Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 163


__ADS_3

Baru beberapa detik kedua bibir itu saling menempel namun tiba-tiba saja Dion terjengkang hingga laki-laki itu mencium lantai.


"Dasar kadal buntung! Kau pikir aku mau kau cium? Sekali lagi kau berbuat ulah, kupatahkan lele beruratmu!" dengan segera Agnes bergumul dengan selimut tebal. Menutupi seluruh tubuhnya. Yakinlah gadis itu lebih cocok disebut dadar gulung. Karena seluruh tubuhnya tertutup selimut tebal.


Dion yang jatuh itu pun segera bangun. Giginya bergemelutuk. Harga dirinya sebagai pemikat wanita pun luruh seketika. Karena mendapatkan tamparan keras dari seorang gadis yang kini sudah sah sebagai istrinya itu.


"Dasar kau istri durhaka! Kau membuat suamimu jatuh mencium lantai! Kau benar-benar minta diberi pelajaran rupanya!


"Hei! Maju selangkah saja kau akan tau akibatnya! Lele beruratmu itu akan aku patahkan sehingga kau tidak akan bisa mencelupnya kelubang manapun!"


"Lele berurat?"


"Memangnya apa lagi?! Kalau bukan senjatamu itu! Yang kau gembol kemana-mana itu!"


"Kau mengatai senjata pamungkasku ini dengan sebutan lele berurat! Kau benar-benar mengujiku ya!"

__ADS_1


"Aku mengatakan yang sebenarnya! Bentuknya saja seperti itu kau malah menyebutnya senjata pamungkas! Diamlah kadal buntung! Aku mau tidur. Kalau kau masih menggangguku, lihat saja akan ku tendang telurmu itu hingga menetas!" teriakan Agnes membuat Dion meneguk saliva. Laki-laki itu terdiam seketika.


Dion menatap tubuh tergulung selimut itu dengan tajam. Gadis itu perlahan memejamkan matanya. Perlahan nafasnya mulai teratur.


Tunggu, bukankah ini kamar ku? Lalu kalau aku tidak boleh mengganggunya aku tidur dimana? Ah sudahlah, dia bilang aku hanya tidak boleh mengganggunya saja bukan? Itu berarti dia tak melarangku untuk tidur di sebelahnya.


Dengan perlahan Dion merangkak naik ke tempat tidur. Gadis itu tidur membelakanginya. Dengan pembatas guling dibelakang punggungnya. Dion menatap tubuh tergulung itu dengan seksama. Perlahan dia merebahkan tubuhnya di ranjang.


Kenapa aku seperti maling saja? Padahal aku hanya mau tidur di sebelahnya!


💞💞💞


Agnes mengerjapkan kedua matanya. Karena sinar mentari pagi mulai menerobos masuk melewati celah-celah jendela. Seakan terusik teriknya mentari, Agnes mengubah posisinya. Gadis itu merenggangkan otot-ototnya yang mengencang. Namun tiba-tiba matanya menangkap sosok asing disampingnya. Matanya membulat begitu mengetahui siapa laki-laki itu.


"Dasar kadal buntung! Kau bahkan naik di tempat tidur!"

__ADS_1


Seketika Agnes terdiam. Kemudian dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ini bukan kamarnya.


"Ah," gadis itu segera turun dari tempat tidur.


Sial bagaimana bisa aku kecolongan seperti ini? Seharusnya aku sadar jika ini bukan kamarku! Tapi sialnya gara-gara pengaruh obat aku jadi cepat mengantuk dan tidur! Bisa-bisa kamu tidur di kamar laki-laki brengs** ini Agnes!


"Kau sudah bangun?" suara serak khas orang bangun tidur pun terdengar. Sebuah pergerakan di ranjang membuat Agnes memperhatikannya dengan seksama. "Mandilah, aku buatkan sarapan dulu,"


"Kau bisa memasak?"


"Aku hanya bisa membuat omelet. Mandilah, aku yakin perutmu juga lapar," Dion mengucek perlahan matanya. Gadis itu masih mematung di tempatnya.


"Aku mandi dulu," seketika Agnes berjalan tertatih-tatih ke kamar mandi. Wajahnya sudah merona karena malu.


Deg deg deg

__ADS_1


Ya ampun jantungku. Please jangan lari maraton begini! Hanya karena dia mau bikinin aku sarapan aja aku seperti ini. Bisa gawat kalau kami berdekatan. Lebih baik aku menjaga jarak.


__ADS_2