Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 183


__ADS_3

Mariani mengedarkan pandangannya dengan tatapan mata yang berkilat.


"Padahal kalian sudah mengikuti suamiku untuk waktu yang lama. Bagaimana mungkin kalian mencuri barang dirumah ini?" sudah berkacak pinggang layaknya orang yang tengah marah. Sedangkan Ardan melongo menyaksikan perubahan yang terjadi pada istrinya. Istrinya itu sekarang lebih banyak bicara dan berani mengatakan hal-hal yang pedas. Berbeda dengan sikapnya yang dulu.


"Maaf nona muda. Tapi kami berempat sudah mengatakannya dengan jujur bahwa kami tidak mencuri apapun. Bahkan kami berempat hanya menonton tv saja dari sejak anda dan tuan muda memasuki dapur," Lita memang terkenal polos. Tapi setidaknya disaat beginilah kepolosannya ternyata berguna. Karena dia masih bisa menjawab dengan tenang. Bukankah memang mereka semua tidak mencuri apapun. Tentu saja Lita bisa berani menjawab. Dia mengatakan jujur.


"Ya aku tau kalian semua menonton tv. Bahkan saat aku kembali kekamar kalian masih tertawa terbahak-bahak disini," kepala Ani manggut-manggut mengiyakan ucapan Lita. "Tapi aku tak yakin setelah aku pergi kekamar kalian tetap duduk disofa,"


Duar....rasanya kata-kata Ani bisa saja terjadi. Keempat orang itu kini saling pandang.


"Tapi mas Ardan memangnya mas Ardan sudah mengecek kembali semua barang? Mungkin saja mas Ardan salah naruh tempat loh,"


"Nggak mungkin sayang! Aku sudah cek ratusan kali!"


Ani kembali berfikir.


"Apa gaji kalian kurang? Kenapa kalian mencuri?" kembali melemparkan pertanyaan.


"Gaji kami lebih dari cukup nona muda," jawab Jesslyn dengan cepat.


"Lantas kenapa kalian mencuri?"


"Tapi," belum sempat Jesllyn meneruskan kata-katanya, Ani segera melontarkan pertanyaan kembali.


"Memangnya seberapa mahal barang yang kalian curi? Bukankah biasanya seorang pencuri, setelah mencuri dia akan pergi meninggalkan rumah yang habis dicuri? Kalau kalian masih kurang dengan gaji yang diberikan suamiku kalian kan bisa mengatakannya,"


"Tapi nona..."


"Diam!" mata Ani kembali menatap tajam keempat orang itu.


"Mas Ardan kenapa nggak ke kamar? Malah disini? Kan bisa mengurus mereka besok saja," mendekat ketempat Ardan berdiri.

__ADS_1


"Iya sayang, tapi aku harus..." belum selesai menjawab tapi istrinya sudah terlebih dulu memotong ucapannya.


"Oh ya mas Ardan tadi aku langsung tidur karena kenyang," Ani bersandar di dada bidang milik suaminya.


Keempat orang jomblo yang melihat itupun, segera menundukkan kepalanya. Seakan hati mereka tercubit akan tingkah nona muda mereka.


"Kenyang?" Ardan mengangkat satu alisnya. Memangnya dia habis makan apa?


"Iya mas Ardan. Tadi nasi goreng telur asin dengan taburan udangnya enak banget. Udangnya banyak lagi. Udah aku habisin semuanya yang ada didalam wajan penggorengan mas,"


Jedarrrrr..... Semuanya mengangkat wajahnya. Bahkan Ardan pun menatap wajah istrinya dengan raut yang tidak terbaca.


"Mak...maksud kamu nasi goreng yang ada didapur? Diwajan penggorengan?" Ardan melepas pelukan istrinya. Menatapnya lekat. Bukan hanya Ardan tetapi keempat orang yang tertuduh itupun juga menatap tajam nona mudanya.


Mariani mengangguk dengan senyum yang mengembang dibibir ranumnya. Kemudian wanita itu meraih lengan suaminya kembali. Bergelayut manja tanpa menyadari kelima pasang mata itu menatapnya lekat.


"Iya mas. Masakan mas Ardan enak juga. Besok bikinin lagi ya mas,"


Nyawa Ardan seakan menghilang detik itu juga. Kini dirinya mengerti sekarang. Maling nasi goreng yang dia cari ternyata istrinya sendiri. Bahkan wajah keempat orang yang menjadi sasarannya itu hampir sama dengan dirinya. Seakan nyawa mereka telah menghilang dari tubuh mereka.


"Kenapa sih? Kalian juga kenapa melihatku begitu?"


Setan! Jadi maling nasi goreng itu nona muda? jerit Jesslyn dalam hati.


