
"Ya ampun gaes udah ganteng nurut lagi sama mamanya."
"Dih mamanya juga cantik banget."
"Mau dong jadi menantunya kyaaa."
"Apalagi sampek dibeliin banyak banget baju lagi. Eh bukannya ini butik terkenal? Ya ampun mereka keluarga sosialita dong."
Begitulah kasak kusuk yang dilontarkan untuk Kevin dan mamanya. Tentu saja mereka berdua menjadi topik terhangat. Karena Sarah yang anggun dan cantik meski berusia paruh baya. Sedangkan Kevin sosok laki-laki yang tampan dan cool. Ditambah saat ini Kevin sedang membawakan belanjaan sang mama. Rela bercapek-capek ria membuntuti mamanya. Padahal ini karena Kevin sedang berperan sebagai budak dari Sarah. Bukan berperan sebagai anak yang penurut pada mamanya. Sangat berbanding terbalik.
"Ayo kita bayar!"
Kevin menggelengkan kepalanya. Tetapi pada akhirnya hanya mampu mengikuti mamanya dari belakang.
Kevin menyerahkan semua barang belanjaan milik Sarah ke kasir. Setelah kasir selesai menghitung, kasirpun mengatakan total keseluruhan belanja. Namun entah apa yang terjadi, baik Kevin maupun Sarah hanya berdiam diri. Sang kasir pun melongo, begitu pula dengan orang yang sudah mengantri dibelakangnya. Sarah masih asyik melongokkan kepalanya. Berusaha melihat-lihat apa yang akan menarik hatinya.
"Anu...ini mau bayar pakai apa ya?"
Kali ini suara mbak kasir udah mulai meninggi. Merasa diacuhkan dan tak ditanggapi oleh keduanya. Kini wajahnya mulai menampakkan kekesalannya.
"Hei...bayarin,"
"Hah?"
"Ya ampun Kevin! Bayarin, gak denger apa kasirnya bilang berapa?"
"Memang aku yang bayar ya ma?"
"Iyalah! Siapa lagi? Mama kan nggak bawa uang sepeserpun!"
Mendengar hal itu Kevin hendak bertanya ke Sarah. Namun sebelum dia mengeluarkan kata-katanya sudah didahului oleh si kasir.
"Maaf ya mas mbak kalau nggak punya uang nggak usah belagu! Sok-sokan beli banyak lagi! Bikin repot aja!" kemudian menarik barang belanjaan Sarah dengan kasar.
"Ish mentang-mentang ganteng aja sok kamu!"
"Berapa sih ha totalnya?" Kevin pun menggebrak meja. Tak terima karena mamanya harus dibentak pegawai kasir itu. Dirinya saja yang sudah dikerjain habis-habisan masih bisa sabar menghadapi mamanya.
" 178.000.000 rupiah! Kenapa nggak bisa bayar? Sudahlah pakai kartu kredit aja. Apa kartu kredit aja nggak punya?"
"Ma! Emang jatah bulanan mama udah habis?" kini Kevin beralih menatap tajam mamanya.
__ADS_1
"Masihlah. Kamu pikir mama boros? Ini kan mama gak bawa dompet karena kamu yang harus bayarin! Kamu kan dua hari jadi budak mama. Kamu jugalah yang harus keluar uang!"
Gemetar-gemetar menahan kesal. Rasanya Kevin benar-benar gemas karena tingkah mamanya itu.
Ya ampun mama! Ngajak belanja tapi gak bawa uang! Kebangetan kamu ma!
Akhirnya Kevin mengeluarkan kartu debet. Kasir itu pun segera mengambil kartu debet milik Kevin.
"Awas ya kalau nggak ada uang. Aku usir kalian berdua,"
Saat sang kasir melihat telah selesai transaksi Kevin pun mengatakan sesuatu.
"Tolong dong cek sisa saldoku."
Kasir pun mengecek sisa saldo Kevin setelah Kevin mengetikkan 6 angka. Mata sang kasir pun membulat. Melihat angka nol dibelakangnya. Kini rona merah muda menghiasi kedua pipinya.
"Lain kali anda jangan melihat seseorang dari penampilannya. Kalau mamaku masuk kesini itu berarti dia mampu. Kamu pikir jatah bulanan mamaku berapa? Jauh diatas gaji kamu. Itu belum dengan termasuk semua usaha bisnisnya. Jadi berhentilah merendahkan seseorang. Karena belum tentu kamu lebih tinggi darinya,"
Kevin pun segera menarik tangan mamanya. Sarah tersenyum, rasanya hatinya benar-benar sejuk melihat bagaimana cara Kevin membalas seseorang yang merendahkannya.
Beruntung aku memiliki anak sepertimu Kevin. Aku yakin pernikahanmu dengan Monica kelak akan berakhir bahagia dan sukses. Aku sangat menyayangi Monica. Karena gadis itu begitu gigih dan pintar. Suatu saat Monica akan menjadi orang dibalik kesuksesanmu Kevin. Mama percaya itu sejak pertama kali bertemu dengannya. Dan jodoh pun berlanjut ternyata kamu mengenalnya. Orang yang tulus menolongku. Tanpa pamrih dan berani. Monica adalah calon yang tepat untukmu. Mama bangga padanya.
