Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 324. Seperti Terlahir Kembali


__ADS_3

Bab 324.  Pepet terus


Seperti yang dijanjikan, William pada akhirnya pulang ke rumah. Kali ini ia membawa Artur. Sabrina berdiri kikuk, menyambut kedatangan William dan juga Artur. Sedangkan Artur melengos begitu saja.


"Aku di kamar mana, Yah?" tanya Artur.


Di belakang mengekor William, yang sedang melonggarkan dasi. "Di kamar tamu. Di sebelah sana," tunjuk William di salah satu kamar tamu.


Dahi Artur mengernyit. "Aku ingin diatas saja. Pasti kamarnya lebih luas, daripada kamar tamu."


"Tidak ada kamar yang kosong. Hanya tersisa kamar tamu. Bersedia atau tidak," ujar William.


"Apa Uncle ingin makan terlebih dahulu?" tanya Sabrina.


"Boleh." William berjalan menaiki tangga.


Mendengar hal itu, Sabrina berlalu. Meninggalkan Artur yang memaku diri. Lalu remaja itu, berjalan mengekor di belakang Sabrina.


"Kau kenapa bisa, menerima tinggal di rumah kecil begini? Bukankah, kau putri kedua dari kediaman keluarga Wijaya?" pancing Artur.


Sabrina melirik sekilas. Lalu membantu Bibi Rosi dan Agni, untuk menyiapkan makan malam. Tertangkap di telinga Sabrina, Artur berdecak kesal.


"Selain keluargamu gila, kau ternyata tuli ya?" ejek Artur.


Sabrina menghela napas kasar. "Memangnya, kenapa jika aku bersedia tinggal di rumah kecil? Rumah ini milik suamiku, kenapa aku harus protes. Besar atau kecilnya sebuah rumah, belum tentu menjadi patokan seseorang itu bahagia. Sekalipun tinggal di gubug reyot, aku tidak masalah karena aku tetap harus setia dan patuh terhadap suamiku. Sekarang, dia adalah jalanku menuju surga."


Dari kejauhan, William masih mampu mendengarnya. Kata-kata yang sama persis, pernah dilontarkan oleh mendiang istrinya. William menyandarkan kepalanya, di balik tembok. Sungguh, hatinya bergetar mendapati kata-kata Sabrina, yang sama persis dengan kata-kata Michkaela. Sang istri tercinta, tatkala ia sedang terjatuh. Bahkan, ketika itu dirinya dibuang oleh keluarganya. Karena kedapatan menghamili teman sekolahnya. Tanpa memiliki tabungan atau uang. Bajupun hanya menempel di badan.

__ADS_1


Ah, Sabrina. Gadis yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya. Mengapa harus memiliki kepribadian, yang selalu mengingatkannya kepada Michkaela? Kedua pelupuk mata William mengembun. Teringat sekali, perjuangannya dan Michkaela merintis usaha dari nol. Terlebih, membangun perusahaan bahkan saat Michkaela tengah hamil besar. William menutup kedua matanya. Menyebabkan buliran air mata itu, terjatuh begitu saja. Dengan cepat, William segera menghapus air matanya. Menghela napas dan menetralkan degupan jantungnya.


William keluar dari persembunyiannya. Seketika pria itu menundukkan kepala, saat mendapati senyum mengembang di bibir Sabrina.


"Bibi Rosi hari ini masak banyak. Aku sudah bilang Agni, untuk masak banyak tadi ketika masih di perusahaan. Uncle mau lauk apa?" tanya Sabrina.


Gadis itu dengan cekatan mengambil piring dan mengisinya dengan nasi. Lalu terdiam, saat mendapati William masih bungkam. Sabrina menunggu. Hingga tiba-tiba, seseorang merampas piring yang ada di tangannya.


"Hei!" jerit Sabrina. Ia melayangkan tatapan tajam untuk Artur.


"Kau lama sekali!" ketus Artur.


"Di meja makan, jangan ribut," tegur William.


Sabrina mengerucutkan bibirnya. Tatkala mendapati William, justru mengambil piring dan mengisinya dengan nasi. Pandangannya beralih kearah Artur. Yang saat ini justru makan dengan lahap.


Ia lalu menghela napas. Mendudukkan bokongnya di kursi. Lalu mengambil piring, dan mengisinya dengan nasi. Mencomot sepotong ayam panggang dengan sebal.


