
Carlos menatap nanar kearah mayat-mayat para anak buahnya yang tergeletak dilantai ubin. Hingga pada akhirnya mereka telah kehilangan organ jantung, paru-paru, ginjal dan kedua bola mata mereka. Tubuh Carlos bergetar hebat menyaksikan satu persatu anak buahnya meregang nyawa hingga kehilangan organ mereka. Lelaki itu hanya bisa menunggu detik-detik terakhir gilirannya yang menjalani Eksekusi.
Hingga kini menyisakan satu anak buah Carlos. Tanpa basa-basi dan membuang waktu lagi, Rendy mengambil sebuah busur anak panah. Membuat dua orang itu merinding ketakutan. Hal mengerikan apa lagi yang akan diperbuat oleh Rendy.
"Kita bermain ... Aku akan melesatkan anak panahku, mari kita lihat apa mereka mengenai tepat sasaran." Ucapan Rendy begitu terasa horor saat di telinga kedua yang tengah bersujud itu.
Tanpa aba-aba, anak panah itu menukik tajam mengenai dada seorang anak buah Carlos. Bukan hanya sekali, tetapi Rendy melesatkan anak panasnya itu berkali-kali hingga membuat darahnya mengucur dengan deras. Bahkan kini tubuh itu penuh dengan anak anah yang menancap. Carlos tak mampu berkata-kata lagi. Tenggorokannya terasa begitu tercekat. Keringat dingin membanjiri tubuhnya, bahkan tubuhnya tak berhenti gemetar. Lelaki yang telah kehilangan satu tangannya itu, begitu ketakutan melihat sang pembantai yang tiada memberikan ampun sedikitpun pada anak buahnya. Pikirannya melayang jauh memikirkan nasibnya. Terlebih pembantaian ini hanyalah sebuah permainan bagi Rendy. Kedua ekor matanya selalu awas melirik Rendy yang kembali mendudukkan tubuhnya di kursi. Carlos kini membuang nafasnya lega. Setidaknya Rendy tidak akan melesatkan anak panah kearahnya setelah dia melihat Rendy memberikan busur panah itu kepada Kei. Salah, dugaan Carlos salah.
Sreeettt. Jleb. Justru Keilah yang melesatkan anak panah itu mengenai bahunya. Carlos kembali mengerang kesakitan. Darahpun tak bisa dipungkiri mulai mengalir dari anak panah yang telah menancap dibahunya. Danar mendekat dengan sebuah alkohol ditangannya. Kemudian menyiram luka-luka milik Carlos dengan alkohol tersebut. Erangan demi erangan kini mengalir dari bibir Carlos tanpa henti. Danar melepaskan rantai yang membelenggu tubuh Carlos. Hingga pada akhirnya Carlos tersungkur di lanti dengan nafas yang memburu. Rasa sakit yang menjalar ditubuhnya kian mendera. Perih yang tak berkesudahan itu kian semakin memuncak. Membuatnya menggelepar dilantai. Rendy kembali menggerakkan tangannya. Sekilas Danar menganggukkan kepalanya. Kemudian meraih sebuah belati di dekatnya.
__ADS_1
"Aaaaaaarrrrrgggghhht." Lolongan panjang itu kian menggema diruangan itu saat sebuah jari milik Carlos terpisah semua dari tempatnya. "Am pu ni a aku Tu-tuan. Ku mo-hon lepas-kan aku."
"Kau sedang sial. Karena saat ini aku sedang emosi. Danar lanjutkan," ujar Rendy dengan menggerkkan tangannya. Kei masih berdiri tegap di belakang Rendy. Sedangkan Danar bergerak mengeksekusi Carlos. Danar kembali mengambil belatinya dan mulai menggenggam tangan Carlos yang masih menggelepar dilantai. Kemudian tangannya mulai bergerak menguliti tangan Carlos. Darah pun kian membanjir bersamaan dengan lolongan dari bibir Carlos yang mengerang kesakitan. Deru nafas Carlos mulai tersengal. Kemungkinan karena kehilangan banyak darah dan saat sekarat justru dikuliti. Merasakan sayatan demi sayatan yang kian menjalar. Pada akhirnya lelaki itu perlahan menghembuskan nafasnya. Mati dalam keadaan yang mengenaskan.
Drrrttt ddrrrttt. Sebuah panggilan masuk di ponsel Rendy. Lelaki itu mengerutkan alisnya begitu mengetahui Leo yang memanggil. Eendy segera memencet tombol berwarna hijau.
"Halo Rendy, kau sudah selesai dengan urusanmu?" tanya Leo diujung seberang.
"Kau benar-benar pantas dijuluki sebagai gengster algojo. Kejam dan sadis, huh tapi aku suka dengan orang sepertimu. Cepat lanjutkan dan ayo ikut aku bertemu dengan Reza. Kau bilang kau akan memberinya hadiah untuk pertukaran info yang kau inginkan."
__ADS_1
"Tunggu, aku selesaikan dulu disini hadiahnya. Nanti aku hubungi lagi jika hadiahnya selesai kusiapkan." Rendi menutup teleponnya tanpa ingin menunggu jawaban dari Leopard.
"Danar ... Susah cukup. Ambil organnya kemudian lempar dia ke kandang harimau. Kei kita pulang."
"Baik Tuan Muda." Kei membungkuk dan keduanya kini melakukan perjalanan untuk pulang.
****
Pembantaian berakhir ya. Tetap cintai novel saya. Terima kasih. Salam dari author amatir ini. Biar kagak kaku ya salam kenal.😂😂 Saya Permaisuri.
__ADS_1