
Mari ki**ta dapatkan satu pemenang buku Kapten Rojali, I Love You. Selamat kepada kakak, silahkan japri di nomor yang tertera di banner novel yang dimenangkan. saya tunggu ya. kirim alamat lengkap, nama penerima dan nomor yang bisa dihubungi**.
Sabrina bergetar di tempatnya. William menelisik wajah Sabrina. Dahi pria itu berkerut. Kemarin malam ketika gadis itu menantang maut, wajahnya sangat biasa. Lalu mengapa sekarang wajah Sabrina bisa memucat seperti itu? Batin William meragu.
"Wajahmu kenapa kaget begitu?" Pertanyaan William menyentak Sabrina.
"Em, Uncle baru pulang? Uncle tidak ingin makan malam terlebih dahulu?" Sabrina berjalan menuju pintu.
"Kau mau kemana? Bukankah aku belum selesai berbicara?" tanya William penuh penekanan.
Sabrina membalikkan badan. "Aku siapkan makan malam terlebih dahulu. Uncle mandilah dulu."
"Berhenti di sana!" seru William.
Lagi, Sabrina menghentikan langkah kaki seketika. Tubuhnya membeku di tempat. Napas Sabrina memburu. William berjalan mendekati Sabrina.
"Kenapa kau menghindariku?" Suara bariton itu terdengar tepat di telinga Sabrina.
__ADS_1
"Ya Tuhan. Tamat sudah aku. Pasti Uncle William akan menendangku dari sini. Siapa yang mau memiliki istri sepertiku?" batin Sabrina gelisah.
Kini William berdiri tepat di belakang Sabrina. Harum tubuh Sabrina menyeruak di hidung William. Tubuh Sabrina yang membeku, begitu pula dengan William yang merasa kelelakiannya ditantang oleh harum ranum tubuh Sabrina. Pria itu mengambil napas dalam-dalam.
"Hai, Gayatri," bisik William di telinga Sabrina.
Gadis itu mengerjapkan kedua mata. "Gayatri? Siapa?" Sabrina membatin. Ia gelisah. Mengapa William harus menyebut nama gadis lain? Kedua mata Sabrina berkaca-kaca.
"Panggil aku, Remo. Ketika di jalan kegelapan, kau boleh memanggilku Remo. Begitu pula denganmu. Aku akan memanggilmu Gayatri. Nama itu, diberikan oleh Queen. Kurasa, sekarang aku benar-benar menantu keluarga Wijaya bukan?" William mengacak rambut Sabrina yang digerai.
Sontak saja, Sabrina membalikkan tubuh. Menatap William dengan raut wajah bingung. Pria itu justru menahan tawa. Hingga meledaklah tawa itu. Membuat Sabrina semakin menyipitkan mata.
"Sudah, ayo kita makan. Hei, kenapa wajahmu begitu? Jangan membuat perutku sakit. Wajahmu tidak pantas kebingungan begitu. Kau kan si otak di atas rata-rata. Kau tidak mungkin lupa dengan nama Queen bukan? Dia ada di bawah," ungkap William.
"Mama!" pekik Sabrina.
Elena tersenyum. "Hai, Gayatri."
"Gayatri?" tanya Sabrina bingung.
"Lihat belakangmu," pinta Elena.
__ADS_1
Sabrina membalik tubuh. Gadis itu terlonjak kaget. William … Menunjukkan sebuah lencana, di mana barang yang bisa menggerakkan pasukan The Queen maupun Dark Knight. Sabrina menatap sang mama kembali.
"Apa maksudnya ini?" Sabrina masih saja bingung. Tetapi, sekarang ia menjadi was-was. Imbuh Sabrina, "Apa dia sudah bergabung dengan dunia kita?" Sabrina menekankan dunia kita.
"Menurutmu? Apa sembarang orang yang bisa memegang lencana itu?" balas Elena. Wanita itu menyesap teh yang telah disuguhkan. Santai, dan mengukir senyuman seolah menikmatinya.
"Ma! Ini berbahaya! Kenapa Mama melibatkannya?" Kedua mata Sabrina menunjukkan kilatan amarah.
"Memangnya kenapa? Bukankah dia suamimu?" tanya Elena heran.
"Ini menyangkut nyawa, Ma! Kita sedang tidak tahu, seperti apa musuh kita. Kenapa Mama justru menyeret orang biasa?" Pertanyaan dari Sabrina meluluhlantakkan hati William.
William berfikir, jika ia bisa sedikit lebih dekat dengan Sabrina. Tapi kenyatannya, Sabrina justru marah ketika ia sudah selangkah lebih dekat.
"Aku telah mengambil resiko ini. Tapi, mengapa kau seolah tidak suka dengan jalan yang aku pilih?" tanya William.
Sabrina menoleh ke arah William. Gadis itu menggelengkan kepala. "Bukan begitu. Kau mengikuti jalan kami, itu berarti kau siap menggadaikan nyawamu. Mengertilah, okay? Kau akan kehilangan kehidupanmu yang biasa itu."
"Jadi, maksudmu aku harus terus berdiam diri begitu? Sedangkan aku tahu, nyawaku dan anakku dalam bahaya? Lalu aku terus menjadi orang tak berguna begitu?" William mengintimidasi.
Hening melenggang beberapa saat. Akan tetapi, Sabrina tak sengaja menatap sosok Artur berada tak jauh dari mereka. Selesai sudah. Jati dirinya benar-benar telah terbongkar. Ia tak lagi bisa menyembunyikan identitasnya sebagai anggota mafia.
__ADS_1
"Artur?" Suara William menginterupsi.
"Aku mendengar semua. Apa kalian juga akan merahasiakan ini dariku?" tanya Artur.