William tersenyum tipis. Bisa-bisanya mood Sabrina berubah dengan cepat. Diliriknya gadis yang tengah makan dengan tenang itu. Rambut yang dikuncir asal, kaos oblong kebesaran dengan celana hot pants yang menampakkan pahanya yang putih. Sabrina begitu sempurna. Sekalipun, barang yang ia pakai tak memiliki branded apapun.



Dahi William mengerut. Benar. Aku belum memberinya uang belanja. Darimana dia punya uang? Jangan sampai Rendy tahu, keteledoranku. Bisa-bisa dia berbuat nekat kembali. Kata William dalam hati.


"Brina, dari mana kamu dapat uang belanja? Aku padahal belum memberimu, uang belanja," ungkap William.


"Oh, aku masih punya uang jajan," sahut Sabrina singkat.

__ADS_1


"Seberapa banyak uang jajanmu? Beli begini di supermarket, juga habis banyak," sindir Artur.


"Ya. Jika dihitung dari sisa uang jajan yang aku kumpulkan selama 2 tahun ini, ya lumayan. Di sekolah, aku jarang sekali jajan," kata Sabrina enteng.


Merasa tersindir, Artur menjadi tidak terima. "Apa maksudmu? Kau menyindirku?"


Sabrina menghentikan suapannya. Ia menatap Artur dengan seksama. "Siapa yang menyindirmu? Bukankah ayahmu tadi bertanya? Salahku dimana? Aku mengatakan yang sebenarnya. Kenapa malah kau yang sewot? Bukannya kau dan gengmu itu yang paling tahu. Bahkan terkadang aku membawa bekal ke sekolah. Lantas, di bagian mana aku menyindirmu?" Sabrina menekankan kalimatnya.


Imbuh Sabrina, "Aku paling tidak suka, menghamburkan uang.  Membeli barang branded, meminta mobil baru, atau baju-baju mahal, sangat percuma. Toh, seringnya membeli itu semua justru membuat uang semakin hilang tak berguna. Coba bayangkan. Dari satu tas branded atau satu mobil mewah yang kita punya, berapa banyak anak yang tidak mampu bisa kita sekolahkan? Berapa banyak, orang yang bisa kita selamatkan dari sekedar kata kelaparan? Jangan pernah meremehkan, keturunan dari keluarga Wijaya. Atau, kau sendiri yang akan terjebak dalam rasa malu."


Hening melenggang. Sabrina melanjutkan makan malam dalam diam. Sedangkan Artur, ia menundukkan kepala merasa malu. Setiap kata yang dilontarkan oleh Sabrina, bagai belati yang menyayat hatinya. Begitu juga William, sesekali ia melirik Sabrina yang terlihat acuh. Kata-kata yang dilontarkan oleh Sabrina, kembali mengingatkannya pada Michkaela. Dimana Michkaela begitu enggan untuk sekedar, makan mewah di sebuah restoran. Memilih memasak sendiri, dalam keadaan hamil 8 bulan. Padahal kehidupannya lebih baik, semenjak usia kehamilan Michkaela menginjak 6 bulan.


Ya Tuhan. Kenapa Sabrina, semakin mirip dengan Michkaela? Hati, ketegasan, dan keceriaannya semua hampir sama! Tolong, Ya Allah. Jangan siksa hatiku. Jika terus begini, aku semakin ragu untuk melepasnya. William membatin sendu.


Saat ia dan Artur hendak beranjak dari meja makan, terlihat Sabrina justru membawa kembali lauk dan sayur itu ke dapur. Karena tidak ada sekat, tentu saja William dan Artur dapat melihatnya dengan jelas.


"Kenapa kau menyimpan kembali lauk itu?" sinis Artur.


"Mubadzir untuk dibuang, bisa dimakan Bibi Rosi, Agni dan Pak Ujang." Sabrina lalu mengumpulkan semua piring-piring kotor, yang ada di meja makan.


Merasa degupan jantung tak aman, William berjalan pergi meninggalkan ruang makan. Disusul dengan Artur. Remaja itu cukup kaget, Sabrina berasal dari keluarga berada. Akan tetapi, ia tak malu mengumpulkan semua piring-piring kotor.


"Aku tak mengerti dia," lirih Artur.


Di dalam kamar, William menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang. Semakin ia dekat dengan Sabrina, ia seperti melihat Michkaela hadir kembali. Seolah cintanya itu, telah terlahir kembali.


Kenapa jadi begini? William membatin sendu.

__ADS_1


__ADS_2