
Dion masih aktif menelusuri setiap inchi tubuh milik istrinya. Kulitnya yang mulus dan seputih susu membuatnya begitu indah dimata Dion. Bahkan kini wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu tengah polos tanpa sehelai benangpun. Laki-laki itu masih setia dengan kegiatannya.
Apa sih yang dia pikirkan? Kenapa dia jadi begini? Bukankah dia sudah sering enak-enak dengan wanita lain? Lalu kenapa sekarang laki-laki ini begini padaku? Padahal kami sebelumnya sering cekcok satu sama lain. Dan kenapa aku juga mulai menikmatinya. Si*l, aku nggak bisa terus begini.
"Hei, sudah ya. Kita jalan-jalan dulu yuk. Selama kita disini kita bahkan nggak pernah kemana-mana," jurus pertama dikeluarkan, rayuan. Tapi dasar wanita itu tak pernah menjalin hubungan dengan lelaki manapun. Lidahnya seakan kaku mengeluarkan kata-kata sayang. Rasanya sebelum kata sayang itu keluar, dia sudah merinding terlebih dahulu.
"Jangan banyak bicara. Atau aku akan kasar seperti waktu itu,"
Hening. Agnes diam membisu tanpa ada lagi kata membantah yang keluar dari mulutnya. Dia ingat betul saat itu, laki-laki itu menyentuhnya dengan kasar. Hingga membuat lubang kenikmatan miliknya sangat perih. Lebih baik menurut begitu pikirnya berperang.
Kini olahraga malam itu terjadi kembali. Kali ini lebih lembut. Karena tidak ada pemberontakan sama sekali dari wanitanya. Percintaan semakin memanas. Membakar setiap sendi keduanya. Menjalar dan kian merebak hingga keduanya mencapai tingkat tertinggi dalam percintaan mereka.
"Aaahhh," lolos sudah dari bibir Agnes ketika wanita itu telah mencapai puncaknya. Namun Dion sepertinya masih bisa bertahan sedikit lagi.
Ceplok ceplok ceplok ceplok ceplok ceplok ceplok ceplok ceplok ceplok ceplok ceplok.
__ADS_1
Terdengar suara ritme cairan percintaan milik keduanya.
"Sedikit lagi....aaaaaah," kini Dion menyusul Agnes mencapai klimaksnya.
Entah sadar atau tidak Dion mendaratkan beberapa ciuman diwajah istrinya. Kini tubuh keduanya lemas tak bertenega. Dion ambruk disamping tubuh istrinya. Kemudian menatap lekat wajah istrinya. Sepertinya Agnes langsung tertidur begitu dirinya sudah mencapai klimaksnya. Seolah tubuhnya tak bertenaga sama sekali.
"Tidurlah. Maaf memaksamu lagi. Aku tak bisa lagi mengendalikan tubuhku ketika bersamamu. Tubuhku seperti disengat aliran listrik yang kuat. Dan tubuhmu seakan candu bagiku. Aku tak bisa lagi membedakan antara nafsu dan benih cinta. Tetapi jika memang yang aku rasakan adalah sebuah rasa cinta, izinkan aku terus memupuknya. Agar rasa cinta ini melekat dihatiku. Aku sepertinya mulai menyukai pernikahan paksa kita. Sangat konyol bukan? Kita bagaikan Tom dan Jerry, tetapi pada akhirnya kita malah bersatu dengan pernikahan kita yang terasa konyol itu. Bukankah konyol? Kita menikah karena kedua orangtua kita saling memaksa kita. Tapi pada akhirnya pernikahan ini tidak buruk juga. Aku tarik kata-kataku waktu itu. Sekarang aku malah jatuh kedalam belenggumu," mencium kening istrinya cukup lama. Kemudian dia menarik sebuah selimut tebal untuk menutupi tubuh polosnya dan juga istrinya. Sebuah senyum tersungging dibibir laki-laki itu. Sebelum akhirnya ikut terlelap kealam mimpi.
*******
"Kau sudah bangun?" sebuah suara yang akhir-akhir ini seringkali memenuhi gendang telinganya. Mengedarkan pandangan mengelilingi seisi ruangan kamar itu. Matanya berhenti saat melihat sosok wanita dengan rambut pirang yang sudah dikepang satu. Seperti biasa, wanita bule itu memakai dress selutut. Kali ini dengan motif bunga-bunga. Terlihat sederhana memang, namun aura kecantikan dari wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu memancar begitu kuat. Seakan keindahan dan kecantikannya melekat sempurna dalam kehidupannya.
"Selamat pagi," sebuah senyuman terukir dibibir Dion.
"Pagi apanya? Ini sudah siang!" melemparkan sebuah boxer underwear milik Dion. "Cepat pakai. Hari ini terakhir di Bali, aku ingin jalan-jalan. Aku harus membeli oleh-oleh untuk Ani dan Monica. Ah Rendy dan Rianna juga. Cepat pergilah mandi dan bergegas. Nanti malam kita akan pulang bukan? Besok adalah hari pernikahan Monica dan Kevin. Kau tidak lupa kan?"
__ADS_1
Dion tersenyum. Wanita itu terlihat begitu menggemaskan ketika mengoceh panjang seperti ini. Jangan lupakan raut wajahnya ketika sedang kesal. Benar-benar imut dan menggemaskan dimata Dion.
"Baiklah-baiklah. Hari ini adalah harimu. Lakukan semua hal yang kau inginkan. Aku akan menurutimu kali ini," Dion memakai boxer miliknya. Bergerak perlahan menuju kamar mandi.
"Benarkah? Kau jangan ingkar janji ya?" teriak Agnes dari kejauhan.
"Tidak akan!"
Entah berapa lama Dion membersihkan dirinya. Kini laki-laki itu terlihat membuka pintu kamar mandi dengan handuk kecil yang melilit di pinggangnya. Mata Agnes melebar begitu melihat penampakan didepan matanya. Segera dia menyambar ponselnya dan mulai berselancar di aplikasi yout*be. Dion hanya meliriknya sekilas dengan senyum yang masih menghiasi bibirnya.
"Ayo, kau hari ini mau pergi kemana?" Dion kini muncul dengan pakaian casualnya. Jaket Denim dengan bawahan celana panjang jenis Chino dan sneaker berwarna putih yang membuatnya semakin maskulin.
Deg deg deg. Gila jantungku. Control, Agnes control!
"Ckckkckck kau mau berdiri disitu atau jalan-jalan?" suara Dion mulai naik satu oktaf melihat istrinya yang justru diam mematung ditempat.
__ADS_1
"I...iya," setengah berlari untuk bisa segera sampai disamping Dion. Sial*n mikir apa sih aku ini?