Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 407. Kenangan Yang Usang.


__ADS_3

Arrur menarik sudut bibirnya. Imbuhnya. "Kau jangan kaget begitu. Bukankah kau sudah tahu sebelumnya?"


Sabrina terdiam sejenak. Apa yang dikatakan oleh Artur ada benarnya juga. Ia sendiri sudah mengetahui hal itu lama. Akan tetapi, tidak pernah mengira jika Artur dan William dibuang oleh keluarganya. Selebihnya yang Sabrina tahu adalah, William bisa menikah dengan mendiang istri karena sang istri telah hamil.


"Jadi, selain mereka harus berjuang mempertahankan anak yang tidak bersalah, mereka juga dibuang oleh keluarganya?" Sabrina membatin bingung.


"Aku yakin kau tidak percaya. Tetapi itulah kenyataannya, Sabrina. Maka dari itulah, kenapa ayahku mati-matian mempertahankan perusahaannya. Karena hanya dari sanalah kami berdua bisa hidup sampai detik ini." Artur menghentikan kata-katanya. Pria remaja itu menghembuskan napas panjang.


"Apa orangtua dari ayahmu juga sama?" tanya Sabrina dengan lirih. Ia takut akan menyinggung perasaan Artur.


Artur mengangguk. "Ayah dianggap mencoreng nama keluarga. Jadi sama seperti bunda. Dia dibuang juga. Maka dari itu, perusahaan itu kami usahakan agar selalu menjadi milik kami. Karena dari sanalah, ayah dan bunda bisa sekedar mengisi perut."


Sabrina melirik wajah Artur. Gurat kesedihan terlihat jelas di sana. Sabrina mendesah. Pantas saja dia juga tidak diperkenalkan kepada keluarga William.


"Setelah semua selesai, aku akan menemui keluarga besar William saja. Sekarang, aku harus membuka kedok mereka. Tentu saja, aku harus menyelamatkan Aretha. Di mana dia disekap? Rasanya setiap detik aku selalu was-was." Sabrina membatin gamang.


"Artur, jangan dibahas lagi. Bagaimana kalau nanti sepulang dari kampus kita belanja di mall?" tawar Sabrina.


Artur tampak menghembuskan napas malas. "Aku ini pria. Bagaimana bisa kau mengajakku berbelanja?"

__ADS_1


"Memangnya kau tidak ingin pergi ke suatu tempat?" tanya Sabrina.


Pria yang duduk di sampingnya menggelengkan kepala. Tiba-tiba pandangan Artur menuju satu arah. Entah mengapa wajahnya pun juga berubah. Sabrina yang penasaran, mulai mengikuti ke arah yang sama. Ternyata Lexi sedang berjalan menuju ke arah mereka.


"Hai, Sabrina!" Lexi telah berada di depannya.


Tepat di belakang Lexi. Ada dua orang yang diincar oleh Sabrina. Mereka adalah Yanzi dan Nathan. Entah mengapa aura dingin Yanzi dan Nathan terasa jelas oleh Sabrina.


"Hmm." Sabrina malas dengan panggilan Lexi. Tapi cukup puas dengan apa yang ada di depan matanya. Bisa dengan jelas menatap wajah-wajah yang memang sedang dia incar.


"Ini undangan untukmu." Lexi memberikan satu undangan kepada Sabrina. "Maaf, Artur. Aku tidak memiliki sisa undangan untukmu." Lexi mengukir senyuman.


Senyum mengejek terbit di bibir Artur. Jelas saja itu ia lakukan untuk mengejek Lexi. Di mana pria itu ditolak oleh Sabrina jika dirinya tidak bisa ikut menghadiri pesta yang diseleggarakan oleh Lexi.


"Sudah besar, masih ingin mengadakan pesta ulang tahun? Lucu sekali." Lagi, Artur mengejek Lexi.


"Maaf, Artur. Aku adalah penerus keluarga hebat. Jangan samakan dengan keluargamu. Tentu aku berbeda. Aku adalah pewaris satu-satunya keluarga Dirgantara. Jadi harap maklum jika aku lebih sering mengadakan pesta ini," papar Lexi dengan nada yang angkuh.


Artur dan Sabrina hanya menanggapi ddengan kebisuan. Membuat Lexi semakin marah. Akan tetapi ia berusaha menahan emosinya. Sabrina, terlalu menarik perhatiannya. Gadis yang bahkan tanpa basa-basi malah menentangnya. Tak perduli lagi darimana Sabrina berasal. Lexi terlalu penasaran. Mengapa pesonanya tak bisa menarik perhatian Sabrina? Ia ingin sekali Sabrina datang ke pestanya. Supaya bisa memperlihatkan seberapa kayanya ia.

__ADS_1


"Sabrina, bisakah kau datang ke pestaku? Itu adalah acara yang spesial. Setidaknya hargai aku, Sabrina." Lexi kembali memohon.


Mendengar kata-kata Lexi, Sabrina mengangkat kepala. Menatap lekat Lexi. Sebenarnya Sabrina bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari tahu tentang Yanzi dan Nathan.


"Apa aku ikut saja mereka ya? Kupikir ini kesempatanku untuk dekat dengan dua pembunuh bayaran itu." Sabrina membatin.


"Baiklah. Aku akan datang. Tapi, bisakah aku datang dengan Artur?" tanya Sabrina.


"Datang dengan Artur? Kenapa?" balas Lexi. Raut wajah Lexi berubah tak suka.


"Aku tidak tahu kota ini. Bagaimana? Kalau tidak boleh, juga tidak apa-apa kok," sahut Sabrina.


"Kenapa Sabrina ingin ikut datang ke pesta Lexi? Bagaimana dengan ayah? Apa dia tak berpikir jika ayah akan marah nantinya?" batin Artur bingung.


"Baiklah, kau boleh datang dengan Artur. Ingat ya! Kau sudah janji untuk datang. Jangan membuatku kecewa, Sabrina!" Lexi terlihat antusias. Lanjut Lexi, "Kalau begitu aku pamit dulu, Sabrina. Ingat kau sudah berjanji!"


Terlihat Lexi berjalan menjauh diikuti dengan dua orang yang menjadi incaran Sabrina. Artur menatap bingung ke arah Sabrina yang dengan mudahnya dia mengiyakan undangan dari Lexi.


"Sabrina, apa maksudmu? Ayah pasti akan marah nanti," tegur Artur.

__ADS_1


"Tenanglah. Aku butuh info, Artur. Ada hal yang harus aku pastikan. Aku akan membicarakan ini dengan ayahmu. Jangan menahanku." Wajah Sabrina berubah serius.


__ADS_2