Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
Season 2. Sebuah Perjanjian


__ADS_3

Maaf ya pecinta Azalea ... Karena novel itu sudh aku pindah lapak. Jadi, akhirnya aku ganti alurnya untuk season 2. Aku jamin, bakalan seru nggak kalah sama Azalea. Jangan lupa dukung author 💖


"Apa menurutmu gadis itu aman ada disisiku Kei?" Rendy memijit pelipisnya. Ingin hati membung gadis itu dijalanan. Namun ia masih memiliki sedikit hati nurani.


"Jika menurut saya lebih baik kita lepaskan saja Tuan Muda. Daripada suatu saat nanti gadis itu menyusahkan kita," kata Kei. Rendy mendongakkan kepalanya. Menatap sosok sekretaris pribadinya. Yah ... Percuma meminta solusi pada Kei. Karena lelaki itu sudah pasti tak ingin direpotkan.


Rendy terdiam sejenak. Mencoba memikirkan sesuatu yang mungkin saja gadis itu cukup berguna. Tentu saja sengan bayaran untuk membiarkan gadis itu tinggal disini. Bukankah dalam hidup ini tidak ada yang gratis bukan? Rendy tersenyum begitu mendapatkan sebuah ide.


"Ide yang cukup menguntungkan. Kei ... Siapkan beberapa gaun yang pas untuk gadis itu. Ingat gaun yang tidak terlalu terbuka. Aku ingin membawa gadis itu pulang. Jangan lupakan sepatunya juga," ujar Rendy dengan sudut bibir yang sedikit terangkat.


"Baiklah Tuan Muda. Saya permisi," ucap Kei sembari menundukkan kepalanya. Meskipun jauh dilubuk hatinya terbersit sebuah tanya, namun dia menghargai perintah Rendy.


*****

__ADS_1


"Apa ini?" tanya gadis itu. Menatap curiga kearah dua orang lelaki dihadapannya.


"Kau ingin tinggal dirumahku bukan? Jangan banyak tanya! Pakai gaun itu beserta sepatu high hell itu dan ikut denganku untuk pulang ke Indonesia." Rendy beranjak bangun. Kemudian tangannya dia sodorkan kearah Kei. Lelaki itu membawa sebuah map berisikan kertas. Setelah berada ditangannya, Rendy segera melemparkannya tepat dipangkuan gadis itu.


"Pelajari baik-baik. Besok pagi aku akan berangkat subuh-subuh. Jangan kecewakan aku, jika kau mengecewakan aku tau sendiri bukan akibatnya?" tanya Rendy.


Sepeninggal Rendy, gadis itu membuka map yang dilemparkan olehnya. Sesaat setelah membacanya, kedua netra biru miliknya membulat. Hingga Elena membacanya sekali lagi.


"Sebuah perjanjian?" tanya Elena tak percaya. "Astaga! Bagaimana mungkin?" Sekali lagi, gadis itu membacanya berulang-ulang. Ini artinya dirinya telah membaca dengan benar.


"Apa-apaan ini?" tanya Elena dengan suara yang nyaring membuat Kei dan Rendy menoleh seketika.


"Kau sudah baca?" tanya Rendy.

__ADS_1


"Aku tanya padamu! Apa maksud dari ini semua?" Elena semakin terbakar emosi. Gadis itu bahkan berdiri dengan tegas.


"Bukankah di dunia ini tidak ada yang gratis? Untuk apa kau bertanya? Jika kau ragu, maka jangan menandatanganinya. Bukankah itu beres? Sesederhana itu saja. Tapi bisakah kau pergi dari rumah ini? Aku yakin diluar sana ada banyak om-om genit yang akan berlaku kurang ajar padamu. Padahal aku hanya minta tunggu sbentar." Rendy tersenyum sinis saat melihat ada keraguan yang besar dari wajah gadis itu.


"Apa aku boleh menuliskan sesuatu di kertas itu?" tanya Elena waspada.


"Asal masuk akal," jawab Kei.


Elena segera menulis apa saja yang dia butuhkan. Serta hal-hal yang mungkin bisa membatasi Rendy agar tak melewati batas. Ditampung sementara lebih baik bukan? Pikirnya. Ketika dia nantinya memiliki sedikit tabungan, maka dia akan segera pergi dari rumah terkutuk ini.


"Ini ... Aku akan setuju jika kau tidak melewati batasmu," ucap gadis itu dengan angkuhnya. Membuat Rendy tergelak nyaring.


"Ha ha ha ... Mana ada? Body rata begitu siapa yang mau? Nggak ada liuk-liuknya sama sekali." Rendy memandang remeh tubuh Elena.

__ADS_1


"Baru saja aku peringatkan! Kalau begitu apa batal saja?" ancam Elena.


"Kau berani? Lihat kau sudah tanda-tangan. Sekarang kau resmi menjadi tunangan kontrakku!" seru Rendy Saputra.


__ADS_2