
Hai, sebelumnya baca sampai akhir. Bab 445 ada isinya ya. Ini hanya pengumuman sebentar. Khusus Pemenang Kapten Rojali, I Love You. Bagaimana? Sudah ada paket buku yang diterima? Maaf lama. Karena prosesnya menunggu orang-orang menyelesaikan masalah pembayaran. Baru, buku akan dikirim ke pembaca. Jadi, harap maklum teman-teman.
Menurut kalian, ada lagi yang ingin dapat novel gratis? Semoga saja rejeki author dilancarkan ya. Maklum, emak-emak pengangguran. Hehe. Kali ini untuk dapat novel gratis author, wajib follow Fb Author ya. Di bawah ini ada Fb author. Ada event yang harus diikuti, yaitu ikuti cerita author di grup salah satu penerbit. Supaya author tahu siapa saja yang sudah mengikuti Fb author, silahkan komen di bawah ini dengan komen nama fb kalian masing-masing ya.
Penasaran seperti apa cerita yang akan diusung author? Berikut ada penjelasan sedikit tentang novel yang akan kalian dapatkan. Novel dengan Genre Romance, Mistery dan Thriller.
Blurb:
Yuna Almeera mendapatkan kejutan dari sahabat dan pacarnya. Steven Dong Juan, kekasih Yuna berselingkuh dengan Ayumi Larasati yang notabenenya sahabat Yuna. Tak tanggung-tanggung, Yuna mendapati keduanya tengah bercinta di apartemen Ayumi.
Yuna yang menangis di depan apartemen Ayumi, dihibur sahabatnya yang lain bernama Anggi. Serta seorang teman baru bernama Miska Ratuliu. Apartemen Miska berada tepat di samping apartemen milik Ayumi. Pada akhirnya Yuna, Anggi dan Miska berteman akrab. Yuna yang merasa sakit hati, ingin membalas dendam kepada sahabatnya itu.
Hingga sebuah kabar menghilangnya Ayumi membuat Steven kalang kabut. Selang beberapa hari, Steven juga menghilang. Apa yang sedang terjadi? Ikuti terus kisahnya.
Lanjut babnya ya. Baca sampai akhir.
Aretha menatap tak percaya rumah besar yang ada di depannya. Megah dan mewah. Elena terlebih dulu berpamitan. Kini hanya Alana dan Aretha yang baru saja sampai di rumah.
__ADS_1
"Nak? Kenapa kamu diam? Ayo." Alana menarik tangan Aretha.
Gadis itu meremas ujung gaunnya. Dengan ragu-ragu, Aretha mengikuti jejak Alana. Ketika pintu dibuka seseorang, terlihat banyak sekali orang yang membungkuk hormat serta memakai pakaian yang sama. Aretha dapat menyimpulkan para wanita usia tua maupun muda itu adalah pelayan di rumah ini.
"Selamat datang, Nyonya. Tuan Ergi Harrison dan Tuan Muda Aldric Luhde Harrison sudah menunggu Anda." Seorang wanita paruh baya membungkuk.
"Oke." Alana berjalan masuk dengan tangan masih menggenggam tangan Aretha.
Gadis itu measih saja terfokus dengan setiap sudut rumah yang berdesain Eropa. Desain yang menandakan kekuasaan mereka. Aretha meneguk ludah. Perlahan rasa malu itu hadir di dalam hatinya. Sayup-sayup Aretha mendengar bisik-bisik dalam hatinya untuk pergi saja dari rumah megah ini.
"Kalian menunggu?" tanya Alana.
Dua orang pria yang terlihat berwibawa itu menoleh. Senyum tipis terbit di bibirnya. Alana pun melepaskan genggaman tangan Aretha. Gadis itu merasa kehilangan.
Ergi pun bangkit. Melihat orang asing mendekat, Aretha memundurkan langkah. Ragu-ragu ia menatap Ergi. Pria paruh baya itu menghentikan langkah. Menyadari Aretha yang ketakutan ketika ia mendekatinya.
