
Brak.
William melemparkan banyak sekali coklat di atas meja makan. Pulang bekerja, ia mendapati sebuah kotak yang teronggok begitu saja, di depan pintu. Setelah melihat paket untuk Sabrina, William pun membukanya.
Alhasil, hatinya bergejolak. Ia melemparkannya begitu saja di meja makan. Di mana Artur dan Sabrina, tengah mengerjakan tugas sembari makan cemilan. Tentu saja, kedua tubuh bocah remaja itu terjingkat kaget.
"Un-Uncle," cicit Sabrina.
"Lihat! Bahkan ada sekotak coklat sore ini! Padahal baru tadi pagi, aku mendapati sebuah bunga yang juga untukmu! Katakan, siapa laki-laki yang berani mengirim coklat itu padamu?" Suara William terdengar menggelegar.
Artur melihat dua orang di depannya yang tengah bersitegang. Tetapi pandangan Artur kini lebih ke arah Sabrina, yang seolah takut dengannya. Artur menghela napas. Ia baru sadar sekarang. Jika hanya di hadapan ayahnya, sikap Sabrina berbeda sekali.
"Dia, benar-benar bodoh jika di hadapan ayah," batin Artur.
"Ayah, dengar dulu. Itu hanya dari bocah yang tidak penting. Selama di kampus, aku selalu bersama Sabrina. Jadi, aku sangat yakin jika hal ini juga tidak diketahui Sabrina. Tadi, Artur juga ada di sana. Saat Sabrina melarang bocah brengs*k itu untuk mengirim apapun," terang Artur.
__ADS_1
Mendapat pembelaan dari Artur, Sabrina menganggukkan kepala berulang kali. Sedangkan William, menatap Artur dengan seksama. Rasanya tidak mungkin jika Artur mengkhianatinya.
"Baiklah! Lain kali, buang saja semua yang dia kirim! Bibi Rosi!" teriak William.
Bibi Rosi akhirnya berjalan tergopoh-gopoh karena suara William yang meninggi. "I-iya, Tuan."
"Jika ada paket dengan nama Sabrina, lebih baik buang saja! Apapun itu!" William menekankan.
"Baik, Tuan," jawab Bibi Rosi.
"Artur, ayahmu menyeramkan ketika marah," cicit Sabrina. Gadis itu masih mematung di tempatnya.
"Kau harusnya berterima kasih denganku," timpal Artur.
Mendengar itu, Sabrina mengambil uang di dompetnya. Lembaran seratus ribuan ia keluarkan untuk Artur. Membuat senyuman di bibir Artur terbit. Segera Artur mengambil uang jajan tambahan dari ibu sambungnya itu.
__ADS_1
"Menyenangkan sekali berbisnis denganmu, Sabrina. Tapi, aku heran. Kenapa Lexi bersikeras mengirimmu coklat?" Artur menautkan kedua alisnya.
"Artur, jika begini terus aku bisa pingsan lama-lama. Tapi, ini aneh. Bukankah sebelumnya aku bahkan mendapatkan banyak coklat yang lebih banyak dari ini sebelumnya? Tiba-tiba berhenti tidak ada lagi. Lalu ada satu orang yang mulai mengirimku sesuatu lagi. Tapi, bedanya aku tahu jika ini dari Lexi. Aneh bukan?" curiga Sabrina.
"Ya Tuhan! Ini orang jika berhubungan dengan masalah sepele, kenapa bod*h begini?" Artur membatin.
"Mereka berhenti, karena mendengar gosip kita pacaran. Jika tidak, mungkin sampai detik ini, kau masih menerima paket. Kau itu jangan sedikit-sedikit curiga, Sabrina. Ini sudah kan? Aku kembali ke kamarku ya? Bye," pamit Artur.
Ia segera merapikan buku-buku miliknya. Lalu meninggalkan Sabrina sendirian. Gadis itu menghela napas. Belum selesai masalah satu, sudah muncul masalah baru.
"Bagaimana aku tidak curiga? Sedangkan ada banyak sekali hal mencurigakan di sekitarku. Sudahlah, lebih baik aku melihat Uncle William dulu." Sabrina mulai membereskan buku-bukunya.
Gadis itu pergi meninggalkan dapur. Ia berjalan menuju kamarnya. Di dalam sana, William baru saja keluar dari kamar mandi. Tentu saja dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Sontak saja, Sabrina berbalik. Menyelamatkan kedua mata agar tak seenaknya memandang hal yang menyenangkan mata.
"Ngapain di sana, Sabrina?" tanya William.
__ADS_1
"Mati, aku!" lirih Sabrina.