
Elena mematung. Sejenak meresapi apa yang dikatakan oleh Mariani. Gadis itu menatap tajam ada sebuah kotak bekal yang sudh disiapkan oleh Marianu untuk bekal makan siang Rendy.
"Kenapa Nak?" tanya Mariani heran.
"Tapi Elena tidak tau dimana perusahaan pa- maksudku Rendy, Bunda," ucap Elena terbata. Gadis itu terbiasa memanggil Rendy dengan panggilan paman. Tidakmungkin juga mengatakannya dihadapan kedua orangtuanya bukan? Mereka pasti akan curiga.
"Nanti akan diantar oleh Kin. Mumpung anak itu sedang libur. Kamu belum kenal Kin ya? Umurnya dua tahun lebih muda darimu. Tapi dia anak yang baik kok."
"Begitu ya, hehe." Tidak tega. Begitulah kata hati Elena. Gadis itu tak tega untuk menolak permintaan dari Mariani. Hingga pada akhirnya dia berakhir di teras saat ini. Menunggu Kin yang sedang mengambil sepeda motornya.
"Hei onta! Cepat naik!" Kin berseru lantang. Elena menautkan kedua alisnya. Bocah remaja itu sudah memakai helm dikepalanya. Elena mematung. Menoleh kiri dan kanan. Nihil, hanya dia disana. Lalu siapa yang tengah dipanggil onta okeh bocah tengil itu?
"Sialan! Lu mau ke perusahaan kak Rendy tidak?" teriak Kin yang sudah mulai emosi.
"Hiss! Namaku Elena! Bukan onta!" teriak Elena. Namun gadis itu tetap saja mendekati Kin.
"Lu Elena?" tanya Kin sembari membuka kaca helm miliknya menatap tajam Elena yang malah membentaknya.
"Kau mau jalan tidak? Aku sudah pakek baju begini, malah pakek motor. Kenapa nggak pakek mobil?"
"Eh oncom! Lu kate umur gua berapa? Kagak bakalan diijinin sama ayah. Gua tanya lu Elena?" tanya Kin sekali lagi.
"Eh b*dek! Aku udah bilang namaku Elena. Kenapa sih kamu emosian begini? Apa kalian kakak adik suka banget marah, ngomel, dikit-dikit ngatain. Buruan gak! Mana helmnya! Aku aja nggak permasalahin namamu."
"Lu nggak inget nama gua?"
__ADS_1
Elene memutar kedua bola matanya kesal. Apa lagi sekarang ini?
"Kin! Namamu Kin! Bunda udah ngasih tau. Makanya aku kasih tau namaku bukan onta! Tapi Elena! Mana helmnya?"
Kin bungkam. Tetapi memberikan helm kepada Elena. Perasaannya campur aduk. Bukankah kemarin aunty Monica kemari? Jika dia Elena mereka pasti sudah membawa Elena pulang. Memang sudah belasan tahun berlalu. Mungkin bagi yang lain keberadaan Elena mungkin saja benar-benar sudah tiada. Tetapi yang aku ingat, kak Rendy sangat berhati-hati dalam berteman. Terlebih wanita. Jika dia menempatkan Elena ini disisinya, pasti ada hal besar dibaliknya. Dasar! Pengamatannya maaih tajam juga.
"Oncom, kapan kita berangkat? Masa mandeg begini? Aku udah naik nih," ucap Elena.
"Oke." Sejenak Kin tersadar dari lamunannya. Lelaki remaja itu memilih untuk tidak berdebat dengan Elena.
Tapi sepanjang perjalanan Elena menggerutu kesal. Lantaran sudah dipaksa memakai dress yang katanya akan lebih cantik dan anggun oleh bundanya Rendy. Kemudian dia harus menenteng 2 rantang makanan. Ditambah yang lebih menyedihkan lagi adalah, dia harus ikut Kin naik sepeda motor. Hingga sudah sampai di depan perusahaan Rendypun, Elena masih saja mengomel tanpa henti.
"Harusnya tadi aku benar! Pakek celana jeans lebih baik! Hei aku tinggal mencari nama kakakmu kan?" tanya Elena ragu setelah melihat perusahaan yang gedungnya mencakar langit.
