasil. Karakter keduanya sangat berbanding terbalik.
"Kami sudah membicarakan hal ini sebelumnya. Dua keluarga sudah saling berbicara. Hanya dua anak yang bersangkutan belum mengetahui hal ini. Mereka akan melakukan pendekatan selama enam bulan. Jika cocok bisa dilanjutkan. Akan tetapi jika tidak, kembali lagi kepada dua orang yang akan menjalani hubungan." Rendy menegaskan.
__ADS_1
"Kalau begitu itu juga berlaku untukku?" tanya Steward.
Melihat binar kedua mata Steward, wajah Rendy tidak enak. "Untukmu mutlak. Tidak ada penolakan atau negosiasi apapun. Artur?"
Artur terdiam. Aretha? Sebenarnya Artur tidak masalah dijodohkan dengan Aretha. Gadis itu tak terlalu buruk di matanya. Tingkahnya yang sopan mencerminkan jika dia gadis baik. Wajahnya cukup lumayan di mata Artur. Sekalipun berubah dan memiliki kehidupan yang lebih baik, nyatanya Aretha tetap menjadi gadis biasa.
"Aku tidak menolak dijodohkan dengan Aretha. Akan tetapi, seperti yang dikatakan oleh Sabrina. Perjodohan ini terlalu dini. Usiaku saja baru menginjak dua puluh tahun dan sekarang dihadapkan dengan pernikahan. Rasanya menjadi orang kaya menyebalkan juga ternyata. Tak bisa memilih jalan hidup sendiri. Aku menyesal dulu menyalahkan Sabrina yang kupikir mendesak keluarganya untuk menikahi ayah." Artur membatin.
"Artur?" Kali ini Elena tampak tak sabar.
Artur menarik napas dan menghembuskannya perlahan. "Artur pikir, tidak ada salahnya dicoba."
Jawaban Artur membuat Lady Alana dan Elena saling memeluk. Sedangkan Rendy mengulas sebuah senyuman tipis.
__ADS_1