
"Hei!!" teriak Ardan yang sudah berada diambang pintu masuk warung makan tersebut. Dengan langkah gontai keduanya memasuki warung makan yang ramai pengunjung itu. Wajah Rianna pucat pasi. Sedangkan wajah pak Herman masih syok seakan yang mengajak mereka makan bukanlah Ardan yang biasanya.
"Kalian kenapa sih? Kita gak lagi mau kemedan tempur, muka kayak baju gak disetrika aja." Setelah keduanya mendekat dia kemudian menlangkah masuk kedalam warung tersebut. Meninggalkan keduanya yang seakan berdiri tegak didepan warung makan tersebut.
Bukannya tadi pagi kak Ardan lemes ya? Kenapa mendadak sehat bugar begini? Tatapan penuh selidik tampak menghiasi wajah Rianna. Gadis cantik dengan tinggi semampai itu, mencoba untuk tersenyum berusaha menyenangkan sosok laki-laki yang dianggapnya kakak tersebut. Namun yakinlah dia sudah seperti patung pada umumnya. Diam tak bergeming.
"Tenang aja Ri. Aku tau uang jajanmu nipis kan? Tenang saja makan siang kali ini, kakak yang traktir," kata Ardan sembari menepuk dadanya. Seakan membanggakan diri bahwa dia sedang mentraktir makan kedua manusia yang layaknya patung hidup itu.
Terserah anda tuan muda terserah !! Batin Herman menangis. Namun lagi-lagi hanya mampu meneguk salivanya sendiri.
Begitu seorang pelayan menyajikan makanan mereka hanya Ardanlah disini yang paling antusias. Pak Herman menyikut lengan Rianna.
"Ikuti saja nona. Akhir-akhir ini memang selera makan tuan muda agak aneh," bisik pak Herman dengan suara teramat sangat pelan. Sedangkan Ardan mulai sibuk dengan makan siangnya. Sekali lagi Rianna mengintip pecel lele dihadapannya itu. Terlihat kepala ikan lele. Tangannya gemetar, memang Rianna paling tak suka jika makan sesuatu masih ada bagian kepalanya. Kemudian dengan ragu mengintip pak Herman yang juga mulai mengambil nasi dengan menggunakan tangan. Tunggu....dengan tangan? Seketika matanya membulat sempurna begitu pandangannya langsung menangkap Ardan yang bahkan hampir menghabiskan satu porsi makan siangnya. Bahkan dengan menggunakan tangan. Dia benar-benar seorang yang pekerja keras jadi sudah sewajarnya makan dengan porsi banyak. Rianna masih menatap tak percaya tingkah laku Ardan. Seketika nafsu makan siangnya hilang entah kemana begitu melihat Ardan yang sangat rakus memakan porsi besarnya.
Sepertinya aku lupa tentang tadi pagi. Apa ini yang dimaksud oleh kakak ipar dengan efek kehamilannya? Kak Ardan menjadi rakus? Ya ampun mengerikan..... terus aku harus gimana? glekkk.... Rianna meneguk salivanya. Mencoba menghormati Ardan , seseorang yang sangat penting dalam hidupnya. Dengan perlahan dia mengambil sejumput nasi untuk kemudian dia masukkan kedalam mulutnya.
💞💞💞
"Nona anda baik-baik saja?" tanya Agnes.
__ADS_1
"Iya sudah kubilang aku bak-baik saja. Sana masuklah istirahatlah. Kamu juga capek. Bukan hanya aku," Ani mencoba tersenyum. Akhir-akhir ini memang Agneslah yang terlalu khawatir tentang dirinya. Namun dia sadar mengingat apa yang terjadi belakangan ini seperti ada yang sedang mengincar nyawanya. Jadi wajar saja jika Agnes khawatir yang berlebihan.
"Bunndaaa....," teriak bocah kecil usia tiga tahun lebih. Beberapa bulan kedepan usianya menginjak empat tahun. Bocah laki-laki mungil itu langsung berlari kearah sang bunda. Seakan bundanya adalah hidupnya yang kini telah kembali. Benar-benar menggemaskan. Melihat ekspresi dari wajah tampan itu.
"Ada apa sayang?" Ani duduk di sofa membiarkan anak lelakinya duduk di pangkuannya.
"Bunda tau nggak, Fandi tadi kesekolah bawa mainan. Mainannya gede banget. Terus dia gak mau kasih aku pinjam. Dia jahat kan bunda? Iya kan?"
Ani tersenyum menanggapi ucapan bocah laki-laki kecil itu. Jadi ceritanya dia sedang mengadu karena gak dikasih pinjam. Atau lebih tepatnya, meminta untuk dibelikan mainan model terbaru.
"Iya nak nanti bunda belikan ya, kalau udah dapat uang dari ayah," Ani mengusap puncak kepala Rendy dengan lembut.
"Bukan begitu nak, ayah masih sibuk kerja. Kan nanti uangnya dikasih ke bunda Sama Rendy. Jadi Rendy sabar ya oke?"
"Oke bunda," bocah itu pun tersenyum riang.
Lengkap sudah kebahagiaannku. Kini aku menjadi seorang ibu bagi bayi yang aku kandung. Dan memberikan penghidupan yang layak dan indah untuk anak laki-lakiku. Semoga saja kebahagiaan ini terus berlangsung.
💞💞💞
__ADS_1
"Ya Allah capeknya. Padahal hanya ngerjain tugas sembari momong Rendy. Kenapa tubuhku kaku pegal-pegal begini? Sepertinya aku kelelahan. Nyampek kamar aku mandi dan tidur dulu ah," saat hendak menaiki ujung tangga. BI Inah memanggilnya.
"Nona muda!! Ada yang ingin saya bicarakan,"
BI Inah pun akhirnya mendekat. Kini terlihat bahwa ni Inah tengah memegang sesuatu.
"Katakan !!" ucapku tegas.
"Tadi ada paketan untuk nona. Tapi tak ada nama dan alamat yang tertera di dalam praktek tersebut,"
Saat Ani membuka paketan misterius tersebut. Tiba-tiba saja Ani merasakan mual yang hebat. Seketika dia berlari kearah wastafel.
💞💞💞
**Jangan lupa vote ya biar author bahagia,😂😂😂
Sekalian kalian baca novel author yang satunya. "Belenggu cinta"
Seeyou nextime ya 😘😘😘**
__ADS_1