Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
Season 2. Gempa di Ranjang.


__ADS_3

Rendy mengeratkan pelukannya pada tubuh Elena. Keduanya sama-sama bergelung dibawah selimut dengan tubuh yang polos. Elena mendongakkan kepalanya. Menatap wajah tampan yang kini tengah memeluknya. Hangat. Semenjak dirinya kehilangan orangtuanya, dia tak pernah lagi mendapat pelukan yang membuatnya merasakan aman dan nyaman. Bahkan Elena tak berhenti untuk memandang wajah tampan yang biasanya selalu terlihat galak itu.


Cih! Jika dia tidak galak, pasti akan menjadi laki-laki yang sempurna di mataku. Lihatlah tadi sebelum dia melompat ke ranjang. Bagaimana dia memarahiku habis-habisan. Dasar laki-laki dikasih ikan asin pasti sikapnya lembut. Badanku sakit semua.


"Elena?"


"Hmmm."


"Apa keinginanmu cukup besar untuk balas dendam?" tanya Rendy.


"Tentu saja. Aku tidak akan pernah berhenti sebelum aku balas dendam." Kenapa Paman?" Sekali lagi Elena mendongakkan kepalanya. Menatap wajah Rendy yang juga sedang menatapnya.

__ADS_1


"Apa kau tidak ingin hidup dengan tenang?"


"Hidup tenang? Setelah balas dendam mungkin aku akan mencoba hidup tenang. Aku juga akan bekerja dan mencoba mengumpulkan uang agar bisa melanjutkan hidup. Lalu menikah dengan orang yang aku cintai," ucap Elena tanpa menyadari raut wajah Rendy yang telah berubah.


Rendy bergerak mencium bibir Elena. Gadis itu terkesiap kaget saat Rendy mulai bermain dengan dua buah gunung miliknya yang kini menjadi bagian favorit Rendy. Kembali lagi ranjang itu bergoyang mengikuti irama percintaan panas kedua muda mudi yang dimabukkan oleh surga dunia. Tanpa banyak kata namun saling menginginkan satu sama lain. Saling mendamba untuk sama-sama merasakan nikmat dunia yang baru saja mereka berdua rasakan.


Hingga keduanya sama-sama mencapai puncak nikmat surga duniawi. Rendy memandang wajah Elena yang nampak sudah kelelahan meladeni kebuasannya. Sungguh, hal yang tak pernah ada di pikiran Rendy. Namun saat ini, lihatlah gadis kecilnya dulu bahkan berada di bawah kungkungannya. Lelaki itupun mendaratkan bibirnya di kening Elena. Kemudian kembali membaringkan tubuhnya disamping Elena.


"Pa-paman. Aku mau bersih-bersih dulu." Elenapun bangkit dari posisinya. Saat hendak menginjakkan kakinya di lantai, tiba-tiba Elenapun mengambang diudara. Seketika gadis itu mengeratkan pegangannya dengan melingkarkan tangannya di leher Rendy.


Selang 1 jam kemudian mereka berdua keluar dengan jubah handuk. Mandi? Elena mendengus kesal. Pasalnya bukan hanya mandi. Tapi lagi-lagi Rendy mengatakan, ayo coba suasana baru. Tanpa permisi lelaki itu bahkan kembali menyerangnya.

__ADS_1


"Elena?"


"Diam kau! Kau mau buat aku tidak bisa jalan ha? Kau kau huh! Lebih baik aku kembali ke kamarku."


"Jangan! Malam ini saja kau tidur disini. Ya ya tidur disini. Lihat ini sudah jam 3 pagi."


Mendengar perkataan Rendy, sontak saja kedua mata Elena melirik jarum jam yang terpajang di dinding. Kedua matanya membulat saat mengetahui jam kini menunjukkan pukul 3 pagi lebih 5 menit. Seketika Elena langsung mengarahkan tatapan tajamnya pada Rendy.


"Pamaaan!"


***

__ADS_1


Di lantai bawah Kei sudah bersiap. Bahkan lelaki itu mulai gelisah. Tidak biasanya Rendy terlambat. Bukankah selama ini Rendy selalu on time? Apa dia sedang sakit? Sehingga dia tidak segera turun. Kei melangkahkan kakinya menaiki tangga. Baru saja separuh perjalanan, Kei kembali turun ke bawah lagi. Ragu, kemarin Rendy sudah mengingatkan jika dirinya akan bersama Elena satu malam. Itu artinya mereka berdua pasti sedang bersana saat ini. Tetapi mengingat hari ini ada meeting penting, dirinya kembali harus secepatnya mengingatkan Rendy. Kei kemudian melirik jam tangan miliknya. Ini sudah jam setengah 9. Bagaimana ini?


Dibalik Kei yang sedang gelisah, di lantai atas ada dua orang muda mudi yang lagi-lagi sedang berolahraga. Gempa seakan tiada hentinya mengamuk di ranjang mereka. Tiada lelah, dan melupakan seseorang di bawah yang sedang gelisah. Yang ada hanya dua orang muda mudi yang sedang dimabuk cinta.


__ADS_2