"Hem." Kin meraih helm yang ada di tangan Elena. Malas menanggapi mulut emak-emak Elena yang mengomel sepanjang perjalanan. Kin segera berlalu begitu saja meninggalkan Elena yang tengah melongo di depan perusahaan Rendy. Begitu dia berbalik, Kin telah raib dari tempatnya.
Elena kembali melangkahkan kakinya ke dalam perusahaan itu. Memang sebuah perusahaan yang besar sekali. Pantas saja begitu sombong. Sultan mah bebas. Begitulah Elena membatin.
"Maaf mau tanya, dimana ya ruangan pak Rendy?" tanya Elena.
Hening. Tak ada yang menjawab. Mereka lebih memilih bermain dengan ponsel mereka masing-masing. Mungkin suaraku belum terdengar oleh mereka. Pikir Elena.
"Permisi kak. Mau tanya, dimana ruangan pak Rendy?" tanya Elena sekali lagi.
"Ckckk apa sih?" tanya seorang reseptionist itu dengan nada yang tak enak.
__ADS_1
"Saya mau mencari pak Rendy. Ruangannya dimana ya?" tanya Elena masih bersabar.
"Mau apa bocah kecil sepertimu mencaei presdir? Apa mau meminta pertanggung jawaban kalau kamu hamil begitu? Cih. Benar-benar usaha yang pasaran. Pergilah, jangan kembali lagi." Temannya menyahutinya bahkan jawabannya benar-benar menganggap Elena rendahan.
"Saya hanya disuruh bundanya pak Rendy untuk mengantarkan makan siang untuk beliau kak. Boleh saya tau dimana ruangannya?" Elena kembali bersikukuh. Ini adalah pesan orangtua.
"Kamu itu b*dek ya? Bocah kecil pulanglah. Jangan menggoda orang besar. Mana pakek bawa-bawa makanan sampah begitu. Mana mungkin presdir mau makan makanan rakyat begitu? Satpam!" panggilnya kepada seorang satpam yang ada di sana. Terlihat satgam itu tergopoh-gopoh menghampiri mereka.
"Ya nona, ada yang bisa saya bantu?"
"Usir gadis nakal ini. Dia mau menggoda presdir." tunjuknya pada Elena.
"Dik mari ikut bapak. Jangan disini. Adik menggoda pria besar. Lebih baik dirumah saja belajar." Lelaki itu menyeret lengan Elena.
"Tunggu tunggu, aku mengatakan yang sebenarnya! Aku tidak berbohong. Aku hanya menyampaikan pesan dari bunda Rendy!" Elena terus berteriak dan memberontak. Nihil, tidak ada yang berniat untuk membantu Elena.
Traaakkkk. Bekal makanan yang dibawa oleh Elena terjatuh. Kedua matanya membeliak kaget. Seketika dia mengeratkan lehernya dan segera menginjak kaki dua orang satpam yang tengah menarik tangannya. Membuat kedua satpam itu melepaskan tangannya.
"Jika kalian ingin menghinaku, maka hinalah aku. Jika kalian ingin memukulku, maka silahkan kau pukul. Tapi tak seharusnya kalian membuang masakan yang telah dimasak oleh seorang ibu. Dia bahkan memasak ini dengan penuh cinta. Berharap putranya akan memakannya. Tapi kalian membuat masakan itu terjatuh! Dimana attitude kalian? Kalian merasa paling hebat? Kalian merasa paling pintar? Apa ini cara perusahaan ini menyambut seorang tamu? Presdir kalian benar-benar buta karena menerima kalian!" Elena meluapkan emosinya. Dia yang selama ini tak pernah memiliki keluarga lengkap saja sangat ingin merasakan bagaimana rasanya disayangi, dan dibuatkan bekal. Dadanya pun terasa bergemuruh. Emosinya meluap luap.
"Dasar kau bocah!" seorang wanita bagian reseptionist mengangkat tangannya hendak memberikan sebuah tamparan pada Elena. Namun tiba-tiba saja dari arah belakang melayang sebuah pot bunga dan melukai wanita itu. Tentu saja wanita itu tersungkur. Didahinya terdapat sebuah goresan luka.
"Siapa yang berani menyentuh wanitaku?" sebuah suara bariton yang begitu Elena kenal hadir mengagetkan mereka semua. Terlebih para karyawan yang saat itu juga sedang berada disana.
__ADS_1
"Pres-Presdir?"