
"Papa!" teriakan Rianna mau tak mau membuat keduanya menoleh.
Masalah ini bisa semakin besar. Seharusnya wanita jal*ng ini sudah tak bisa menguar ke permukaan. Tetapi kenapa malah bisa mendatangi rumahku begini? Smith memandang anak gadisnya dengan perasaan yang kalut.
"Apa papa lupa apa yang sudah papa lakukan padaku? Jangan sampai papa mengulanginya lagi. Ini juga anak papa, sama denganku," Rianna menatap Intan dengan seksama umurnya tak jauh beda dengan dirinya namun malah memiliki hubungan spesial dengan orang yang bahkan lebih tua darinya.
Smith mengepalkan tangannya erat. Saat Rianna memapah Intan memasuki kamar tamu dirumahnya. "Rianna pasti berfikir itu adalah anakku."
Kedua matanya menatap nanar kepergian Rianna. Segera dia berlalu mencari seseorang. Rasanya begitu mustahil jika Intan bisa lolos dari genggamannya. Pasti ada sesuatu.
"Rangga!" teriaknya begitu mendapati seorang laki-laki yang tengah belajar menembak di ruangan yang kedap udara. Saat namanya dipanggil laki-laki itu segera menoleh dan menghampiri Smith.
"Ya tuan," membungkuk dengan hormat begitu ia berhadapan dengan tuannya.
"Selama ini tidak ada yang bisa lepas dari cengkraman ku bukan?"
"Tidak pernah sekalipun tuan," menatap Smith dengan seksama.
__ADS_1
"Kau tau wanita yang aku suruh untuk kau lempar di markas kita?"
"Tentu tuan," Rangga menganggukkan kepalanya antusias.
"Dia sekarang berada di rumah ini," mengusap wajahnya frustasi.
"Bagaimana mungkin tuan?"
"Kau selidiki dulu saja semua ini. Sekarang aku harus pergi untuk ke pernikahan orang terdekat putriku. Ikutlah denganku."
"Kemana tuan?"
"Maaf tuan lebih baik saya segera mencari informasi tentang wanita itu dan apa tujuannya"," membungkukkan setengah badannya. Rangga pergi dari arena yang ada di ruangan kedap suara itu. Meninggalkan Smith yang merenung seorang diri. Hingga beberapa menit selanjutnya sebuah benang merah bisa dia tarik ujungnya.
"Apa mungkin dia merencanakan sesuatu? Dari mana dia tau tentang rumah ini? Kami bahkan baru menempati beberapa hari yang lalu. Sepertinya aku tau kenapa dia mendatangi rumahku. Kelemahanku saat ini adalah Rianna. Pasti dia berfikir merebut hati Rianna. Dan ini adalah celah yang sangat bagus untuknya. Kurang ajar! Siapa orang dibaliknya. Aku yakin pasti ada yang mendukungnya dari belakang," Smith mengeraskan rahangnya. Kedua matanya berkilat penuh amarah.
"Aku yakin ada orang hebat dibalik wanita ****** itu. Apa aku harus meminta tolong kepada Ardan? Ckckck jika hanya hidupku aku tak masalah jika ada pertumpahan darah. Tapi Rianna?" Smith mengepalkan tangannya erat. Kemudian memejamkan kedua matanya dan setelahnya dia berjalan keluar kamar.
__ADS_1
*****
Hari ini pernikahan Monica dan Kevin berlangsung. Disebuah ballroom hotel ternama dikota J. Pernikahan dibuat sebegitu megahnya.
"Ya ampun mas untung aja kita nggak terlambat," Ani menoleh kearah suaminya. Ardan sibuk bercanda dengan Rendy Saputra. Senyum merekah menghiasi bibirnya. Dirinya menghampiri pesta mewah itu bersama kedua mertuanya dan juga anak laki-lakinya.
"Sayang lihat Monica terlihat lepas sekali tersenyumnya semoga kebahagiaan selalu bersamanya. Amin," mami mengusap wajahnya perlahan.
"Bunda bunda aunty Monic cantik sekali," suara khas anak kecil dengan volume yang bisa dibilang cukup keras kemudian sebuah jari telunjuknya kini mengarah ke kedua pengantin yang tampak bahagia itu. Benar Monica terlihat cantik sekali ditambah kini dia tersenyum bahagia. Dari kejauhan Mariani melihat Agnes dan Dion nampak membelah kerumunan. Keduanya berjalan mendekat padanya. Tetapi sebelum kedua sampai, Kaisar perlahan memasuki ruangan yang sudah dihias sedemikian rupa. Ardan yang melihatnyapun segera menghampiri. Memberikan Rendy kedalam gendongan Mariani. Terlihat Kaisar berbisik sesuatu yang membuat Mariani mengerutkan dahinya.
"Cari tau hingga detail," ucap Ardan mengakhiri laporan dari Kaisar.
Masalah lagi. Aku harus membicarakannya bersama paman nanti. Kata Ardan dalam hati.
*****
__ADS_1
Like 700 besok up 5 bab