Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 404. Sweet Night.


__ADS_3

Alhamdulillah. Buku Elegi Buana sudah sampai ke tangan 3 pemenang hore! Sekarang waktunya berbenah diri. Ditunggu ya untuk dua orang pemenang novel Kapten Rojali, I Love You!😊 masih sedang dalam proses naik cetak. Terima kasih😍😍


William menggiring Sabrina menuju tepian ranjang. Dilihatnya wajah Sabrina yang masih saja gelisah. William tahu, jika Sabrina menyembunyikan sesuatu di belakangnya. Akan tetapi, William memilih menghargai keputusan Sabrina. Mungkin jika waktunya telah tiba, William yakin. Sabrina akan mengatakan hal yang selama ini ia sembunyikan.


"Honey? Kau mendengarku?" Suara William menyentak Sabrina. Gadis itu terlihat gelagapan.


"Aku baik-baik saja, Honey. Em, ayo kita tidur. Honey pasti capek karena seharian ini telah bekerja." Sabrina merangkak naik ke tempat tidur.


Sejenak William mematung. Akan tetapi sebuah pikiran nakal berkelebatan di kepalanya. Pria itu mengulas senyuman seringai. Lalu memeluk Sabrina dari belakang dan menarik tubuh gadis itu. Sontak saja, Sabrina terjatuh dalam dekapan sang suami tercinta.


"Kau ini selalu saja melupakanku, Honey. Kau keterlaluan. Sepertinya aku harus memberimu hukuman sedikit sebelum tidur." William menatap penuh berkabut.

__ADS_1


Mendengar penuturan William, kedua mata Sabrina mendelik. Gadis itu mulai mengerti isi dari kepala William. Sabrina perlahan mencoba bangkit. Sayangnya pergerakan William lebih cepat. Pria itu menangkup wajah Sabrina dan mencium bibir Sabrina yang ranum.


Pelan-pelan William merebahkan tubuh Sabrina di atas ranjang tanpa melepaskan ciuman bibir tersebut. Bagi William entah sejak kapan bibir Sabrina yang berwarna merah muda itu menjadi cantu untuknya. Sabrina bahkan kini mulai menikmati ciuman tersebut.


Tangan William mulai menggerayangi tubuh Sabrina yang hanya terbalut kaos tipis. Deru napas keduanya semakin memburu. Hasrat kian membumbung tinggi. William segara melucuti satu-persatu pakaian yang melekat di badan Sabrina. Pria itu melepaskan ciuman di bibir Sabrina. William tanpa menunggu lama lagi, juga mlepaskan satu-persatu pakaian yang melekat di badannya.


Sekilas, William menatap tubuh polos Sabrina di bawah kungkungannya dengan pasrah. Tampak di kedua mata Sabrina terdapat kabut gairah yang juga ada cinta tulus untuknya. William kembali mendaratkan bibirnya di bibir indah Sabrina. Mengecupnya pelan.


Melepas ciuman sebentar, William berkata, "Kau memabukkan untukku, Honey. Aku tidak akan melapaskanmu. Sungguh, jika aku bisa mengikatmu dan mengurungmu di rumah, mungkin aku akan melakukannya juga. Sayangnya aku tak bisa. Maka dari itu, teruslah ingat. Jika aku bisa menghukummu sesuka hatiku, Honey."


"Ya ampun. Aku benar-benar tak menyangka jika Uncle William bisa seagresif ini. Dulu dia selalu menganggapku kuman. Sehingga selalu menjaga jarak. Tapi sekarang, justru kami bisa saling bergelung di bawah selimut yang sama," batin Sabrina dalam hati.

__ADS_1


Seketika William melepaskan ciumannya di bibir Sabrina. Menyadari William melepaskan ciuman, Sabrina mendadak tak rela. Ditatapnya William seolah meminta jawaban. Tetapi William justru mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar. Sekilas William tersenyum setwlah menemukan sesuatu. Pria itu kembali menatap Sabrina dengan rona bahagia.


"Coba yang baru yuk!" rajuk William.


"Hah? Apa yang baru?" Sabrina melongo.


Dengan senyum yang mengembang di bibir, William menarik tangan Sabrina. Dalam kebingungan, Sabrina hanya bisa mengikuti tarikan tangan William ke arah meja kayu yang ada di kamar utama.


"Honey, merunduklah. Taruh badanmu di atas meja ini," pinta William.


"Hah? Mak-maksudnya bagaimana?" Sabrina masih saja tak mengerti.

__ADS_1


Merasa penjelasannya sia-sia, William memposisikan Sabrina membungkuk. Hanya saja, kali ini tubuhnya menelungkup di meja. Hawa dingin dari meja kayu itu begitu terasa di bagian dada milik Sabrina. Tiba-tiba satu tepukan mendarat di panta* Sabrina. Gadis itu menjerit reflek. Lalu William merapatkan tubuhnya ke ****** Sabrina. Lagi-lagi Sabrina dibuat terkejut. Sesuatu yang sangat keras dan panjang menempel di kulit-kulit tubuhnya.


"Aku sudah sangat lama menantikan hari ini, Honey. Lihat milikku." William menggesek pusaka miliknya dengan pelan ke ****** Sabrina. Kedua mata gadis itu membulat sempurna. Imbuh William, "Ini sebagai pembuktian. Hanya kau wanita yang bisa membuatnya memiliki rumah untuk pulang."


__ADS_2