Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 112


__ADS_3

mulai mengerjab-ngerjabkan matanya. Dimana ini? Ah kamarku, kepalaku pusing.


"Sayang kamu sudah sadar? Apa yang sakit katakan?! Mana mana? A...aku pijat ya apa perlu aku kasih minyak angin? Ardan mulai gelagapan. Tubuhnya sebenarnya sangat lemah. Karena dialah yang merasakan ngidam. Namun semua itu dia tepis. Saat mendapatkan kabar bahwa ada sebuah paket misterius yang membuat istrinya pingsan segera saja dia membatalkan semua jadwal meetingnya. Bagaimanapun istrinya lebih penting dari apapun.


"Sayang maafkan aku, aku kecolongan. Kalian semua gak berguna!!! Untuk apa aku mempekerjakan kalian semua hah?" teriak Ardan semua pelayan menunduk takut. Majikannya benar-benar emosi. Semua barang sudah melayang kearah mereka hingga ada salah satu dari mereka yang terluka. Karena terkena serpihan gelas kaca yang Ardan lempar kesembarang arah. Seketika Ani menggapai tangan Ardan berusaha menenangkan Ardan yang emosi.


"Mas...."ujarnya lemah. Dia menarik tangan Ardan mencoba mengalihkan perhatiannya. Benar saja. Wajah Ardan sedikit melunak ketika menatap wajah sendu milik istrinya.


"Sayang.....katakan mana yang sakit? Biar diperiksa oleh dokter. Lihat itu ada dokter Renata yang memeriksa kamu. Dia adalah dokter keluarga Wijaya. Katakan sayang mana yang sakit?" ucap Ardan sembari berjongkok menatap istrinya. Wajahnya tak kalah pucat dengan wajah milik istrinya.


"Aku udah mendingan mas," ucap Ani perlahan-lahan berusaha mendudukkan tubuhnya. "Aku mungkin hanya kaget mas. Lihat ada darah kayak gitu," dia teringat bagaimana isi dari paketan misterius itu. Sebuah boneka yang lusuh. Dengan kepala yang terputus ditambah dengan adanya darah. Membuat perutnya serasa diaduk.


"Maaf....." Ardan masih mengucapkan maaf. Dia seakan lalai menjaga istrinya. BI Inah kemudian menyodorkan wedang jahe hangat untuk Ani.


"Nona.... setidaknya bisa menghangatkan tubuh nona. Agar perut nona sedikit baikan," ucap bi inah.

__ADS_1


"Terima kasih," Ani segera mengambil gelas yang berisi wedang jahe itu. Dan meminumnya selagi hangat. Benar, rasanya perutnya sudah sedikit baikan. Ani menyerahkan gelas yang sudah kosong kepada BI Inah.


"Sayang," panggil Ardan dengan lembut. Seakan rasa bersalahnya belum hilang.


"Semua ini diluar kendali kita semua mas. Bukan salah mereka juga. Mereka kan tidak tau isinya apa. Dan mas Ardan juga gak perlu seperti ini. Ayo duduk disini," menepuk tempat kosong diujung ranjang. Ardan mengangguk. Meskipun tubuhnya benar-benar lemah namun dia tepis karena istrinya lebih penting.


Agnes masih menunduk ditempatnya. Dia benar-benar lalai menjaga nona mudanya. Rianna hanya mematung ditempatnya karena emosi Ardan dia menjadi sedikit takut jika harus mendekati Ani. Seketika hening melenggang Ardan menyibak anak rambut yang menutupi wajah istrinya. Penampilan istrinya benar-benar kacau. Tidak seperti biasanya. Entah kenapa perutnya sedikit tidak enak.


"Mas Ardan sakit?" tanya Ani. Ardan menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. "Mas Ardan pengen makan apa?"


Ani menautkan kedua alisnya, diikuti semua yang ada disana. Mereka semua saling beradu pandang. Terlebih dokter Renata. Dia belum mengetahui jika Ardan sedang mengidam. Sesaat Ani heran namun kemudian dia mengingat ucapan dokter tempo hari yang mengatakan bahwa suaminya lah yang mengalami ngidam. Dia tersenyum. Pantas saja emosi Ardan akhir-akhir ini berubah-ubah. Tapi tunggu memang ini sudah jam berapa? Apa masih ada martabak yang buka.


"Ayo mas aku juga lapar," Ani segera turun dari ranjang.


"Kamu mau kemana?"

__ADS_1


"Mau beli martabak sama wedang ronde lah memang mau kemana lagi mas,"


"Kamu kan lagi sakit!! Ayo tidur sana nanti aku cari sama pak Herman saja. Kamu lagi sakit!!" Segera menarik tubuh istrinya.


"Bukankah mas Ardan tadi bilang lapar? Ayo kita cari makan diluar. Aku juga pengen makan diluar," rengek Ani.


Ardan seketika terdiam. Namun beberapa saat kemudian wajahnya secerah sinar mentari pagi. Dia mengangguk sembari tersenyum.


"Ayo !! Jangan lupa pakai jaket yang tebal. Udara malam sangat dingin," sangat antusias tanpa dia sadari bahwa dikamar itu masih banyak orang.


"Mereka," Ani menunjuk semua yang ada diruangan itu. Seketika Ardan menghentikan aktivitasnya dan kembali emosi.


"Kenapa kalian semua masih disini? Sana pergi !! Apa kalian semua mau aku pecat?! Aku kan sudah bilang pergi ya pergi sana!!"


Mereka semua segera berlalu dari tempat mereka berdiri. Berpamitan dengan sopan dan tubuh yang gemetar. Tuan muda mereka benar-benar seperti binatang buas yang siap menerkam mangsanya.

__ADS_1


__ADS_2