Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 396. Malam Panjang.


__ADS_3

Sabrina dan dua orang anak buahnya menyusuri setiap ruangan yang ada di panti asuhan. Sabrina ingin melihat setiap inci di ruangan lokasi kejadian. Ia harus mengingatnya dengan cepat. Lalu mengakhiri penelusurannya malam ini. Sabrina menerbangkan drone mungil yang terdapat kamera pengintai. Mengintai perlahan setiap sudut. Lalu Sabrina akan mempelajarinya di rumah. Dari hal yang terkecil, Sabrina memastikan tidak akan melewatkannya.


Setelah dirasa cukup, Sabrina melangkahkan kakinya menuju kamar bekas Aretha. Ia harus mencari satu petunjuk sekecil apapun. Sabrina menghentikan langkah kaki. Lalu mengedarkan pandangan di setiap sudut kamar sempit itu. Tanpa sengaja, mata Sabrina mengarah pada buku yang mirip diary. Sabrina yang sudah memakai sarung tangan, perlahan menjangkau buku diary teraebut.


Terlihat tulisan tangan Aretha yang begitu rapi. Dalam tulisan yang Aretha torehkan di kertas itu, Sabrina menarik kesimpulan Aretha adalah pribadi yang tertutup. Ingatan Sabrina melayang pada pertemuan pertamanya dengan Aretha. Gadis yang selalu menundukkan kepala dan berbicara dengan terbata-bata. Sangat berbeda dengan tadi siang.


"Buku diary biasa rupanya. Tidak ada yang istimewa," gumam Sabrina.


Saat tangan Sabrina menyentuh kertas halaman terakhir, dahinya mengerut. Ia merasa aneh. Di kertas itu, sedikit lebih tebal dari kertas yang lainnya. Sabrina membandingkannya dengan kertas di halaman sebelumnya. Dugaannya memang tidak salah.


Pelan-pelan, Sabrina merobek kertas yang seolah memiliki rahasia tersebut. Ada 3 lembar kertas yang aneh. Kemudian ia menyimpannya di dalam tas. Setelah dirasa telah habis kertas aneh itu, Sabrina menutup kembali buku diary Aretha.


Gadis itu kembali menelisik setiap sudut tersembunyi kamar Aretha. Tak menemukan apapun, Sabrina menyerah. Ia berjalan keluar dari kamar Aretha. Sebelum benar-benar pergi, Sabrina menyipitkan kedua mata dan menajamlan penglihatannya. Mata tajam Sabrina mengarah pada rak sepatu yang terletak di dapur. Gadis itu mendekati ke rak sepatu. Di sana , terdapat banyak sepatu. Hanya saja kedua mata Sabrina menangkap sesuatu yang mencolok di matanya.

__ADS_1


"Sepatu booth? Hells terletak di dalamnya? Itu akan membuat orang yang memakainya terlihat tinggi asli. Sepatu ini milik siapa? Lalu untuk apa ia memakainya? Bukankah ini panti asuhan? Mengapa mereka memiliki sepatu model seperti itu?" Sabrina terus saja membatin penasaran.


Ia mengambil ponselnya dan memotret bentuk sepatu aneh tersebut dari segala sisi. Sabrina akan menelusurinya saat di rumah nanti. Dirasa cukup, Sabrina mengisyaratkan Julia dan Mu untuk bergegas pergi meninggalkan panti asuhan itu.


Pagi harinya, ia bersikap seperti biasa. Sabrina belum sempat menyelidiki apa yang ia temukan semalam. Ia tak ingin gegabah. Sabrina menyiapkan segala keperluan William untuk bekerja nanti. Itu sudah menjadi kesepakatan bersama setelah keduanya mengutarakan keseriusan dalam rumah tangga ini.


"Artur, kudengar kau hari ini ada jadwal dengan Paman Danar?" pancing Sabrina ketika ia dan Artur baru saja sampai di kampus.


"Benar. Kenapa?" tanya Artur. Ia telah selesai memarkir sepeda motornya. Lalu berjalan di samping Sabrina.


"Ck! Sebenarnya aku tidak ingin pergi. Jujur, orang-orangmu menyeramkan sekali. Tapi, karena papamu yang memintaku untuk berlatih aku terpaksa menurutinya. Apa yang dia katakan benar adanya," timpal Artur.


"Oh, Aretha!" seru Sabrina dengan riang. Gadis itu melambaikan tangannya. Hingga membuat Aretha beerjalan cepat ke arahnya. "Syukurlah, kau sudah masuk kembali."

__ADS_1


Aretha tersenyum kikuk. "Iya, Sabrina. Aku ingin mencari udara segar. Setidaknya untuk menguatkan hatiku. Karena ada adik-adikku yang membutuhkan aku," lirih Aretha.


Sabrina menghela napas. Lalu menyodorkan tas plastik kecil yang tadi ia beli bersama Artur. "Nih."


"A-apa ini, Sabrina?" Aretha tampak tergagap.


"Ini ponsel. Pakailah. Tolong hargai pemberianku kalau kau menganggapku sebagai teman ya. Ini juga agar memudahkan kita untuk membahas tugas wawancara besok. Tidak mungkin kan, kita membahas tugas dengan ponsel yang tidak ada gambarnya itu? Ini demi kebaikan kita bersama, Aretha. Terima ya?" Sabrina mengukir senyuman lebar.


Aretha tampak ragu. Ia menatap tajam Sabrina seolah mencari kebenaran di kedua mata Sabrina. Nihil. Aretha tak menemukan kebohongan apapun dari Sabrina. Ia mengukir senyum.


"Baiklah, Sabrina. A-aku terima ya. Terima kasih, Sabrina. Jadi, aku masih diperbolehkan untuk bergabung di kelompokmu?" tanya Aretha.


Sabrina mengangguk cepat. "Tentu saja. Aku sudah berjanji padamu kan? Jika Dixton dan Justin bersikap tidak baik, katakan saja padaku. Aku akan menghukum mereka nanti. Beraninya mereka mengganggu temanku!"

__ADS_1


Aretha tersenyum. "Terima kasih. Kau baik sekali."


"Ambil ponselnya. Biarkan aku menyadapmu Aretha!" batin Sabrina.


__ADS_2