"Aretha Rosseanne Harrison Winata." Tiga kata keluar dari mulut Ergi.
Membuat Aretha mengangkat kepala. Aretha nama itu benar nama depannya. Lalu tiga nama di belakangnya? Rasanya itu bukan nama belakangnya.
"Ah, kau sudah menyiapkan nama untuknya?" Kedua mata Alana berbinar.
__ADS_1
Aretha masih menatap bingung Alana dan Ergi secara bergantian. Lalu Ergi berkata, "Dua nama keluarga kuberikan kepadamu. Aku juga tidak rela jika tidak ada nama keluargaku. Aku tidak ingin nama keluarga Harrison punah begitu saja. Sayangnya, aku harus memberikan embel-embel keluarga mertua agar aku bisa hidup tenang. Jadi, selamat datang ke rumah ini. Dengan nama yang baru, kuharap kau bisa membuka lembaran baru."
Ergi menghentikan kalimatnya. Lalu Aldric memberikan sebuah map. Ergi pun memberikannya kepada Aretha. Gadis itu mengamati map yang diberikan Ergi dengan tatapan bingung. Meski begitu, Aretha pun mengambil map tersebut. Dengan tangan yang gemetar, Aretha membuka map dan membacanya.
"Surat keterangan adopsi yang sah? Aretha Rosseanne Harrison Winata sebagai anak kedua dari Tuan Ergi Harrison dan Nyonya Alana Maheswari Winata." Selesai membaca keterangan adopsi dan documen Kartu Keluarga yang resmi itu, Aretha mendapati sebuah KTP dan itu adalah nama yang sama di keterangan tadi. Aretha lalu menatap Ergi dengan kedua mata yang berbinar.
"I-ini untukku?" Ragu, Aretha pun bertanya.
"Memangnya siapa lagi yang dibawa Mamaku ke sini? Apa ada yang lain?" Aldric kini bersuara. Bahkan remaja itu juga menengok ke kanan dan ke kiri seolah mencari sesuatu.
Bahu Aretha berguncang. Gadis itu menangis tanpa suara. Dengan semua document identitas dirinya yang sekarang. Alana pun memeluk anak keduanya itu. Tangannya menepuk-nepuk lembut punggung Aretha.
"Kau bahagia?" tanya Alana.
Aretha mengangguk. Gadis itu semakin menenggelamkan wajahnya di dada Alana. Namun, ia teringat adik-adiknya di panti asuhan. Seketika ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kenapa?" Kedua alis Alana bertaut.
"Adik-adikku di panti asuhan?" Suara Aretha terdengar serak.
Alana tersenyum. "Mereka akan hidup lebih baik. Kehidupan mereka tidak perlu dikhawatirkan. Karena mereka tinggal di sebuah rumah. Ada beberapa pengasuh yang akan menjaga mereka. Biaya makan, dan biaya pendidikan semua aman ditanggung keluarga Wijaya dan Winata. Sampai mereka dewasa. Namun, jika ada kenalan kami yang ingin mengadopsi anak. Kami akan memberikannya agar mereka juga mendapatkan kebahagiaan seperti yang kamu alami."
__ADS_1
"Tentu setelah aku memastikan jika mereka berasal dari keluarga baik-baik. Baru aku akan melepaskannya untuk diadopsi. Bagaimana? Sudah lega?" Ergi tersenyum hangat.
Jika kita diberikan kekayaan yang berlimpah, setidaknya mari kita berikan kebahagiaan untuk anak yatim piatu. Kita tidak pernah tahu, seperti apa kehidupan yang mereka alami. Karena jalan rezeki, hanya Allah yang maha dermawan. Sebagai hamba yang diberikan kepercayaan memiliki hidup yang bergelimpangan harta. Tak ada salahnya menjadikan diri sebagai perantara untuk mereka yang tidak mampu.