Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 200


__ADS_3

**Perhatian bentar yah.




Azalea up-nya 3 hari sekali. Syukur kalau bisa up cepat.




Dion dan Agnes terbit tanggal 30 bulan ini. Saat ini author nampung bab dulu. Biar kalian bisa puas bacanya.




Bagi yang berkenan saja bisa bersilaturahmi ke 082338462628 aku bikinkan grub nanti ya❤️❤️**



__ADS_1


******


"Paman!" panggilan Ardan begitu nyaring terdengar menggema di seluruh ruangan. Smith yang mendengarnya segera bergegas menyambut kedatangan keponakannya itu.


Smith semakin gelisah begitu mendapati wajah Ardan yang tak terbaca. Laki-laki maskulin itu kini sedikit berantakan. Membuat perasaannya semakin was-was dan kacau. Putri semata wayangnya belum kembali kerumah.


"Paman! Apa ada kabar dari Rianna?" tanya Ardan seraya menjatuhkan tubuhnya disofa empuk milik Smith. Bodo amat dengan pemilik rumahnya yang masih berjalan mendekat kearahnya. Baginya saat ini adalah kabar Rianna.


"Rianna? Apa yang terjadi? Dia bilang dia pergi ke toko buku. Aku sudah menyuruh Rangga untuk menyusulnya."


"Kenapa tidak bersama Rangga saja dia perginya?" gertak Ardan. Bahkan suara gemelutuk giginya pun terdengar.


"Kamu tau sendiri Ardan! Rianna paling tak suka jika orang asing mendekatinya. Ingatlah saat ini dia tengah menjalani perawatan!" suara Smith yang tadinya lembut kini menggelegar. Bagaimana tidak emosi? Dirinya bahkan sangat gelisah dan khawatir dengan kabar Rianna. Putri satu-satunya buah dari cinta pertamanya.


Kedua mata Smith melebar. Darahnya berdesir seakan ada bencana dibalik kehadiran dari William ini.


"Malam ini kita harus bertindak! Semakin lama akan menimbulkan kesempatan untuknya. Terlebih sekarang istriku sedang hamil besar." Ardan mengusap wajahnya dengan kasar. Tak sanggup membayangkan jika suatu hari terjadi huru-hara yang harus melukai istrinya.


"Aku hanya memiliki gudang peledak saja. Gudang senjata apiku sudah kau ledakkan tempo hari."


"Jika memakai bom otomatis akan ada banyak korban nantinya. Berikan saja harta karunmu itu Paman. Aku tau seberapa banyak senjata apimu yang terbaru."


"Dasar keponakan licik! Lalu Rianna?"

__ADS_1


"Makanya Paman! Kita malam ini bertindak! Jangan banyak bertanya!"


"Ardan katakan satu hal. Bagaimana info tentang Rianna bisa bocor keluar? Aku bahkan belum pernah bepergian bersamanya."


"Paman! Apa Paman begitu yakin jika orang yang saat ini diluar rumah ini yang membocorkannya?" selidik Ardan.


"Apa maksudmu Ardan?"


"Paman! Wanita itu ada dirumah ini bukan?"


"Wanita? Intan? Eh hampir jam segini aku belum melihat batang hidungnya sedikitpun."


"Sialan! Wanita itulah mata-mata dari William! Entah apa yang terjadi kenapa wanita itu begitu licin seperti belut." Sungut Ardan dengan emosi yang semakin memuncak.


"Apa? Intan yang menjadi kaki tangan William itu? Sialan! Wanita brengs*k! Bagaimana bisa dia begitu beruntung memiliki pendukung seperti William?!"


"Sekarang aku tanya Paman. Hei Paman bagaimana bisa kau bertemu dengan wanita licik itu dan berusaha melenyapkan keponakanmu yang ganteng ini? Kecuali Author novel ini. Dia bilang kemarin bosan padaku dan ingin membuat novel baru tentang Dion dan Agnes!"


"Diam kau Ardan! Sekarang lebih baik kita bereskan wanita ular itu. Sebelum dia pergi meninggalkan rumah ini." Dengan segera Smith beringsut dari posisinya melangkah lebar-lebar kekamar tamu yang dihuni intan. Begitu pula dengan Ardan secepat kilat menyusul pamannya itu melesat menuju sebuah kamar.


Ceklek


"Hei wanita brengs*k! Dasar pengkhia-."

__ADS_1


Tubuh Ardan dan Smith semakin membeku begitu melihat suasana didalam kamar itu. Darah seakan berhenti mengalir di setiap pembuluh darah keduanya. Kamar itu sepi seakan tak berpenghuni walaupun berpenghuni. Karena sang penghuni kamar sudah merenggang nyawa. Tubuhnya telah terbujur kaku dengan perut yang robek seakan terkoyak.


__ADS_2