"Ya ampun gaes udah ganteng nurut lagi sama mamanya."
"Dih mamanya juga cantik banget."
"Mau dong jadi menantunya kyaaa."
"Apalagi sampek dibeliin banyak banget baju lagi. Eh bukannya ini butik terkenal? Ya ampun mereka keluarga sosialita dong."
Begitulah kasak kusuk yang dilontarkan untuk Kevin dan mamanya. Tentu saja mereka berdua menjadi topik terhangat. Karena Sarah yang anggun dan cantik meski berusia paruh baya. Sedangkan Kevin sosok laki-laki yang tampan dan cool. Ditambah saat ini Kevin sedang membawakan belanjaan sang mama. Rela bercapek-capek ria membuntuti mamanya. Padahal ini karena Kevin sedang berperan sebagai budak dari Sarah. Bukan berperan sebagai anak yang penurut pada mamanya. Sangat berbanding terbalik.
"Ayo kita bayar!"
Kevin menggelengkan kepalanya. Tetapi pada akhirnya hanya mampu mengikuti mamanya dari belakang.
Kevin menyerahkan semua barang belanjaan milik Sarah ke kasir. Setelah kasir selesai menghitung, kasirpun mengatakan total keseluruhan belanja. Namun entah apa yang terjadi, baik Kevin maupun Sarah hanya berdiam diri. Sang kasir pun melongo, begitu pula dengan orang yang sudah mengantri dibelakangnya. Sarah masih asyik melongokkan kepalanya. Berusaha melihat-lihat apa yang akan menarik hatinya.
"Anu...ini mau bayar pakai apa ya?"
Kali ini suara mbak kasir udah mulai meninggi. Merasa diacuhkan dan tak ditanggapi oleh keduanya. Kini wajahnya mulai menampakkan kekesalannya.
__ADS_1
"Hei...bayarin,"
"Hah?"
"Ya ampun Kevin! Bayarin, gak denger apa kasirnya bilang berapa?"
"Memang aku yang bayar ya ma?"
"Iyalah! Siapa lagi? Mama kan nggak bawa uang sepeserpun!"
Mendengar hal itu Kevin hendak bertanya ke Sarah. Namun sebelum dia mengeluarkan kata-katanya sudah didahului oleh si kasir.
"Maaf ya mas mbak kalau nggak punya uang nggak usah belagu! Sok-sokan beli banyak lagi! Bikin repot aja!" kemudian menarik barang belanjaan Sarah dengan kasar.
"Ish mentang-mentang ganteng aja sok kamu!"
"Berapa sih ha totalnya?" Kevin pun menggebrak meja. Tak terima karena mamanya harus dibentak pegawai kasir itu. Dirinya saja yang sudah dikerjain habis-habisan masih bisa sabar menghadapi mamanya.
" 178.000.000 rupiah! Kenapa nggak bisa bayar? Sudahlah pakai kartu kredit aja. Apa kartu kredit aja nggak punya?"
"Ma! Emang jatah bulanan mama udah habis?" kini Kevin beralih menatap tajam mamanya.
"Masihlah. Kamu pikir mama boros? Ini kan mama gak bawa dompet karena kamu yang harus bayarin! Kamu kan dua hari jadi budak mama. Kamu jugalah yang harus keluar uang!"
Gemetar-gemetar menahan kesal. Rasanya Kevin benar-benar gemas karena tingkah mamanya itu.
Ya ampun mama! Ngajak belanja tapi gak bawa uang! Kebangetan kamu ma!
Akhirnya Kevin mengeluarkan kartu debet. Kasir itu pun segera mengambil kartu debet milik Kevin.
"Awas ya kalau nggak ada uang. Aku usir kalian berdua,"
Saat sang kasir melihat telah selesai transaksi Kevin pun mengatakan sesuatu.
"Tolong dong cek sisa saldoku."
Kasir pun mengecek sisa saldo Kevin setelah Kevin mengetikkan 6 angka. Mata sang kasir pun membulat. Melihat angka nol dibelakangnya. Kini rona merah muda menghiasi kedua pipinya.
"Lain kali anda jangan melihat seseorang dari penampilannya. Kalau mamaku masuk kesini itu berarti dia mampu. Kamu pikir jatah bulanan mamaku berapa? Jauh diatas gaji kamu. Itu belum dengan termasuk semua usaha bisnisnya. Jadi berhentilah merendahkan seseorang. Karena belum tentu kamu lebih tinggi darinya,"
Kevin pun segera menarik tangan mamanya. Sarah tersenyum, rasanya hatinya benar-benar sejuk melihat bagaimana cara Kevin membalas seseorang yang merendahkannya.
__ADS_1
Beruntung aku memiliki anak sepertimu Kevin. Aku yakin pernikahanmu dengan Monica kelak akan berakhir bahagia dan sukses. Aku sangat menyayangi Monica. Karena gadis itu begitu gigih dan pintar. Suatu saat Monica akan menjadi orang dibalik kesuksesanmu Kevin. Mama percaya itu sejak pertama kali bertemu dengannya. Dan jodoh pun berlanjut ternyata kamu mengenalnya. Orang yang tulus menolongku. Tanpa pamrih dan berani. Monica adalah calon yang tepat untukmu. Mama bangga padanya.