
Semuanya terdiam melihat dua sosok yang berdiri di belakang Sabrina. Hanya dengan melihat saja, sudah barang tentu mereka semua orang yang terlatih. Dante tak mampu berkata-kata. Bukankah Sabrina telah membobol data perusahaan temannya dan membuatnya bangkrut dalam sekejap? Tentu ia yang akan merugi jika mengusik sosok Sabrina.
"Honey?" William memanggil Sabrina dengan lembut. Pria iru merasa jika ini sudah di luar kendali. Pasalnya aura Sabrina benar-benar mencekam.
"Aku bukan orang yang sabar, Nona Anggi. Sekarang bisakah kamu pergi dari sini?" usir Sabrina.
Anggi dengan cepat menjatuhkan diri di lantai. Tepat di bawah kedua kaki William. Gadis itu bersujud di depan Sabrina.
"Kumohon, maafkan aku. Aku tidak akan berani lagi. Tolong!" Anggi menangis. Tentu saja ia tidak akan mampu hidup miskin. Mengingat selama ini saja dia bisa menjadi gadis dari keluarga berada membuatnya tidak pernah merasakan hidup susah.
"Ini harga mati." Sabrina menggerakkan jarinya.
__ADS_1
Julia menyiman kembali senjata api miliknya dan berjalan mendekati Anggi. Julia mencoba menyeret tangan Anggi. Sedangkan Anggi mencoba memberontak. Air mata membasahi kedua pipinya. Sayangnya, Anggi membuat Sabrina marah. Emosi ibu hamil juga tidak bisa diprediksi dan William paham itu. Ia hanya mampu menghela napas berat tak ingin ikut campur.
Tenaga Julia tentu saja jauh lebih besar mengingat didikan keras dari Kei. Siapa yang tidak mengenal sosok Kei? Seorang pria yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk keluarga Wijaya. Tentu saja pria itu memiliki cita-cita jika anaknya kelak mengikuti jejaknya. Sayangnya, ia tak memiliki anak laki-laki dan hanya ada anak perempuan yang pada akhirnya harus menerima pelatihan langsung di bawah sosok Kei. Setelah membuat Anggi terusir dari ruangan itu, Julia kembali pada posisinya di belakang Sabrina.
"Papaku akan ikut investasi. Tidak ada yang keberatan bukan jika Tuan Rendy Wijaya ikut bergabung dalam rencana ini?" Sebuah penekanan dari Sabrina tentu tak akan nisa dibantah.
"Tuan Rendy Wijaya?" Salah seorang dari teman Anggi sepertinya kaget.
"Sekalipun aku tidak percaya dengan kata-kata Sabrina, akan tetapi Tuan Rendy Wijaya ini tidak bisa aku lepaskan. Persetan dengan Anggi, karena yang dikatakan oleh Sabrina ini jauh lebih menggiurkan." Dante membatin senang.
"Sepertinya aku memang tidak akan bisa menggapai Nona Sabrina. Ia terlihat menawan dengan aura menakutkan yang keluar darinya ketika dia berhadapan dengan Anggi. Aku melihat sendiri jika Nona Sabrina ini pastinya memiliki backingan yang luar biasa. Siapa yang tahu, kupikir ia akan memoroti William nyatanya justru putri dari Tuan Rendy Wijaya? Ah, pikiranku terlalu licik. Apa aku telah terseret dalam hasutan Dante?" Ardi membatin seraya melirik Dante.
__ADS_1
"Tentu. Aku sudah berbicara lewat Tuan Kei dan memberi pesan singkat. Sebentar lagi juga sampai." Sabrina mengalihkan pandangan. Ia memandang wajah sang suami penuh arti. Lalu tatapan Sabrina beralih kepada Artur yang duduk di pojok ruangan seorang diri sembari bermain ponsel.
"Artur, aku ingin pulang. Julia ikut aku. Ben, jika wanita gatel tadi masuk lagi ke ruangan ini, seret kembali dia keluar dari ruangan suamiku. Aku tidak suka milikku diusik. Tuan Ryu sedang menjemput papaku." Sabrina bangkit. Tampak jika Artur pun juga bangkit dari duduknya yang terlihat mengenaskan. Tanpa banyak bicara, Artur berlalu mengekor di belakang Sabrina.
"Ma, bagaimana jika kita ke rumah Lexi? Justin dan Dixton mau ke sana. Dengar-dengar, Lexi akan membeli satu restoran dengan uang jajannya selama ini. Padahal kita semua tahu, jika barang-barang yang dia pakai nilainya bisa mencapai puluhan juta termasuk jam tangan. Menurut Mama, kenapa anak manja itu mau berubah menjadi anak mandiri?" papar Artur.
"Artur, jangan berburuk sangka. Mungkin dia memang telah berubah. Dia membeli satu restoran? Kalau begitu jangan menolak, Artur! Siapa tahu kita bisa makan sepuasnya dan gratis!" Sabrina tersenyum semringah. Terlihat sekali dia begitu antusias.
"Em, aku bilang tadi jika Lexi mengundang kita bukan, Ma? Kupikir itu juga berarti dia akan memberi kita gratisan?" Artur berusaha mencerna pesan yang diberikan Lexi.
"Nah! Semakin cepat ke sana, semakin lebih baik! Ayo! Moodku jelek karena wanita gatel itu mengusik milikku. Sekarang waktunya kita makan enak! Lexi pasti tak keberatan kita makan banyak." Sabrina menarik tangan Artur.
__ADS_1
"Astaga! Padahal tadi moodnya buruk sekali. Mengapa hanya mendengar kata gratisan makanan dia semangat sekali? Astaghfirulloh, Artur! Nggak boleh suudzon! Ini mama kamu, malah kamu gibahin." Artur membatin seraya menahan malu lantaran Sabrina terus menariknya hingga di lobby perusahaan dan menjadi perhatian banyak orang.