Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 319. Steward dan Amelia


__ADS_3

"Baiklah, Nona Muda pemenangnya. Sekarang, giliran Aska. Silahkan," ucap Danar. Pria itu berusaha menetralisirkan keterkejutannya.


Seorang pria muda bernama Aska, memasuki arena pertarungan. Sabrina mulai mengatur nafasnya kembali. Dua orang itu membungkuk, dan saling menatap dengan tajam. Sabrina mulai mengambil ancang-ancang. Keduanya saling bertarung di atas arena.


Jam menunjukkan pukul 17.00 WIB. Sabrina telah selesai bertarung. Terlihat peluh membasahi tubuh. Danar menyodorkan sebotol air mineral, untuk Sabrina.


"Hebat. Kau hampir mengalahkan semuanya," kata Danar.


"Ya." Sabrina lalu meneguk air mineral tersebut, hingga habis.


"Tuan besar sudah meminta Anda, untuk kembali." Kata-kata Danar kini menjadi formal kembali. Imbuh Danar, "apa benar, jika Nona Muda akan menikah?"


Sabrina melotot. "Kenapa Paman Danar bisa tahu?"


"Semua keluarga besar, sudah mendengarnya." Danar terlihat acuh.


Melihat sikap Danar yang acuh, Sabrina mendengus. "Paman Danar, benar-benar tak berhati!"


Danar tak menjawab. Pria itu mengendikkan bahunya. Lalu berjalan menjauh meninggalkan Sabrina. Seorang pria paruh baya, datang tergopoh-gopoh mendekati Sabrina.


"Nona Muda, Tuan Besar Rendy meminta Anda untuk kembali."

__ADS_1


"Dasar pria tua itu. Sudah tahu, aku baru saja selesai latihan. Seenak jidat, menyuruh pulang. Pak Adam, ayo kita pulanng." Sabrina pasrah. Padahal perutnya, minta untuk diisi.


"Baik, Nona Muda. Oh iya, Tuan Muda Steward sudah pulang ke mansion." Penuturan dari Pak Adam, membuat Sabrina menghentikan langkahnya.


"Dia pulang, apa karena aku akan menikah?" tanya Sabrina.


"Benar, Nona Muda."


Sabrina melanjutkan langkah kakinya, dalam diam. Ia mulai yakin, pasti ada sesuatu yang membuat kakaknya itu pulang.


Selang beberapa waktu, mobil mulai memasuki halaman mansion kediaman Rendy Saputra Wijaya. Sabrina turun segera dari mobil. Gadis itu mulai melangkahkan kakinya, memasuki mansion.


Sabrina membeku di tempatnya. Di tatapnya Steward, dengan raut wajah entah apa yang ia pikirkan. Pria itu berjalan mendekati Sabrina, dengan tatapan nyalang.


"Apa benar, kau akan menikah?" tanya Steward. Nada bicaranya terdengar kesal.


"Iya," jawab Sabrina gusar.


"Kenapa?" Steward menatap Sabrina nyalang. "Kudengar, pria itu bahkan memiliki status duda!" Steward kesal. Adiknya itu, bahkan belum lulus sekolah.


"Iya. Sudahlah, Kak. Tidak usah dibahas. Kakak pasti lelah. Ayo, kita ke dalam. Mama pasti sudah memasak banyak," kilah Sabrina.

__ADS_1


Seorang gadis melesat menuju kearah Sabrina. Segera saja, Sabrina meloncat mundur. Amelia. Si bungsu dari tiga bersaudara, masih dengan tangan yang terkepal menatap nyalang Sabrina.


"Kenapa kau mengalihkan pembicaraan?" tanya Amelia dengan penuh penekanan.


Belum sempat Sabrina menjawab, Amelia berlari seraya melayangkan tendangan. Sabrina menutupi wajahnya, dengan kedua tangan. Merasa terhimpit, Sabrina mengeluarkan sebuah jarum. Dimana ujung jarum tersebut sudah dilumuri dengan obat bius. Amelia sontak pingsan. Ia roboh seketika diatas lantai marmer yang dingin.


"Dia masih saja sama. Memiliki tempramental yang buruk. Sama seperti papa," sindir Sabrina. Gadis itu lalu memapah Amelia, membawa tubuh lemas itu ke sebuah sofa panjang.


"Kau selalu saja menjadi yang istimewa, Brina. Tapi mengapa, otakmu itu tidak memiliki keistimewaan? Kenapa bisa, kau ingin menikah dengan pria duda beranak satu? Bahkan usianya jauh diatasmu 15 tahun! Hanya demi dia, kau rela mengotori tanganmu? Membuat perusahaannya hancur?" Steward masih saja menatap Sabrina penuh emosi.


Hening. Sabrina enggan menjawab. Gadis itu berfikir sejenak. Ia yakin, Rendy juga mengetahuinya dari Steward. Sabrina menatap malas kepada Steward. Sekalipun ia mencari celah, pasti hasilnya akan tetap sama. Steward pasti akan mengetahui gerak-geriknya. Atau semua perbuatannya.


"Kenapa tidak bisa menjawab, Sabrina?" Steward kembali memojokkan Sabrina.


Tatapan Sabrina berubah menjadi nyalang. "Kalau Kak Steward tidak ingin menjadi penerus papa dan mama, berhentilah ikut campur urusanku!" Sabrina berjalan pergi meninggalkan Steward yang masih mematung.


"Penerus papa dan mama?" Steward memaku diri. Satu hal kelemahan Steward, ia tidak ingin menjadi penerus papa dan mamanya.


Malam kian beranjak larut. Elena memanggil semua anggota keluarganya. Satu persatu, mereka semua memasuki ruang makan. Dahi Elena berkerut. Tidak ada sapaan sama sekali? Wanita paruh baya itu curiga.


"Ada apa ini? Mengapa kalian semua diam saja?" tanya Elena.

__ADS_1


__ADS_2