
"Ada apa?" tanya Ardan Wijaya.
Di sebuah ruangan rahasia milik Ardan Wijaya, banyak orang yang sudah berkumpul. Mereka adalah, Mariani, Johan, Resa dan Danar. Suasana tampak mencekam. Ardan Wijaya menyorot tajam sosok Danar yang berdiri tanpa ekspresi.
"Nona Muda Sabrina telah bergerak. Ada musuh yang mengincar Tuan William dan Artur. Hal itu dikarenakan, Nona Muda Sabrina meledakkan markas senjata api dan markas bubuk mesiu milik satu geng mafia. Akan tetapi, setelah kami selidiki ada pihak yang lebih kuat yang menjadi sekutu geng mafia yang telah Nona Muda Sabrina taklukkan," jelas Danar.
"Mas Ardan, jangan bilang cucuku Sabrina mengikuti jejakmu!" potong Mariani.
Ardan Wijaya mendesah. "Benar, Sayang. Tapi ini bukan kemauanku. Ini murni keinginan Sabrina. Dia sendiri yang telah memilih jalan hidupnya. Itu dia lakukan untuk melindungi suami yang dia cintai. Bukan aku yang memaksanya, Sayang," ungkap Ardan Wijaya.
"Aku tak mungkin mengatakan, jika Rendy yang telah menjebak Sabrina. Daripada generasi geng mafiaku musnah. Bukankah lebih baik ada satu penerusku, daripada tidak ada sama sekali. Tak kusangka, jika suami dan anak sambung Sabrina yang akan menjadi target sandera mereka. Jelas-jelas, mereka berdua tidak bersalah." Ardan membatin gelisah.
"Mas Ardan mengatakan yang sebenarnya kan?" selidik Mariani.
__ADS_1
Ardan Wijaya menggelengkan kepala perlahan. "Tidak, Sayang. Untuk apa aku berbohong? Sabrina juga cucuku. Mungkin saja, itu ia lakukan untuk melindungi suaminya. Kapan-kapan kita bisa meminta Sabrina untuk menjenguk kita. Sudah ya, jangan curiga terus." Ardan meremas kedua tangan Mariani.
Sejenak, peluh Ardan Wijaya terasa menetes. Mariani seolah masih saja tak mempercayainya. Hingga terdengar helaan napas dari Mariani.
"Baiklah, aku percaya. Lalu apa yang akan kalian lakukan? Bukankah ini artinya, Sabrina dalam bahaya?" Kedua mata Mariani berkaca-kaca.
Danar menarik sudut bibirnya. "Anda tenang saja, Nyonya Besar. Nona Muda Sabrina berbeda dari yang lainnya. Saya rasa, Nona Muda Sabrina bahkan sedang melangkah maju menghadapi musuh. Lagipula, ada Nona Julia. Putri dari Tuan Kei. Di mana dulu juga Tuan Kei merupakan kaki tangan yang hebat. Ada banyak orang profesional yang mendampingi Nona Muda."
Sabrina menelusup dengan gesit. Sesekali ia bergulung di lantai yang dingin, untuk mendapatkan tempat persembunyian.
"Aku mendengarmu, Sabrina. Jangan keluar dari sana. Ada dua orang yang akan mendekatimu," tukas William.
Sepertinya William mulai memahami posisinya. Hatinya tak lagi diliputi gelisah. Julia menatap gerak-gerik William. Sedangkan Roki, mengamati keadaan sekitar. Jangan sampai ada seorang sniper, yang mengincar William. Selain pria itu merupakan suami dari majikan mereka, William juga menjadi alat yang akan memberikan petunjuk untuk Sabrina.
"Arah mana?" Sabrina mulai menyokong senjata laras panjang miliknya.
__ADS_1
"Jarum jam angka 9. Hati-hati, mereka membawa senjata api," ungkap William.
Sabrina mengangguk paham. Ia mulai me mengeluarkan sesuatu dari tas kecil yang ia ikatkan di pinggangnya. Lalu tangannya melemparkan barang yang tadi ia ambil. Sesuatu seperti mengenai dua orang yang berjalan mendekat ke arah Sabrina.
Gadis itu mendengar sesuatu yang roboh. Sepertinya, usahanya berhasil. Sabrina keluar dari persembunyiannya. Ia mengeluarkan borgol dan memborgol setiap tangan dari musuh Sabrina.
"Aku hanya membuat kalian pingsan saja. Aku akan menginterogasi kalian dari organisasi mana. Aku harus mencari petunjuk dari badan mereka. Siapa tahu, ada tanda organisasi tertentu," gumam Sabrina.
"Sabrina, lebih baik kau mencari tempat untuk bersembunyi terlebih dahulu. Ada dua orang yang berjalan menuju ke arahmu lagi. Sembunyilah!" William meninggikan suara. Membuat Sabrina meringis.
"Uncle! Pelankan suaramu. Kau membuat telingaku sakit!" keluh Sabrina.
"Ah, maaf!" William meminta maaf secara spontan.
"Astaga! Aku benar-benar takut dengan keadaan ini. Sabrina, aku mohon. Kembalilah padaku dengan selamat. Aku takut. Aku takut kehilanganmu," lirih William.
__ADS_1