
Baca sampai akhir ya. ada lanjutan isi bab. Nyesel kalo gak baca. Ada miateri tuh😀😀 Yeyeyeyeye satu pemenang muncul lagi. Contoh satu halaman buku Elegi buana di bawah ya. Tinggal 1 slot buku gratis Elegi Buana😬😬😬 Sebelum itu, author tanya dong. Kalian dari mana aja sih? Jawab ya. Hayo, siapa yang akan beruntung lagi😊
Drrttt drrtt drrtt.
Ponsel William bergetar. Membuyarkan suasana tegang yang tengah melanda 3 orang itu. Pria itu segera mengangkat panggilan tersebut.
"Apa?" tanya William nampak terkejut. "Hei! Jangan sembarangan kau berbicara!" Nada bicara William terdengar meninggi. "Pak Yosan terbunuh? Bagaimana mungkin? Cek semua hal yang mencurigakan di dekat pos security! Panggil polisi, dan jangan berulah! Aku akan ke sana!" William menutup panggilan dengan kasar.
"Ada apa?" tanya Sabrina panik.
"Pak Yosan, salah satu security di perusahaan tewas terbunuh. Aku harus ke sana!" ucap William.
"Aku ikut!" rengek Sabrina.
"Tidak! Lebih kau di rumah, Sabrina. Bisa saja, di sana berbahaya!" William mengelus punggung tangan Sabrina.
"Tidak, Uncle William. Aku ikut. Aku bisa membantu melakukan sesuatu. Ingat, aku memiliki kemampuan di atas rata-rata," papar Sabrina.
William tercenung sejenak. Lalu menatap was-was ke arah Sabrina. "Baiklah. Ikutlah ke perusahaan. Jangan menambah masalah." William berlari diikuti Sabrina.
"Ayah, aku ikut!" Artur segera melesat mengikuti langkah William dan Sabrina.
Â
Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu, kini ketiganya telah sampai di perusahaan William. Nampak banyak wartawan meliput berita tersebut. Para polisi dan jajarannya, telah berada di sana. Kedua mata William nampak melebar seraya menutup hidungnya. Bau anyir menyeruak di lokasi kejadian.
Tubuh security tersebut, sudah tak berbentuk. Seperti telah mendapatkan hujaman senjata tajam dan benda tumpul. Tak hanya itu, bahkan Sabrina bisa menyimpulkan jika jasad tersebut telah dikuliti!
"Astaga! Bagaimana bisa?" William memekik.
Sedangkan Artur hanya membeku di tempatnya. Berbeda dengan Sabrina, gadis itu justru berjalan mendekati sekumpulan polisi.
"Jam berapa korban ditemukan?" tanya Sabrina.
__ADS_1
"Sekitar pukul 5-6 pagi, Nona. Kenapa Anda berada di sini? Menjauhlah, Nona. Di sini berbahaya," ucap polisi paruh baya bername tag Krisna.
"Saya adalah putri kedua dari Tuan Rendy Wijaya Saputra. Apa saya tak bisa berasa di sini?" Sabrina memperkenalkan dirinya dengan jumawa. Membuat sekumpulan polisi terdiam. Lanjut Sabrina, "Berikan aku masker dan sarung tangan. Aku ingin lihat, sejauh mana luka itu ada."
William mendekati Sabrina. Pria itu mencekal lengan gadis itu. "Sabrina, apa yang kau lakukan? Biarkan para polisi yang mengurusnya."
"Jangan lupakan aku memiliki IQ di atas rata-rata," timpal Sabrina.
Mendengar hal itu, para polisi segera mencarikan barang yang diminta Sabrina. Siapa yang tidak mengenal keluarga ningrat Wijaya? Keluarga yang memiliki bisnis di mana-mana. Bukan hanya itu saja, kekuasaan mereka tidak main-main. Wijaya merupakan keluarga ningrat legenda. Mereka mampu bertahan di ekonomi yang pelik sekalipun.
Sabrina menerima sodoran masker dan sarung tangan. Setelah memakainya, Sabrina berjalan mendekati jasab itu berada. Bau amis menusuk hidung mancung milik Sabrina. Akan tetapi, gadis itu tak mundur hanya perkara aroma busuk. Beberapa polisi tak berada jauh dari Sabrina. Mereka cukup khawatir terhadap kondisi Sabrina yang merupakan keturunan konglomerat terkemuka.
"Pelaku dengan keji menguliti korban, Nona," kata Polisi Krisna.
"Bukan. Ini bukan hanya dikuliti. Tapi sepertinya, ia juga disiram air panas. Sehingga beberapa dagingnya tak berbentuk," tutur Sabrina.
Hal yang mengejutkan para polisi. Sabrina mampu menganalisa jasad yang tak berbentuk itu. Begitu pula Artur dan William. Keduanya tak berani mendekat lantaran takut.
"Tapi, siapa yang melakukan ini? Mengapa membunuh dengan keji? Bukankah dia hanya seorang satpam saja?" tanya seorang wartawan.
