
"Enggak kok mas aku hanya takut nanti dia sakit."
"Nanti kalau kamu bawa Rendy biar di jaga mami saja. Toh mami juga pengen banget punya cucu. Sekarang sudah ada Rendy bagaimanapun Rendy sekarang cucu mami juga. Aku yakin mami pasti bahagia."
"Iya mas."
"Tidurlah kamu pasti lelah. Tadi malam kamu banyak bangunnya."
"Yah meskipun berkali-kali terbangun tetap saja bahagia mas."
"Kalau akhir pekan aku tak sibuk aku akan mengantarmu kesini kembali."
"Yang bener mas? Aku boleh kesini lagi?" Matanya kini berbinar.
"Iya sayang. Apapun jika itu untuk kamu."
"Tapi mas mainan yang kamu belikan untuk Rendy kenapa banyak sekali kemarin?"
__ADS_1
"Yah sekali-sekali biar dia bahagia punya papa seperti aku." Ardan membanggakan dirinya sendiri. Kini mereka berada didalam mobil. Perjalanan pulang kembali ke kota J.
"Lain kali jangan seperti itu mas. Aku takut jika dia mendapatkan segalanya nanti dia besarnya akan terus seperti itu meminta semua keinginannya untuk dituruti."
"Iya mas tau makanya mas kasih dia mainan sebanyak itu. Setelahnya jika berkunjung tak kubelikan lagi kok. Aku hanya ingin dia merasakan apa yang dipunya untuk anak seusianya."
Deg . . Memang benar kata Ardan. Terlebih semenjak dia berpisah dari Johan. Rendy memang tak banyak memiliki mainan. Karna tentu saja terkendala ekonomi.
"Makasih mas udah ngertiin aku."
Malam semakin larut. Kini Ani berada di kamarnya. Selepas makan malam Ardan langsung menuju ruang kerjanya. Ada beberapa hal yang harus dia cek kembali untuk besok hari Senin. Karna besok dia akan meeting penting.
Saat Ardan tengah berkutat dengan pekerjaannya. Mari kita beralih kepada seorang istri yang tengah gelisah. Karna malam ini adalah malam pertama mereka. Dia mondar mandir didepan lemari berisi baju tidur. Baju tidur yang dipilih oleh mertuanya sendiri. Dia ragu untuk memakainya atau tidak.
Ah sudahlah biarpun seperti ikan asin yang menyiapkan diri untuk disantap kucing garong sekalipun. Tak apa toh sekarang mas Ardan sudah memberikan segala yang aku butuhkan. Sudahlah pakai saja terus nanti bersembunyi didalam selimut.
Ani menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Namun belum sempat selsai berganti baju tiba-tiba matanya terbelalak dijekutkan sesuatu. Ya ampun....
__ADS_1
Ceklek..... Ardan membuka pintu kamar. Dilihatnya istrinya tengah memainkan Polsel. Dia tersenyum mengingat apa yang akan terjadi nanti. Dirinya seakan tak sabar untuk menikmati buah dari kesabarannya hahaha.
Dikuncinya pintu kamar. Seakan tak ingin diganggu untuk malam ini. Kemudian berjalan menuju ketempat istrinya. Ani tersenyum menyambut kedatangan Ardan. Seolah-olah menantikan kehadirannya.
Diraihnya bibir istrinya tanpa permisi pada si empunya. Dia mencium dengan bersemangat. Gairahnya kian memuncak. Tangannya kemudian mere*** buah da** istrinya. Mata istrinya terbelalak. Mencoba menghentikan tangan nakal suaminya. Dilepasnya ciuman bibir bergairah itu.
"Maaf mas... aku kedatangan tamu."
"Apa?" Ardan membelalakkan matanya kaget.
"Aku gak tau mas tiba-tiba aku bulanan. Em...biasanya gak tanggal segini sih."
"Biasanya selesainya kapan?"
"Sekitar 7 hari baru bersih." Ani meringis.
"Sialan." Ardan mengacak rambutnya kasar setelahnya bangun dari tempatnya disambarnya handuk dan kemudian berlalu menuju kamar mandi.
__ADS_1