Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 103


__ADS_3

"Ya sudah. Ayo kita kerumah mami. Aku kangen sama Rendy. Sekalian kita obati disana ya Monic," kata Ani sembari menggiring Monica mendekati mobil saat hendak memasuki mobil terdengar sebuah teriakan.


"Nona muda !!" Ketiganya pun menoleh. Tiba-tiba Agnes terlonjak kaget.


"Beb siapa? Anak buahnya pak Ardan?"


Ani menjawab dengan mengendikkan bahunya. Sejurus kemudian laki-laki itu mulai mendekati mereka.


"Ah anu nona muda dia teman saya," ucap Agnes. Laki-laki itu pun mendekati Agnes. Dari tampilannya sepertinya bukan orang biasa. "Ah nona muda lebih baik nona pergi terlebih dulu nanti aku akan menyusul." Agnes terlebih dulu membuka suara, dari pada harus laki-laki itu yang membuka suaranya lebih dulu. Pikirnya.


"Gak apa-apa kok. Aku bisa nunggu kamu selesai bicara." Ani menatap lekat laki-laki yang juga menatapnya tajam.


"Tak apa nona takutnya nanti nona Monica lukanya tambah parah." Mengedipkan matanya kepada Monica. Monica mengalihkan perhatian Ani.


"Ah iya juga. Nanti semakin membengkak. Baiklah. Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi aku ya." Ani masih saja tak mengalihkan pandangannya pada laki-laki dihadapannya. Memberikan tatapan tajam seakan mengatakan jangan menggangunya. "Aku pergi."


"Hati-hati nona muda." Begitu mobil sudah melaju hingga melewati gerbang kampus dia menoleh kearah laki-laki yang kini membungkukkan kepalanya. "Tak kusangka kau menemukanku."


"Maaf nona muda. Saya hanya menjalankan tugas. Karena nyonya saat ini tengah dirawat dirumah sakit."


Deg.... Hati Agnes mencelos sakit. Mama... Batinnya. Kini luruh sudah pertahanan hatinya. Karena mamanya sangat berharga dalam hidupnya.


"Kalau sampai kau membohongiku. Akan aku pastikan aku membunuhmu." Mengeluarkan revolver dibalik bajunya. Tapi sepertinya laki-laki itu bahkan tak terkejut sama sekali.


"Baiklah nona muda. Silahkan ikut saya."


"Hem. Mickhael aku benar-benar kagum dengan semua kesigapanmu," Agnes lalu berjalan terlebih dulu.


"Tak kusangka nona muda bahkan menjadi seorang pelayan? Bahkan keluar dari kampus lama. Penyamaran anda benar-benar maksimal ya." Ledek Mickhael.


"Hahaha."


💞💞💞


Disebuah rumah sakit YY .... Disebuah kamar VVIP terbaring seorang perempuan dengan lemah. Wajah cantik dan memiliki rambut berwarna pirang. Berkulit putih bersih dengan wajah yang kini pucat pasi.


"Sudahlah ma. Anak kita sudah perjalanan kemari,"

__ADS_1


"Kenapa papa tega sekali. Bukankah dia sudah menolak mentah-mentah permintaan papa," ucapnya lemah.


"Iya maaf papa sudah kelewat batas. Tapi ini permintaan kakeknya. Kamu tau kan papa benar-benar tak bisa diganggu gugat."


"Tapi ini demi anak kita pa!!" Serunya. Kemudian kembalilah air mata berderai.


Tok tok tok....


"Masuk,"


Ceklek....


"Huhuhuhu... Anakku," teriaknya histeris mencoba bangkit dari tempatnya berbaring.


"Mama sudahlah. Aku sudah disini," mencoba mendekati ranjangg mamanya. Memeluknya erat.


"Kamu baik-baik saja nak? Kamu makannya gimana? Kudengar kamu sekarang dikeluarga Wijaya?"


"Hehehe mama satu-satu dong. Aku baik-baik saja ma lihat," memutar tubuhnya. Mencoba meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Aku tak menjatuhkan harga diriku pa. Aku bahkan bahagia disana."


"Apa maksudmu? Tak cukupkah kau bahagia saja bersama kami? Satu bulan sudah kamu menghilang dari rumah Agnes !!! Dimana otakmu? Kamu lihat mamamu hah?"


"Aku akan menuruti keinginan papa. Tapi papa harus menuruti keinginanku."


"Apa maksudmu?"


"Aku akan menerima perjodohan itu tapi aku akan tetap bekerja di keluarga Wijaya ".


