Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 440.


__ADS_3

"Hei." Sapaan seseorang membuat Sabrina terjingkat.



Al Faruq Kezio Wijaya. Putra bungsu Rendy Wijaya yang selama ini ikut pergi bersama Steward. Pergi menjauh untuk menghindari sebagai penerus kedua geng mafia milik Elena dan Rendy.


Sabrina mengurut dadanya perlahan. " Lama nggak ketemu, kenapa ngagetin?"


"Sudah merasa tua?" Suara Kezio terdengar ketus. "Kenapa nekat menikah muda?" imbuh Kezio.


"Aku mencintainya. Hanya sesederhana itu." Sabrina menjawab santai.


Kezio terlihat menganggukkan kepala. "Aku tidak habis pikir, kenapa kau menerima tawaran menjadi ketua geng mafia. Oh, aku lupa. Di antara kami, kau yang paling unggul dalam persenjataan."


Sabrina memutar kedua bola mata. "Mau berbicara di taman samping?"


"Ok." Kezio berjalan lebih dulu. Meninggalkan Sabrina yang kembali mengurut dada.

__ADS_1


"Astaga! Dia lebih menyebalkan ketimbang Amelia. Aku bahkan hampir lupa, jika memiliki satu adik lagi." Sabrina pun berjalan menuju taman samping rumah. Di sebuah bangku terlihat Kezio tengah duduk sembari menatap langit.


"Kau masih akan kembali ke luar kota?" Sabrina mendudukkan bokongnya di bangku tepat di samping Kezio.


"Hmm. Apa aku boleh kapan-kapan ke rumahmu?" Nada bicara Kezio mulai terdengar enak di telinga. Meski sedikit ketus tapi itu lebih baik.


"Mainlah. Agar aku tidak melupakan adik bontot sepertimu. Bagaimana sekolahmu?" Sabrina pun menoleh ke arah Kezio.


"Lumayan. Berkat Akselerasi aku bisa naik kelas 1 SMA. Menurutmu, apa papa akan bangga kepadaku?" tanya Kezio.


"Tentu. Aku juga akan bangga denganmu. Tahun ini aku sembilan belas tahun. Kau berarti sudah lima belas tahun. Kuharap kau bersenang-senang dengan keadaanmu sekarang." Sabrina tersenyum seraya menepuk bahu Kezio.


"Apa kau bahagia dengan pernikahan itu?" tanya Kezio.


"Ya! Tentu saja. Kenapa aku tidak bahagia? Mampirlah ke rumahku, maka kau akan bertemu dengan anak dan suamiku." Sabrina menjawab dengan antusias.


"Boleh?" Kezio bertanya kembali seolah meragukan izin dari Sabrina.

__ADS_1


"Tentu saja. Kita toh jarang berkumpul."


"Kalau begitu, setelah tujuh hari kepergian mendiang opa. Aku akan ikut ke rumahmu. Aku akan menginap selama satu minggu. Terima kasih." Kezio bangkit tanpa menunggu Sabrina menjawab.


Di taman, Sabrina melongo. Pasalnya sikap sang adik bontot terlalu dingin. Sabrina menggelengkan kepala perlahan. "Apa aku baru saja diinterogasi?"


---


Justin


[Satu kelas akan melayat besok. Bisakah kau berikan aku alamatnya?]


Artur menatap pesan tersebut dengan perasaan yang resah. Seperti takut jika nantinya akan memicu masalah. Ada baiknya ia mencari Sabrina. Perlahan ia bangkit dan berjalan keluar dari kamarnya yang baru saja ia tempati beberapa menit yang lalu.


"Sabrina?" Panggilan dari Artur membuat Sabrina menoleh. "Aku sudah mencarimu kemana-mana. Ternyata kau di sini. Pantas di dalam tidak ada," imbuhnya. Lalu ia menyodorkan handphonenya.


"Berikan saja. Mungkin tidak akan bisa ditutupi lagi." Sabrina mengembalikan handphone milik Artur.

__ADS_1


"Ok." Artur kemudian mengetikkan sesuatu. Setelahnya ia menyimpan kembali handphone tersebut ke dalam saku. "Kenapa di sini? Ini sudah larut. Masuklah. Ayah pasti menunggumu. Lagipula angin malam tidak baik. Ayo."


Dengan langkah berat, Sabrina mengikuti kata-kata Artur. Keduanya kini telah masuk ke dalam kamarnya masinh-masing. Malam kian larut. Dingin semakin menusuk tulang. Para raga yang lelah mulai meringkuk di peraduannya masing-masing. Membiarkan sang dewi malam melaksanakan tugasnya.


__ADS_2