
Semuanya terdiam dan hanya bisa saling pandang. Tatapan mengerikan dari Ardan seakan menerobos masuk ke ulu hati mereka. Tetapi yang membuat mereka semua bertanya-tanya, apa maksud dari nasi goreng?
"Katakan! Apa kalian berempat itu tuli?" Ardan semakin meninggikan suaranya.
"Anu tuan muda, kami berempat berada disini. Tidak ada yang pergi kedapur sama sekali," Jack seakan mengatakannya dengan tenang. Tapi tubuhnya bergetar.
Ya ampun, siapa sih yang iseng ngambil nasi goreng itu? Dan hanya karena nasi goreng aja tuan muda begini marahnya. Jesslyn.
"Jack! Kalau kalian tak ingin dihukum cepat katakan siapa yang mengambil nasi goreng milikku!"
Semuanya kembali tertunduk. Tak ada yang berani menatap mata tajam milik Ardan. Kini mata Ardan beralih pada Lita. Gadis itu adalah gadis yang jujur dan masih polos.
"Lita, katakan siapa yang mengambil nasi goreng didapur?"
Lita mengangkat kepalanya. Suara Ardan kali ini lebih lembut.
"Jangan takut cepat katakan,"
"Menurut saya tidak ada yang ke dapur tuan muda,"
Ardan menautkan kedua alisnya.
"Kau yakin?" penuh tekanan. Rasanya mereka berempat sudah seperti seorang pencuri berlian saja. Kalau berlian mereka bisa untuk banyak sih. Tapi kalau nasi goreng? Ah sudahlah beginilah nasib orang bawah. Hiks.
"Benar tuan. Kami berempat berada disini terus. Meskipun aku dan Jesslyn tak menyukai sinetron azab itu kami lebih memilih berada disini. Karena nanti Jack dan Kaisar akan mogok bicara pada kami berdua,"
__ADS_1
Kedua pasang mata milik Jack dan Kaisar membulat sempurna. Bisa-bisanya Lita mengadukan hal itu kepada tuan muda mereka. Sedangkan Ardan hanya bisa melongo mendengar penuturan dari Lita.
Lita! Kenapa kamu membawa namaku! Jesslyn meremas ujung kaos sweternya.
"Sepertinya aku harus menghukum kalian berempat,"
Keempat orang itu kini semakin menundukkan kepalanya.
*****
Kedua kelopak mata Ani nampak bergerak. Tangannya meraba ranjang disampingnya. Kosong, secepat kilat kedua matanya kini terbuka lebar.
"Kemana mas Ardan? Kenapa belum kembali?" matanya menoleh kearah jam dinding. "Sudah jam 10 malam kenapa belum kembali ke kamar?"
Wanita itu mulai bangkit. Dengan sesekali menguap dia akhirnya berjalan untuk mencari suaminya.
Sesaat dirinya mendengar keributan. Perlahan dia mengikuti asal suara. Suara itu datang dari arah ruang keluarga.
"Ini sudah jam 10 malam, siapa malam-malam begini bikin keributan?" Ani kemudian mengendap-endap menuju asal suara itu. Matanya menyipit dan kemudian beberapa saat matanya justru melebar sempurna. Pemandangan didepan matanya membuatnya melongo.
"Apa yang kalian semua lakukan?" kini mereka semua menoleh kearahnya. Begitu pula sosok yang tengah dicarinya. Siapa lagi jika bukan Ardan. Laki-laki maskulin itu sedang memangku sebuah laptop. Seperti sedang mengerjakan suatu pekerjaan. Ardan menoleh kearah sumber suara yang ternyata istrinya. Mati aku. Umpat Ardan dalam hati.
"Sayang...kenapa kau turun?"
Tolong jangan bertanya tentang nasi goreng itu sayang.
__ADS_1
"Kenapa mas Ardan ada disini? Ini sudah jam 10 malam lebih lo,"
Ani menatap lekat suaminya yang masih terdiam. Kini matanya beralih kepada ke empat orang yang menjadi bawahan suaminya.
"Ini sudah jam 10 lebih kenapa kalian malah mengepel lantai?"
Benar sekali, hukuman yang dimaksud Ardan adalah mengepel lantai. Lita dan Jesslyn kebagian menyapu. Sedangkan Jack dan Kaisar mengepel lantai dengan kain. Bukan dengan alat pel lantai.
Tidak ada jawaban maupun pergerakan dari keempat orang itu. Seakan semuanya membisu dan hening seketika sesaat dia memasuki ruangan itu.
"Kenapa kalian semua diam?"
"Sayang aku sedang menghukum mereka," Ardan meraih tangan istrinya.
"Menghukum? Kesalahan mereka apa?"
"Mereka mencuri sayang,"
Seketika Ani menoleh kembali kearah mereka berempat. Suasana kembali mencekam. Bukan hanya Ardan saja tapi keempat orang itu juga merasakan hal yang sama.
Astaga kenapa aku merinding begini ya? Jesllyn.
Aura membunuh ini mah! umpat Jack.
Apa nona muda marah pada kami? Lina meneguk salivanya.
__ADS_1
Sebenarnya ini masalah apa sih? Kenapa aku merasa kami berempat ini seakan narapidana saja? Aku merasa bingung kenapa aku berada disituasi ini. Aku ini dimana? Aku siapa? Dan salahku juga apa? Kaisar.