Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 400. Wawancara 1


__ADS_3

Mendengar penuturan Sabrina, mendadak kedua mata Aretha melebar. "Apa maksudmu, Sabrina?"


"Kamu cantik! Pasti mematikan untuk hati orang-orang yang menghinamu dengan panggilan cupu. Lihatlah, kau bagaikan bunga yang indah. Apalagi, jika kau tidak memakai kacamata. Ah, sayang sekali. Kenapa kau tidak memakai softlens saja?" Sabrina memasang mimik kesal.


Sabrina dapat merasakan Aretha bernapas lega. "Tidak biasa, Sabrina. Aku nyaman pakai kacamata."


"Kau tidak ingin menguncir rambutmu?" tanya Sabrina.


Dengan cepat, Aretha menggelengkan kepala. "Tidak usah. Begini saja. Ini kita gimana lagi?"


"Oh, iya. Bajumu yang sebelumnya masukkan ke paper bag. Lalu bawa pulang. Kau langsung pakai saja yang baru ini. Ayo, kita membayarnya," ajak Sabrina.

__ADS_1


Aretha menganggukkan kepala. Memilih mengikuti setiap kata-kata dari Sabrina. Sedangkan Sabrina sendiri membayar baju baru yang dipakai Aretha. Setelah selesai, Aretha dan Sabrina masuk kembali ke dalam mobil. Artur sendiri memilih sibuk dengan ponselnya. Menepis rasa kesal dan dongkol karena ditinggal begitu lama. Ryu menjalankan laju mobilnya membelah jalanan berdebu kota. Menuju perusahaan William dengan cepat. Sabrina terus berfikir di mana Aretha asli berada.


"Jika Aretha yang asli ada di tangan mereka, bukankah itu artinya Aretha sedang tidak baik-baik saja? Di mana mereka menyekap Aretha? Aku juga belum mengamati sepatu booth itu. Pikiranku hanya tertuju pada Aretha yang asli. Nyawanya sedang dipertaruhkan," batin Sabrina dengan gelisah.


Tanpa disadari, mobil telah memasuki halaman parkir perusahaan Xander Grup. Ryu segera membukakan pintu mobil agar ketiga remaja itu turun dari mobil. Dengan kebisuan yang mengiringi, ketiga orang itu terus berjalan mengikuti Ryu. Yang terlebih dahulu berjalan membimbing mereka. Sesekali Sabrina melirik Aretha. Mengawasi setiap gerak-geriknya dengan sorot mata yang tajam.


"Sabrina, Artur!" panggil Dixton dengan lantang.


Ia juga terlihat melambaikan tangan ketika Artur, Sabrina dan Aretha telah memasuki lantai paling atas. Di mana hanya terdapat satu meja. Yaitu meja milik Ara, sang sekretaris.


"Santai saja. Bukankah kalian pernah melihatnya? Jangan gugup dong," goda Sabrina.

__ADS_1


"Nona Sabrina, Tuan Muda Artur, silahkan masuk." Ryu membuka pintu dan mempersilahkan Artur dan Sabrina untuk segera masuk ke dalam ruangan presdir.


Artur dan Sabrina melangkahkan kakinya dengan mantap. Mereka masuk ke dalam ruangan presdir. Mengabaikan sosok Ara yang membungkuk hormat menyambut kedatangan para remaja tersebut.


Saat masuk ke dalam ruangan presdir, terlihat William sudah bersiap. Pria itu memandang wajah-wajah polos di depannya dengan sorot mata yang tajam. Membuat Dixton dan Justin menggaruk rambutnya yang tak gatal. Sedangkan Aretha, tersenyum tipis penuh arti. Keinginannya masuk ke dalam ruangan utama Xander Grup tercapai sudah.


"Selamat siang semuanya. Silahkan duduk," ucap William.


Pria itu bangkit berdiri, dan duduk di sebuah kursi kebesaran yang menghadap para anak remaja tersebut. Artur dan Sabrina mendudukkan bokongnya di kursi yang telah disediakan sebelumnya. Diikuti oleh yang lainnya. Sabrina menatap lekat sosok dingin pria yang ada di hadapannya.


William tampak cool dengan setelan jasnya yang mewah. Ditambah wajah yang tampan nan rupawan terpahat sempurna di wajahnya. Pria itu menyilangkan saru kakinya dan menumpukannya pada satu kaki yang lain.

__ADS_1


"Jantung, kau berirarama hanya ketika priaku memikatku dalam jerat pesonanya. Tolonglah, kondisikan. Di depan teman-temanku aku tak mungkin bisa melakukan hal yang memalukan," gumam Sabrina dalam hati.


"Apa sudah bisa dimulai wawancara hari ini?" tanya William dengan nada datar.


__ADS_2