"Jadi yang ngambil nasi goreng milik tuan muda itu nona muda?" Lita dengan polosnya menunjuk nona mudanya tanpa malu-malu.


"Kenapa? Bukankah nasi goreng itu buatan suamiku sendiri? Wajarkan aku yang makan?"


Ardan, Jack dan Kaisar mengusap wajahnya dengan frustasi. Jelas sudah sekarang. Itulah kenapa istrinya tidak merengek lagi meminta nasi goreng. Ternyata malah sudah masuk keperutnya semua. Padahal dia masak nasi goreng cukup banyak. Maka dari itulah dia mengira kalau empat orang itu pencurinya.


"I..iya sayang. Sekarang masalah ini sudah beres. Kalian kembalilah kekamar. Sayang, sekarang kamu yang akan aku hukum ya," segera mengangkat tubuh mungil istrinya ala Bridal Style.

__ADS_1


"Kyaaa....mas Ardan!" wajah Mariani kini bersemu merah bak tomat rebus. Ardan tidak perduli lagi, yang terpenting adalah memberikan pelajaran kepada istrinya.


Sedangkan keempat orang itu segera membuang alat pel lantai dengan kesalnya.


"Sial*n kita ditinggalin begitu saja," dengus Kaisar sembari melempar kain pel-pelan itu.


Sedangkan Jesslyn dan Lita lebih memilih duduk bersandar di sofa yang empuk. Entah kenapa mereka berdua lemas seketika. Konyol sekali. Umpat Jesslyn dalam hati.


"Aku lelah," kata Lita dengan lirihnya. Matanya terpejam saat itu juga. Mengabaikan dimana dirinya berada.


"Sial*n ! Sinetron azabnya udah selesai! Dih padahal aku ingin tau akhirnya bagaimana," keluh Jack sembari mengumpat didepan tv.


Menyesal karena sebuah tayangan religi nan konyol itu selesai. Sinetron dengan judul "Juragan Ayam yang Dzolim Mati tertimpa Kandang Dan Dipenuhi bulu".


"Eh setan! Lu waras gak sih?" teriak Kaisar. Walaupun dirinya juga ingin menyesal karena tayangan itu sudah selesai. Namun harga dirinya terlalu tinggi mengingat Lita sudah mengatakannya kepada Ardan tentang sinetron konyol yang dia dan Jack sukai.


"Eh kampret! Gue cuma penasaran! Tuh juragan ayam matinya gimana? Kandangnya segede apa kok bisa nimpa juragan ayam itu ampek ******,"


Kembali berbagai umpatan dia keluarkan. Setelah lelah keempat orang yang bernasib sial itu kini memasuki kamar masing-masing. Menghilangkan penat akibat mengepel lantai di malam hari.


******


"Mas...mas Ardan mau hukum aku apa?" kini dirinya sudah berbaring diatas ranjang yang empuk.


Tanpa menjawab lagi Ardan mengunci pintu kamar mereka rapat-rapat. Kemudian melepaskan semua pakaian yang melekat dibadannya. Mariani membulat dengan apa yang dilakukan suaminya. Langkah selanjutnya dia sudah paham apa yang akan terjadi padanya.


"Mas...aku,"


Ardan menarik tangan istrinya. Kemudian mencium bibir ranum milik Mariani. Hingga percintaan panas kini terjadi. Bergelung dengan cinta yang membara. Keduanya saling memberikan kenikmatan satu sama lain. Meneguk madu percintaan mereka. Berbagai erangan dan desahan keluar dari bibir keduanya. Entah apa yang membuat Ardan begitu bernafsu saat ini. Semenjak hamil istrinya itu kian bertambah sexi. Membuatnya seakan sulit untuk menahan hasrat yang menggebu.


"Sayang....aku mencintaimu. Selamanya akan selalu mencintaimu. Hingga hembusan nafasku yang terakhir, aku akan tetap menjadikanmu permaisuri satu-satunya dalam hidupku," Ardan mencium kening istrinya setelah kegiatan percintaan mereka selesai. Kemudian matanya melirik jam yang berada didinding kamar. Jarum sudah menunjukkan pukul dua pagi. Itu berarti sudah 3 jam lebih mereka bergelung mencecap surga dunia. Pantas saja matanya sangat berat untuk tetap terbuka.

__ADS_1


Laki-laki itu mematikan lampu. Kemudian merangkak naik dan tidur disamping istrinya memeluknya dari belakang sudah menjadi rutinitasnya ketika malam menjelang.


Malam merangkak naik. Dinginnya malam kian menembus kulit. Ardan memejamkan kedua matanya yang mulai terasa berat. Hingga kini dirinya menyusul istrinya memasuki alam bawah sadarnya.


__ADS_2