
Ani kini berjalan menuju kelasnya. Hari ini dia bahagia karna tinggal besok dia akan pergi mengunjungi anaknya.
"Ani ....!!!"
Duh siapa lagi sih yang bikin badmood aku. Menoleh sekilas, Monica. Ada apa?
"Hmmm"
"Ani...... Boleh kita bicara sebentar?" Tersenyum sembari menutupi kegelisahan didalam hatinya.
"Ada apa?"
"Anu.. itu Ani maafkan aku karna sikapku kemarin. Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu. Sejujurnya aku bingung kemarin. Tapi sungguh Ani aku tak bermaksud." Monica menggenggam tangan Ani. Memelas. Semalam dia tak bisa tidur karna bingung memikirkan kejadian kemarin.
Ani tersenyum. Walaupun dia baru mengenal Monica beberapa hari namun Ani menyadari bahwa Monica tulus kepadanya.
"Iya aku tau kok lagian kamu kan gak tau apa-apa."
"Tapi kenapa kamu kemarin kupanggil tak berhenti? Aku tak mengirim pesan whatsApp karna sewaktu kamu pulang kamu mengacuhkanku. Aku takut kamu marah Ani."
"Marah? Kenapa? Kamu kan gak tau apa-apa."
"Maafin aku ya. Aku janji gak bakalan gitu lagi. Tapi kamu bisa kan cerita sama aku? Biar aku bisa bantuin kamu kalau ada masalah."
"Iya aku maafin kok."
"Bisa cerita?" Monica mendesak temannya untuk bercerita dia benar-benar khawatir karna Ani dibully. Awalnya dia juga akan ikut menghakimi Ani namun dilihat dari gelagat dan pembicaraan mereka dia sadar bahwa dia telah salah menilai teman barunya.
"Tolong cerita sama aku. Kalau kamu pikir aku temanmu."
"Baiklah nanti aku ceritakan, sekarang ayo kita kekelas. Nanti kita terlambat."
"Oke." Kini wajah Monica tak lagi suram seakan wajah mendung itu kini berganti dengan cerahnya sinar mentari. Dia meraih tangan Ani kemudian berjalan beriringan.
"Monica ayo.....!!!" Monica tak bergerak. Dia tetap diam ditempat. Menatap mata Ani tak percaya. Dia kaya begitu tapi kenapa penampilannya biasa saja? Bahkan dia tak terkesan membanggakan apa yang dia punya. Mobil Toyota new Yaris kini berada didepannya. Jadi dia pulang pergi kekampus naik mobil? Dia mengerjapkan matanya berkali-kali seakan tak percaya bahwa Ani seperti bukan dari kalangan orang biasa.
__ADS_1
"Monica ayo. Kasian pak Surya nungguin kamu lama nih. Katanya pengen denger ceritaku?" Ani sedikit meninggikan suaranya karna temannya diam seperti patung. Gadis itu mengangguk. Kemudian dengan tubuh gemetar dia masuk kedalam mobil. "Kita kerumahku ya biar enak bicaranya." Mengangguk. Kemudian menatap Ani sekali lagi. Memastikan bahwa yang disampinya itu benar-benar teman yang dia sapa kala itu.
"Jalan pak. Kita pulang kerumah." Kemudian mobil bergerak. Berjalan menelusuri jalanan kota yang berdebu.
"Monica kamu kenapa? Kenapa diam saja?"
"Eh.... Eh... Gak apa-apa kok." Canggung banget.
"Apa kamu pikir aku anak orang kaya?"
Monica mengangguk.
"Aku anak seorang pengayuh becak. Dan ini semua milik suamiku."
"Apa?" Jadi bagaimana bisa suamimu bisa Nerima kamu Ani ya Allah aku gak bisa bayangin secinta apa dia sama temanku ini.
"Kenapa? Kamu pikir aku menikah karna dia kaya ya?"
"Eh ..... Enggak kok Ani aku beneran gak mikir kayak gitu. Cuma aku berpikir secinta apa dia sama kamu sampai-sampai kamu bahkan diperlakukan istimewa."
Cinta? Heh Monica kamu gak tahu apa-apa.
Benar aku kan gak tau apa-apa tentang mas Ardan lagian walaupun mas Ardan selalu bilang dia cinta sama aku kan juga belum tentu benar. Laki-laki kan buaya. Jadi aku harus waspada.
