
"Loh kenapa pagi-pagi kalian sudah rapi begini?" Tanya Kevin begitu melihat dua manusia yang dimabuk cinta itu sudah berpakaian rapi diakhir pekan. Kevin kemudian mendudukkan bokongnya dikursi. Bersiap-siap untuk memulai sarapan paginya.
"Maaf mas Kevin hari ini aku cuma bikin nasi goreng seafood saja." Kata Ani.
"Tak apa sayang dia makan semuanya kok." Ardan menyahut.
"Heh loe pikir gue makan rumput juga gitu ? Gaklah. Gila ya istri loe aja sabar banget lembut ramah eh kenapa malah punya laki macem elu. Sewot. Bener ckckkckckck." Kevin berdecak kesal. Semenjak Ardan sudah menikah dia semakin menyombongkan dirinya bahwa dia sudah laku sedangkan dirinya hanya dimanfaatkan oleh pacarnya. "Apa gue coba kayak loe ya bro minta mama buat jodohin gue. Siapa tahu dapat istri kayak istri loe." Imbuh Kevin sembari mulai menyendokkan sarapannya ke dalam mulutnya.
"Terus Monica gimana?" Tanya Ardan. Pertanyaan paling menohok dihati Kevin.
"Uhukkk uhukkk ...uhukkk.." menyambar gelas yang ada disampingnya meminumnya sampai menyisakan separuh dari gelas itu. "Dia belum menghubungiku sama sekali." Hambar. Saat dia mulai makan kembali. Menyendokkan secara perlahan.
"Mungkin Monica butuh waktu mas. Mas Kevin kan baru aja mulai pendekatan. Ya jelas Monica menolak mas Kevin. Bukankah mas Kevin atasan Monica? Dia pasti sadar diri karena berasal dari keluarga menengah kebawah. Sama sepertiku dulu dengan mas Ardan. Semua butuh waktu. Mas Ardan saja butuh waktu dua bulan untuk mendapatkan kepercayaan dariku." Kata Ani menjelaskan bagaimana kisahnya bersama Ardan.
"Yah... Monica gadis yang polos. Inget itu Kevin jangan main-main sama perasaan dia. Kalau sampai loe bikin Monica sedih loe bakalan berhadapan sama gue. Karna Monica memiliki tempat yang istimewa dihati istriku."
"Jadi kesimpulannya gue terlalu cepat ?" Tanya Kevin. Ani dan Ardan mengangguk bersamaan. "Baiklah. Gue bakal secara perlahan dekat dulu sama dia deh. Mungkin memang baginya gue masih orang asing."
"Sudah bahas masalah cinta-cintaannya. Segera habiskan sarapan kalian. Setelah ini kita berangkat mas Ardan takut kesiangan terus kena macet."
"Baik." Kevin dan Ardan kembali meneruskan sarapannya hingga habis. Ani tersenyum kemudian membawa piring-piring kotor itu untuk dicuci. Memang disana banyak pelayan. Namun Ani lebih senang bila melakukannya sendiri.
__ADS_1
Pak Surya tergopoh-gopoh membawa oleh-oleh untuk keluarga Ani di desa hari ini mereka telah sepakat membawa Rendi kekota. Supaya Ani lebih leluasa bertemu dengan anaknya yang masih berusia dua tahun. Tinggal dua bulan lagi Rendi sudah memasuki usia tiga tahun saat-saat menggemaskan untuk perkembangan seorang balita. Ani dan Ardan ingin memantau perkembangan si kecil Rendy dengan seksama cukup sudah dia bahkan tak diingat oleh ayah kandungnya. Kini tugas Ani dan Ardan adalah mencurahkan segala kasih sayang mereka untuk Rendy.
"Loe yakin Vin gak pengen ikut kita jalan-jalan?" Tanya Ardan.
"Enggak deh. Gue jadwalnya ke cafe. Banyak yang mesti diurus. Sekaligus lihat pemasukan Minggu ini."
"Oh baiklah.... Kalau gitu kami berangkat dulu ya. Dadah mas Kevin." Ani melambaikan tangannya. Supir menjalankan mobil. Menyapu jalanan berdebu di esok hari. Suasana akhir pekan lumayann ramai Ani menatap pemandangan dijalan.
"Kamu bahagia sayang ?" Tanya Ardan.
"Tentu mas". Ani tersenyum lembut. Betapa bahagianya dia saat ini karna dia akan memiliki banyak waktu bersama anaknya. Rendi.
Akan kupastikan kamu selalu bahagia sayang.
Kini mereka telah sampai dirumah keluarga Ani. Mereka semua menyambut dengan hangat. Brian adik lelaki Ani. Begitu antusias melihat kedatangan kakaknya. Pemuda tampan berkulit bersih. Tersenyum hangat.
"Mbak Ani."
"Assalamualaikum." Kata Ani dan Ardan serempak.
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Mereka masuk kedalam rumah. Dulu saat Ani berkunjung ke desa rumah berlantai dua itu masih dalam proses. Sekarang ini semuanya sudah beres. Ani benar-benar takjub dibuatnya. Karna interiornya semua minimalis. Dan yang pasti perabotan dan furniturnya sangat lengkap. Ditambah lagi sekarang dirumah itu ada dua orang pelayan rumah tangga. Yang membantu ibu memasak dan mengurus rumah tangga. Sebenarnya keluarga itu menolak untuk memiliki pelayan namun mengingat ibu juga harus menjaga Rendi akhirnya mereka semua menerimanya.
"Kamu jadi mau bawa Rendy kekota?" Tanya ibu. Sepertinya masih berat hati jika harus berjauhan dengan sang cucu.
"Jadi Bu mami udah gak sabar pengen lihat Rendy. Kamu mau ikut bunda kan nak?" Tanya Ani pada pria kecil yang duduk manja di pangkuannya.
"Ikut bunda." Sahut Rendy sembari menampakkan gigi putih nan rapinya." Ayah?" Panggilnya pada Ardan. Tersenyum malu-malu.
Sangat lucu aaaaa pengen banget gendong.
"Dia gak pernah tahu tentang ayah kandungnya." Kata Ani.
"Iya sayang gak apa-apa." Kata Ardan masih tetap menatap bocah kecil itu.
"Mau bermain dengannya? Rendy mau ikut ayah?" Tanya Ani.
"Mau bunda." Rendy turun dari pangkuan Ani. Kemudian mendekati Ardan dengan mata berbinar-binar sangat merindukan sosok ayahnya. Ardan tahu bahwa bocah kecil itu ingin bermain dengannya.
"Mau duduk disini bersama ayah?" Tanya Ardan. Ardan menepuk pahanya ingin melakukan hal sama dengan yang dilakukan oleh Ani tadi.
Rendy tersenyum lebar sembari menganggukkan kepala antusias. Kemudian dengan cepat duduk di pangkuan Ardan dan memeluknya. "Ayah." Mereka yang melihatnya sangat terharu. Akhirnya bocah kecil itu bisa berada dalam pangkuan seorang ayah. Walaupun mereka tahu bahwa Ardan adalah ayah sambungnya. Wajah Ardan bersemu merah. Walaupun bukan anak kandungnya entah kenapa dia bahagia sekali.
__ADS_1
"Ayah ibu? Apakah Rendy sudah bisa memiliki adik?" Tanya Ardan tanpa basa basi.
Bersambung