Sabrina membeku di tempatnya. "Benar. Dia hanya seorang satpam. Lalu apa motif pelaku melakukan hal keji ini? Jika untuk uang, bukankah bisa melakukannya pada karyawan dengan jabatan yang lebih tinggi? Tapi, sejak kapan Uncle William memiliki musuh yang kejam begini?" Sabrina membatin.
"Tidak. Ini sebuah peringatan. Pelaku mengoyak kulit korban tanpa ampun. Ini adalah kejadian setelah aku menyelesaikan misi. Sepertinya aku patut waspada," kata Sabrina dalam hati.
"Cctv?" Sabrina menatap ke arah Krisna yang notabenenya seorang kriminolog.Â
"Cctv dirusak oleh seseorang, Nona," jawab seorang polisi yang lain.
Sabrina bangkit dan mendekati William. "Aku minta tolong antarkan aku ke tempat pengendalian sistem," pinta Sabrina.
Mereka semua bangkit. William menganggukkan kepala. Pria itu lalu berjalan masuk ke dalam perusahaan diikuti oleh beberapa anggota polisi dan jajarannya. Lalu Pak Krisna yang memiliki posisi penting.
Tiba di ruangan pengendalian sistem, Sabrina mendekati komputer yang terdapat di sana. William menatap bingung ke arah Sabrina. Ia ingin bertanya, tetapi urung karena ada banyak orang. Sabrina mulai bekerja. Entah apa yang ia lakukan, tapi kedua tangannya tengah sibuk bermain di atas keyboard.
Tap.
Semua mata menatap tak percaya dengan pekerjaan Sabrina. Bahkan ada yang menutup mulutnya karena tercengang. Cctv yang telah disabotase, kini telah pulih. Mereka semua mengamati layar monitor itu dengan seksama. Hingga mereka mendapatkan petunjuk. Sayang, mereka tak mendapatkan bukti yang akurat tentang wajah si pelaku.
__ADS_1
"Aku rasa mereka adalah orang yang hebat. Aku tidak bisa memulihkan data yang telah hilang. Seperti terkunci dengan sangat rapat." Sabrina menoleh ke arah Krisna.
"Kau bisa membobol data?" tanya William.
"Ya. Aku mampu meretas data dan mengembalikan atau memulihkan data. Tapi, itu terbatas. Lihat, aku tak mampu membobol data yang telah dihapus itu dengan sempurna. Orang ini memiliki kemampuan yang hebat. Bukan orang sembarangan seperti kita kebanyakan." Sabrina tahu jika William mulai curiga padanya.
"Sebenarnya, dulu ada orang yang mebobol data perusahaanku. Hingga aku hampir saja mengalami kebangkrutan. Apa mereka adalah orang yang sama?" tanya William.
"Mungkin saja," jawab salah seorang polisi.
"Ayah, apa kau tidak mendengar sesuatu?" tanya Artur. Kali ini ia bersuara setelah membisu sekian lama.
"Nada itu? Apa di dalam sini ada b*m?" Pak Krisna mulai panik.
"Pintu tertutup! Siapa yang menutup pintu?" teriak polisi bernama Soni.
"Pelaku sudah merencanakan ini?" William mulai kalut.
Sabrina mulai bangkit dari kursi. Ia mematung. Kedua matanya menatap liar keadaan sekitar. Suasana menjadi tegang. Beberapa diantaranya mengumpat berulang kali. Hingga Sabrina memukul meja. Semua orang terdiam seraya menatap tajam ke arahnya.
"Dalam keadaan begini, diam. Jangan panik," ucap Sabrina.
"Bagaimana bisa tenang? Di dalam sini ada b*m! Ini semua karena kamu! Jika kau tidak minta diantar kemari, kami pasti masih berada di luar!" teriak Artur.
"Artur, kita berbeda. Aku bisa memakai otak, sedangkan kau hanya memakai emosimu. Aku bilang, tenang. Aku harus menemukan di mana b*m itu berada. Kita perlu melihat seberapa besar frekuensi ledakan dari b*m tersebut," jelas Sabrina.
"Aku setuju dengan Nona Sabrina. Jika saya dengar dari kata-katanya, sepertinya Nona Sabrina cukup tahu frekuensi tentang ledakan. Silahkan, Nona," kata Pak Krisna.
Sabrina mengedarkan pandangan. Memasang telinga dengan sebaik mungkin. Kedua mata Sabrina menyipit tatkala menemukan di mana b*m itu berada.
"Ini jenis TNT (trinitrotoluena) berat sekitar 1 kg. Waktu yang disetting sekitar 1 jam! Semua mundur!" titah Sabrina.
Semua orang kini memundurkan tubuhnya. Memilih tempat paling pojok. Artur memeluk William dengan erat. Wajah Artur bahkan terlihat pias.
"Siapa yang berani memasang b*m dengan frekuensi tingggi begini?" tanya Sabrina. Ia mulai mendekati di mana b*m itu berada.
"Nona, kemarilah! Apa yang Anda lakukan?" tanya Soni.
__ADS_1
"Anda tenang saja. Serahkan padaku," sahut Sabrina seraya memberikan senyuman termanisnya.