
Kevin pun tak perduli lagi dengan sekitar dia dengan percaya dirinya memasuki restoran dan tentu saja banyak yang memandang aneh kepada mereka.
Aduh ****** deh. Mas Kevin gila. Lebih gila dari suami Ani.
"Mas...."
Setelah mendekati meja Kevin pun menurunkan Monica. Terlihat di mata Kevin gadis itu tersipu malu. Pipinya bersemu merah.
"Ayo duduk. Kita pesen makan." Kevin pun tak menghiraukan Monica yang saat ini tengah mendelik kesal kepadanya. Dia menarik kan kursi untuk Monica.
Namun karena banyak yang melihat kearah mereka sedari mereka masuk. Akhirnya mau tak mau dia duduk di kursi yang dimaksud Kevin. Setelahnya Kevin duduk dikursinya. Kini posisi mereka berhadapan. Monica menelan salivanya sendiri. Entah dia harus berbuat apa. Rasanya manusia di depannya ini benar-benar tak bisa ditebak.
"Pilihlah makanan yang kamu suka." Kevin menyodorkan buku menu dihadapannya kepada Monica. Gadis dihadapannya itu ragu-ragu melihat buku menu itu. Matanya terbelalak setelah melihat harga setiap menu itu.
"Em.... Mas Kevin kayaknya kita makan dilain tempat aja deh."
"Kenapa? Kamu gak suka sama menunya?"
"Emmmm.... Harganya mahal. Ayo kita keluar saja."
Kevin pun berdecak kesal disambarnya buku menu ditangan Monica. Gadis itu kaku. Melirik manusia didepannya.
Kevin pun memanggil salah satu pelayan. Kemudian dia menyebutkan apa yang dipesannya. Dan sontak saja mata Monica membulat bagaimana tidak Kevin memesan banyak sekali makanan.
Ditendangnya pelan kaki Kevin. Dia sudah tak perduli lagi bahwa laki-laki dihadapannya itu atasan tempat dia bekerja. Matanya mendelik kesal.
"Aduh...." Kevin mengaduh kemudian matanya memelototi gadis dihadapannya. Monica pun memalingkan wajahnya. Menghindari tatapan mata Kevin yang tajam.
__ADS_1
"Sudah itu saja." Kemudian dia mengisyaratkan dengan tangannya menyuruh pelayan itu pergi.
"Kau berani sekali ya pada bosmu?!"
"Kenapa mas Kevin pesan makanan sebanyak itu?"
"Kamu kan makannya sebakul ya harus pesan banyak dong. Biar kenyang." Jawab Kevin dengan entengnya.
Ditendangnya kaki Kevin sekali lagi.
"Hei....!!!"
"Pesan banyak boleh mas tapi harganya !!"
"Sudah kubilang aku mentraktirmu !!!" Kevin meninggikan suaranya.
Seenaknya memerintah !!!
Monica melipat kedua tangannya didadanya. Dia kesal dengan makhluk yang ada di depannya. Terlihat laki-laki itu
Memainkan ponselnya sembari menunggu pesanannya datang.
Glekkk.... Sial dia tampan. Cih. Memang benar makan ku banyak tapi kan gak perlu jujur banget bilang makan ku sebakul. Huh.
"Aku yakin kau sedang mengumpat ku kan?" Tanya Kevin menekankan.
"Mana berani mengumpat bos."
__ADS_1
"Mengumpat di hati juga kan siapa yang tahu."
Monica membisu. Kemudian pelayan datang. Semua pesanan pun kini dihidangkan di meja. Monica terlihat melongo karna memang hal yang menarik perhatiannya adalah makanan.
Apalagi makanan gratisan seperti ini. Glek dia menelan salivanya.
Sial. Aku yang digilai gadis gadis sekarang malah justru kalah saingan sama makanan. Harga diri gue. Cih.
Kevin mendengus kesal menghadapi gadis incarannya itu.
"Makanlah !! Aku yang traktir. Kalau tak habis bungkus saja bawa pulang." Kevin tersenyum mencoba meluluhkan gadis dihadapannya. Dia tahu dia mencoba menahan laparnya. Karna bunyi perutnya sudah berdendang ria. Entah sudah yang keberapa kali dia mendengar cacing diperut Monica berbunyi.
"Bolehkah aku bawa pulang kalau sisa?" Tanya Monica. Teringat akan adiknya dirumah.
"Tentu saja." Kevin lagi-lagi tersenyum menampakkan senyum manis yang mematikan.
"Oke gak bakalan sungkan deh." Monica pun mengambil ancang-ancang sudah tak perduli lagi dengan Kevin yang notabenenya laki-laki. Baginya dia tak perlu sungkan atau jaim dihadapan Kevin. Karna dia tak memikirkan hal-hal berbau romantisme. Baginya yang terpenting adalah sekolahnya. Menggapai mimpinya. Dia menerima ajakan Kevin karna memang Ani juga mengenalnya. Karna tak mungkin laki-laki didepannya itu akan berani berbuat aneh padanya.
Dia pun mulai memakannya. Kevin pun melakukan hal sama. Baginya saat ini adalah membuat Monica senyaman mungkin. Dia tahu pada awalnya sikap Monica sangat kaku terhadapnya. Diapun tersenyum. Melihat Monica yang akhirnya mau menerimanya sebagai teman. Bukan sebagai atasan.
"Makasih makanannya mas." Monica tersenyum dia mengelap bibirnya kemudian meneguk minumannya. "Sisanya boleh aku bawa pulang?"
"Tentu. Mbakkk...... Tolong bungkuskan yang ini ya mbak?"
"Baik mas."
Hening. Sembari menunggu pelayan itu membungkus kan makanannya Monica memainkan ponselnya. Tiba-tiba ada satu nomor tak dikenalnya masuk melakukan panggilan. Dia mengernyitkan dahinya.
__ADS_1