"Apa? Jadi maksudmu kamu menikah karna dijodohkan?"
Ani mengangguk.
"Bagaimana mungkin ? Terus kemarin aku dengar kamu sudah punya anak?"
"Benar usianya 2 tahun beberapa bulan lagi 3tahun."
"Gila.... Badanmu !!! Badanmu...!!!!!! Kenapa masih ramping begini?" Monica mengomel seakan tak terima bahwa jika dibandingkan dengan dirinya sang janda jauh lebih ramping dan mempesona. Sedangkan dirinya? Ya allahhh rasanya gak adil banget. Sebenarnya dia memiliki wajah yang lumayan oke namun mungkin karna dia hanya memoles wajahnya dengan seadanya jadi kelihatan biasa saja. Sedangkan untuk tubuhnya. Dia memiliki tubuh yang mungkin lebih berisi jika dibandingkan Ani. Namun tubuhnya masih masuk kategori sedang tak kurus dan tak gendut atau montok.
"Sudah dari dulu kok aku begini."
__ADS_1
"Ayo ceritakan lebih lengkap lagi. Aku mau dengar sampai tuntas!!!!."
"Nanti saja kita ceritanya. Kita sudah hampir sampai."
Benar saja mobil memasuki pintu gerbang. Kemudian melaju menuju garasi. Dan disana juga terdapat beberapa mobil yang harganya fantastis. Karana memang Ardan sangat menyukai type Bugatti. Monica melongo sekali lagi. Lagi-lagi dia terkesima. Bagaimana mungkin orang kaya sepertimu hidup layaknya masyarakat biasa?
"Monic ayo turun."
"I...iya".
Mereka berjalan beriringan. Sebenarnya Ani cukup bahagia. Karna akhirnya ada teman yang benar-benar mengkhawatirkan dirinya. BI Inah membukakan pintu.
"BI Inah... Tolong ambilkan minum ya buat temanku."
BI Inah tersenyum."Baik nona muda."
Kemudian mereka berdua menuju ruang keluarga.
"Nah begini kan enak." Kata Ani sambil tersenyum. Dilihatnya Monica masih celingak celinguk melihat-lihat rumah Ardan. Mungkin dia juga berasal dari keluarga yang hampir sama. Jadi Ani bisa merasakan rasa takjub yang kini menggelayuti hati Monica. Dulu saat pertama kalinya dia dibawa kesini oleh mang Asep pun dia juga merasakan rasa takjub melihat rumah Ardan.
"Gila rumah kamu." Monica akhirnya mendudukkan bokongnya disofa.
"Bukan rumahku. Ini rumah suamiku."
"Sama aja. Kalian kan sudah menikah."
Ya .... kami memang sudah menikah selama satu bulan namun kami belum menjadi suami istri yang sebenarnya. Kalau kamu tau mungkin kamu akan merutuki aku.
"Sekarang ayo ceritakan. Bagaimana kamu bisa menikah dengan suamimu. Dan terlebih lagi masalah kamu kemarin. Kamu tau nggak aku aja gemes banget pengen jambak-jambak tu cewek. Sombongnya selangit banget. Tapi kenapa kamu bisa setenang itu sih melawan mulut busuk kayak gitu. Kalau aku mungkin sudah aku gampar." Sambil mempraktekkan bahwa dia kini tengah menampar seseorang.
"Hahahaha... Kamu bisa aja sih sampe-sampe dipraktekkan segala." Ani tertawa lepas. Melihat kekonyolan Monica. BI Inah melihat mereka begitu akrab kemudian tersenyum.
Semoga anda tetap bahagia nona muda.
"Ini minumannya nona muda. Apa nona muda juga mau dibawakan cemilan?"
__ADS_1
"Nanti aja bi kita nanti makan aja. Nanggung deh kayaknya kalau cuma camilan." Melirik Monica sekilas dia mengangguk antusias. Ani tau selama bersama Monica beberapa hari dia mengetahui Monica banyak makannya. Dia bahkan tak jaim untuk makan banyak. Padahal gadis-gadis jaman sekarang pasti sudah menjaga badannya dengan diet. Namun bagi Monica tidak ada kata diet. Pantang bahagia sebelum makan banyak.
Akhirnya Ani bercerita banyak tentang kehidupannya.