Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 336. William Takjub.


__ADS_3

"Hei lihat! Presdir membawa seorang gadis!"


"Apa? Mana? Anj*r! Cantik banget!


"Hush! Diam lu pada! Jangan sampai presdir marah."


"Sepertinya aku pernah melihat gadis itu?"


"Siapa?"


"Atau dia pacar baru presdir?"


"Jangan bercanda! Lagian, dia orang yang dibawa oleh presdir! Belum tentu juga pacarnya. Mungkin tamu? Anak dari rekan bisnis yang baru saja dimenangkan oleh presdir." 


Mendengar kasak-kusuk tersebut, Sabrina tersenyum. Bukankah itu berarti, dia pantas menjadi pendamping dari pria yang ia cintai? Tentu saja hati Sabrina mendadak berbunga-bunga. Entah mengapa kali ini perasaan William pun sama. Ia merasa bangga membawa Sabrina ke perusahaannya.


"Aku tidak menyangka, jika ada yang bekerja hari ini." Sabrina membuka suara.


"Seperti yang aku bilang. Memang hari ini kami lembur. Karena ada banyak pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Sebelumnya, terima kasih sudah menawarkan diri. Aku akan mentraktirmu," kata William.


"Sungguh?" Kedua mata Sabrina berbinar.

__ADS_1


William tak menjawab. Kini William, Ryu dan Sabrina berada di dalam lift. Senyum manis sepertinya sangat betah bertengger di bibir Sabrina.


"Aku tidak akan melupakan hari ini." Sabrina membatin seraya tersenyum.


Ting.


"Eh? Ada sekretaris baru?" tanya Sabrina. 


Saat mereka semua telah sampai di lantai khusus presdir. Melihat seorang wanita seksi di meja sekretaris, Sabrina mendadak bermuka masam. Senyuman yang sedari tadi bertengger di bibirnya, kini raib tak berbekas.


"Benar. Namanya Friya. Sekretaris baru. Ayo, kita masuk ke ruanganku," ajak William. Tak ingin mengingat kejadian di masa silam.


Dengan perasaan dongkol, Sabrina mengekor di belakang William dan Ryu. Sesampainya di ruangan presdir, Sabrina mengubah mimik wajahnya. Jangan sampai William memiliki fikiran buruk terhadapnya.


"Baiklah, Sabrina. Ini laptopku. Ada beberapa berkas-berkas di sana. Bisa kan kau membantuku?" tanya William.


Sabrina mengulum senyuman. Lalu meraih sodoran laptop milik William. Pria itu dengan telaten mulai menjelaskan apa pekerjaan Sabrina. Tentu saja, hal itu sangat mudah untuk Sabrina. Di sudut lain, Ryu hanya memperhatikan interaksi keduanya dalam diam.


"Ada apa dengan Tuan? Mendadak Tuan William menjadi sabar. Padahal akhir-akhir ini, Tuan William berubah aneh. Seingatku bukankah itu semenjak Nona Sabrina pulang?" Ryu menebak dalam hati.


Setelah mengerti, Sabrina berjalan menuju sofa. Lalu mendudukkan bokongnya di sana. Wajah gadis itu nampak berubah. Menjadi serius dengan pekerjaan yang dilimpahkan kepadanya. William menarik sudut bibirnya. Menyukai perubahan mimik wajah Sabrina. 

__ADS_1


"Benar. Sabrina begitu memahamiku. Dia bahkan bisa menempatkan dirinya di mana dia berada. Emosinya sungguh baik. Apa benar, jika aku mulai jatuh cinta padanya?" William membatin.


Drrtt drtt drrt.


Ponsel William bergetar. Menandakan ada notifikasi yang masuk di ponselnya. Pria itu segera merogoh ponselnya di saku celana. Tak lama kemudian, dahinya berkerut. Sebuah pesan dari Artur. Perlahan, William membuka pesan chat aplikasi hijau itu. Kedua matanya membulat sempurna mendapati beberapa pesan foto di ponselnya. Berikut penuturan dari Artur.


"Hebat! Sabrina luar biasa! Sepertinya gadis itu memiliki pesona yang menawan. Sekarang aku bisa meyakini satu hal. Sabrina populer di kampusnya. Untung saja, aku tadi tak membiarkannya pergi keluar rumah. Hanya mengikutiku di kantor ini. Setidaknya aku bisa memantaunya. Jadi, benar. Di luar sana, istriku menjadi incaran orang?" lagi-lagi William hanya bisa membatin.


William menatap tajam ke arah Sabrina. Ia kembali berkata dalam hati, "Aku harus membatasi ruang gerak Sabrina. Jangan sampai ia dibohongi oleh para pria buaya di luar sana. Atau mending, dia aku ajak terus ke kantorku? Tentu saja dengan alasan masih membutuhkan ide-idenya? Aku juga harus mengawasi Artur. Jangan sampai dia mengacau lagi. Aku tidak ingin Sabrina minggat kembali dari rumah."


"Uncle, sepertinya keuntungan bisnismu ini besar ya?" tanya Sabrina. Gadis itu mengangkat wajahnya.


"Iya. Maka dari itu, aku harus bekerja keras. Apa kau menemukan sesuatu?" tanya balik William.


Kembali Sabrina menatap laptop milik William. Lanjutnya, "Ada. Bagian manager keuangan dengan laporan keuangan bernama Anton Suratman. Ada yang janggal. Kurasa Uncle bisa mengawasinya mulai sekarang," ungkap Sabrina tanpa menoleh.


"Baik. Aku akan mengawasinya mulai sekarang. Apa ada lagi?" William menatap Sabrina.


"Itu dulu. Aku belum melihat lagi. Tapi, aku bisa memperbaikinya. Apa aku perbaiki sekarang?" Sabrina mulai menatap William kembali.


"Astaga! Nona Sabrina keren sekali. Aku padamu, Nona. Ayo, selesaikan Nona. Supaya aku dan Tuan William tidak perlu lembur lagi nanti. Nona Sabrina memang pantas menjadi wanita Tuan William. Tapi, mengingat fakta dibalik pernikahan mereka, sepertinya hanya mimpi melihat mereka bersama selamanya." Ryu bermonolog dalam hati. Sesekali melirik ke arah tuan dan nona majikannya.

__ADS_1


"Boleh. Aku akan menegur bagian keuangan. Jangan khawatir. Nanti makan siang, sesuai janjiku. Aku akan mentraktirmu." William berkata dengan tegas. Dengan cepat William kembali menatap berkas-berkas di meja. Seraya perlahan mengurut pelan dada bidangnya. Menetralkan jantung yang suka sekali melompat.


__ADS_2