Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 167


__ADS_3

"Aku tidak punya ayah! Seumur hidupku aku hanya punya mama! Kau! Bajing**! Pergi dari sini!" kembali Rianna berteriak histeris. Ini sudah keempat kalinya Rianna berteriak histeris. Seakan tak bisa menerima kenyataan jika Smith, laki-laki yang membuatnya hampir mati itu adalah ayahnya. Ayah kandungnya, yang telah berusaha membunuhnya untuk yang kedua kalinya.


Smith hanya mampu mematung. Diam membisu dengan sudut mata yang basah. Hatinya terlalu pedih karena penolakan anak kandungnya. Terlebih lagi melihat kondisi Rianna. Sangat miris, gadis yang biasanya terlihat cantik dan elegan itu kini penampilannya kacau. Sesekali gadis itu menarik rambutnya sendiri. Bukan hanya itu, air mata mengalir deras dari kedua sudut matanya.


Tak bisa dipungkiri, hati Rianna yang rapuh malah harus menerima kenyataan yang begitu pahit.


"Gara-gara kau! Aku dan mama menderita! Dimana akal sehatmu! Kau bang***! Aarrtgghhhh!!" kembali rambut hitam miliknya itu dia tarik dengan kencangnya bersamaan dengan teriakan yang memilukan.


"Maaf...maafkan ayah nak,"


"Jangan panggil aku anakmu! Aku tidak pernah memiliki ayah! Hah...hah...hah...." nafasnya memburu.

__ADS_1


"Nak sadar nak. Mami mohon kamu terima kenyataan ini nak. Ingatlah bahwa semua manusia pernah melakukan kesalahan. Begitu pula dengan ayahmu," Gretha mencoba menenangkan Rianna.


"Hah...20 tahun! Bukankah anda sudah membuangku selama 20 tahun tuan? Lalu kenapa anda baru mengakui aku anakmu! Hah...hah"


Nico mulai panik. Tubuhnya bergetar. YaTuhan apa sekarang harus kembali lagi kemasa lalu? Nico mengusap wajahnya dengar kasar.


"Mi mami tenangin dulu Rianna. Papi akan "mencari dokter terlebih dahulu. Sepertinya Depresi Psikotik Rianna kambuh lagi,"


Gretha hanya mampu terdiam dengan air mata yang membanjiri wajahnya. Perempuan berusia senja itu begitu menyayangi Rianna.


"Pergi! Aku bilang pergi! Anda menganggap ku anak? Memangnya anda tau apa tentang hidupku?! Anda tau apa? Dimana anda saat aku sakit?! Dimana anda saat aku harus putus sekolah? Dimana anda saat mama diperlakukan tidak adil? Anda seolah tak pernah hadir dalam hidupku! Bahkan anda tidak tau saat aku kelaparan! Anda juga tidak tau seberapa sakitnya saat sebuah gagang sapu mendarat ditubuhku! Apa anda tau kesalahan apa yang aku perbuat saat itu? Aku harus dihukum hanya gara-gara aku mengambil satu potong ayam goreng milik Jessica! Bahkan aku harus babak belur terlebih dahulu agar mereka bisa memberikan aku uang untuk berobat mama! Dan anda! Terakhir kalinya aku bertanya pada anda tuan! Dimana anda saat mamaku menghembuskan nafas terakhirnya? Dimana?!"

__ADS_1


"Tidak nak! Maaf. Aku ayahmu! Ayah kandungmu!" Smith berusaha meyakinkan Rianna. Begitu menyesakkan dadanya. Apa ini karmaku? Aku dulu tak mengakuinya anakku dan sekarang? Rosita maafkan aku.


"Pergi! Aarrggght," jeritan memilukan kembali terdengar. Seolah mengoyak hati dan jiwa semua yang mendengarnya. Matanya menatap nyalang sesuatu diatas nakas. Nafas sudah tak beraturan lagi. Mata yang sudah tak mengenali jati dirinya sendiri.


Dengan kilat Rianna menyambarnya dan kemudian mengarahkannya keperutnya. Tunggu aku mama.


Suara serak nan memilukan tak terdengar lagi menbuat Smith yang tadinya menundukkan kepalanya kini mendongakkan kepalanya begitu pula dengan Gretha. Perempuan berusia senja itu mengangkat kepalanya yang sedari tadi dia sembunyikan karena menangis tiada henti.


Seakan darah Smith berhenti mengalir. Terlebih Gretha dengan mata yang membulat menatap pemandangan yang begitu memilukan.


"Rianna!" teriakan dari keduanya nyaring terdengar. Namun tubuh Gretha tak mampu menopang tubuhnya. Perempuan itu ambruk terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2