"Jangan keras kepala Agnes!! Bagaimana bisa pewaris keluarga Anggara malah menjadi pelayan dikeluarga Wijaya ?! Bahkan keluarga kita dan keluarga Wijaya sejajar dalam perihal kekayaan!!! Apa keinginanmu yang belum pernah papa turuti ? Bisa-bisa kamu memilih menjadi pelayan," papanya menatapnya tajam. Mamanya hanya menangis dalam pelukan Agnes karna memang selama ini dia sangat dekat dengan mamanya.


"Pa.... Tahu tidak bahwa kebahagiaan tak hanya masalah kekayaan saja. Aku baru menemukan banyak hal selama berada disana," dengan tenang mengusap air mata mamanya.


"Apa maksudmu?"


"Aku melihat memang ada banyak kesenjangan sosial dan ekonomi disekitar kita, tapi terkadang kita bahkan menutup mata akan hal itu," mengambil bubur yang berada diatas nakas. Kemudian menyuapi mamanya, dengan pelan dan mamanya hanya menurut padanya. "Aku bahagia disana. Papa tahu disana aku hanya seorang pelayan," Agnes tersenyum dia masih tenang berhadapan dengan papanya yang sudah emosi.

__ADS_1


"Ya. Aku tahu kau menjadi seorang pelayan disana !!! Kau menjatuhkan harga diri keluarga Anggara Agnes !!"


"Tidak pa. Aku justru belajar banyak hal disana. Aku hanya seorang pelayan. Tapi tahukah papa setiap pagi aku bahkan mendapat kesempatan berbagi makanan dengan istri tuan Ardan. Bahkan dia mengomeliku seperti mama hanya karena aku menolak bekal makan siang yang disiapkannya untukku."


"Begitukah?" Tanya mama. Yang sedari diam kini mulai tertarik dengan obrolan ayah dan anaknya.


"Benar. Apa Mama tahu? Disana bahkan banyak sekali pelayan namun dia memasak dengan tangannya sendiri. Bukan hanya aku, tapi temanku sama. Nona selalu bilang. Ah pasti dia senang aku memasakkan kesukaannya. Dengan hati yang gembira. Dia punya segalanya ma. Tapi dia tetap dengan caranya sendiri."


"Syukurlah dia memperlakukanmu dengan baik nak." Mama tersenyum. Ternyata selama ini ada yang merawat putrinya dengan baik. Papanya terlihat mulai bernafas lega.


"Benar. Aku sekarang punya sahabat ma. Bukan cuma nona tapi Monica juga. Dia begitu heboh membuat telingaku sakit karena ocehannya. Tapi dia bahkan rela terluka demi sahabatnya. Begitu dengan sebaliknya." Agnes tersenyum kecut. Berbeda dengannya yang selama ini hanya bisa mempunyai sahabat busuk. Yang hanya mengincar uangnya.


"Kau punya sahabat? Untuk pertama kalinya nak mama bahagia. Jadi itu alasanmu kenapa kamu bisa bertahan?"


"Hehe tentu saja ma. Bahkan aku pernah berlibur ditaman bermain waktu itu. Anaknya nona benar-benar menggemaskan," menunjukkan sikap gemasnya.


"Tunggu. Sejak kapan Ardan punya anak?" Tanya papa.


"Eh. Ada kok pa anaknya namanya Rendy !! Dia tampan. Aku bahkan bermain dengannya setiap habis kuliah. Benar-benar penyembuh capek," mata Agnes pun berbinar.


"Apa jangan-jangan mereka menikah karena sudah punya anak duluan ya?"


"Hus papa !! Nona bukan tipe seperti itu tau. Yang aku tau nona dulunya janda. Ah mungkin aja pa dia anak nona dengan pernikahannya yang dulu."


"Oh kupikir. Apa kamu bahagia disana?" Papa sekali lagi menyelidik.


"Iya pa. Aku tambah teman juga disana."


"Siapa?" Mode possesive terhadap anaknya kembali kambuh.


"Ada tuan Ardan, nna Ani, Monica, terus teman tuan Ardan, Kevin sama ah kemudian nona manja Rianna. Dan tuan galak Dion," dengan malas menyebut nama terakhir itu.


"Dion? Dion Leonardo?" tanya papanya seakan kaget mendengar penuturan nama yang terakhir.


💞💞💞


Vote yang banyak dong...ayo bikin semangat author. habis ini konflik banyak !!

__ADS_1


__ADS_2