Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 352. Mahasiswa Baru


__ADS_3

...Yang Belum beruntung mendapat Novel gratis dari author, masih ada 2 buku gratis lagi. Jadi, kalian masih bisa mendapatkannya. Novel berjudul Kapten Rojali, I Love You dua buku siap untuk dipeluk kalian. Caranya gampang, cukup like dsn komen setiap author up ya. Salam sayang dari author ☺...


"Wah, Artur? Kau dengan Sabrina? Pajak jadian!" cetus salah satu teman Artur.


"Bener, Bro! Mengingat kita sahabat, kamu wajib traktir kita-kita! Mana wajah Sabrina bule lagi. Aduh! Bisikin juga dong, rahasianya apa?" timpal teman Artur yang lain. 


Saat ini mereka tengah berkumpul di kantin. Wajah Artur tampak berbeda. Raut wajah yang tak suka itu, menatap wajah temannya satu persatu. Artur menggeram pelan. Memikirkan alasan apa yang sekiranya masuk akal. 


"Tidak mungkin aku mengatakan jika Sabrina adalah istri ayahku. Mereka pasti akan kepo terlalu dalam. Menyebalkan!" gerutu Artur dalam hati.


"Hei, kakak ipar!" Teman Artur memanggil sebutan yang aneh di telinga Artur. 


Sejenak Artur menoleh ke arah temannya itu. Dixton. Artur mengikuti tatapan mata Dixton yang mengarah pada --Sabrina? Kedua iris hanzel milik Artur melebar.


"Dixton!" seru Artur.


Dixton mencebikkan bibirnya. Mengabaikan Artur, Dixton kembali berteriak, "Sabrina! Kemarilah! Di sini ada bangku kosong!"


Artur melebarkan kedua matanya sekali lagi. Dixton benar-benar keterlaluan. "Dixton! Apa-apaan bangs*t?"


Sabrina yang merasa terpanggil, gadis itu menoleh. Gadis itu bersama satu temannya yang berkacamata besar saling berpandangan. Teman Sabrina yang berkepang dua itu, menganggukkan kepala ragu-ragu. Melihat temannya mengiyakan, Sabrina pun melangkahkan kakinya menuju meja Artur. Diikuti teman Sabrina yang tampak kikuk, Aretha. Gadis cupu yang dikenal Sabrina tanpa melihat status keluarganya.


Bruk.

__ADS_1


Tanpa disengaja, Sabrina menabrak salah seorang pria yang tiba-tiba berlari. Tubuh Sabrina yang mungil, membuat gadis itu terjungkal di lantai. Artur dan temannya yang melihat, seketika berdiri.


"Sabrina!" pekik Aretha.


"Hei, Nona! Apa kau tidak punya mata hah?" bentak seorang mahasiswa dengan angkuh.


Sabrina bangkit dibantu oleh Aretha. Sabrina memilih tak menjawab, gadis itu berjalan angkuh hingga sampai tepat di depan pria yang menatapnya tajam. Keduanya saling menyorot tajam. Hingga Sabrina memutar tubuhnya, menimbulkan seringai licik di bibir pria angkuh itu. Seolah mengejek Sabrina 'kupikir kau berani padaku'.


Tak dinyana, Sabrina justru menyambar segelas jus alpukat di meja milik siapa. Gadis itu berbalik dan menyiramkan jus alpukat tersebut pada pria yang terlalu arogan itu.


"Sabrina!" pekik semua orang yang ada di sana.


Semua orang menyorot tajam akan tindakan Sabrina yang terlalu berani. Artur dan teman-temannya pun juga hanya bisa melongo. Sedetik kemudian, wajah Artur kembali biasa. Bukankah ia sudah melihat tindakan Sabrina yang luar biasa lainnya? Artur kini memahami sosok Sabrina yang … Ah entahlah. Artur pun tak bisa memahami seperti apa sosok Sabrina.


"Beraninya kau!" jerit pria itu.


Sabrina menarik sudut bibirnya dengan angkuh. Lalu membalik tubuhnya. Berjalan bak model di atas catwalk. Perlahan Sabrina mengangkat satu tangan kirinya. Gadis itu menyembunyikan empat jari dan hanya menyisakan satu jari tengah. Seolah Sabrina mengatakan '**** You'.



Setelah beberapa langkah, Sabrina kembali membalik tubuhnya. Tersenyum menantang ke arah pria asing yang menatapnya penuh amarah. Sabrina dengan santai justru mendudukkan tubuhnya di bangku kosong di depan Artur. 


"Hei, Dixton. Pesankan aku menu baru. Satu jus Alpukat dan semangkuk bakso. Katakan pada para penjual, jika aku yang akan membeli semua menu makanan yang mereka jual hari ini. Saat aku sedang makan nanti, mereka harus menghitung berapa uang yang harus aku bayar. Setelah selesai, seseorang akan membayar lunas dagangan mereka. Bisa?" Sabrina mengedipkan satu matanya. 

__ADS_1


Membuat Dixton mengangguk reflek. Dixton segera melangkahkan kakinya untuk menjalankan perintah dari Sabrina. Sedangkan seluruh penjuru kantin, masih menatap takjub dengan ulah Sabrina. Pria angkuh yang dipermalukan oleh Sabrina itu pada akhirnya angkat kaki karena malu, sekaligus tubuhnya terasa lengket.


"Dia pergi," lirih Justin. Sahabat Artur yang sedari tadi memilih bungkam.


"Oh." Sabrina menoleh ke belakang. Tangannya lalu melambai pada seseorang yang membeku di tempatnya. "Aretha! Kemarilah!"


Gadis bernama Aretha mendongakkan kepalanya. Ia memperbaiki letak kacamatanya. Lalu menundukkan kepala dan berjalan menuju Sabrina berada. Aretha tampak kikuk saat telah sampai di meja Artur dan para sahabatnya berada. Melihat Aretha yang canggung, Sabrina menarik tangan gadis itu.


"Duduk. Makanlah sepuasmu. Dixton pasti bawa makanan untuk kita. Yah, kalau dia tahu diri nanti. Artur, Aretha boleh duduk di sini bukan?" Sabrina memasang wajah memelas.


Artur mendudukkan bokongnya di bangku. Menghela napas berat lalu ia berkata, "Kau tidak perlu meminta izin dariku."


"Kakak ipar, kau luar biasa!" Justin memberikan dua jempol untuk Sabrina.


Membuat Artur memutar bola matanya kesal. "Sudah kubilang kau jangan memanggilnya kakak ipar, jika kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."


"Eh, Sabrina. Kau tahu tidak dia siapa?" Dixton telah bergabung kembali di meja.


"Siapa?" Sabrina tak menoleh. Gadis itu memilih bermain dengan ponselnya.


"Lexi Permana Dirgantara! Penerus Dirgantara Grup! Gila nggak? Ah, kau akan terkena masalah, Sabrina!" Dixton menghembuskan napasnya.


"Dirgantara Grup? Memang kekayaan mereka tidak ada yang bisa menghitungnya. Pantas pria itu bisa berlaku sombong. Akan tetapi, bagaimana dengan Keluarga Wijaya yang melegenda itu? Sudah pasti, keluarga Wijaya adalah pemenangnya. Tapi, kenapa Sabrina lagi-lagi menutupi jati dirinya?" Artur membatin gusar.

__ADS_1


__ADS_2