
"Artur, ayahmu tadi pagi kenapa ya?" tanya Sabrina.
Saat ini mereka sedang duduk di taman untuk menghabiskan waktu menunggu jam pelajaran berikutnya. Artur menoleh sekilas. Melirik wajah Sabrina yang tengah menopang dagu dengan satu tangannya.
"Apa dia tidak sadar, jika ayah cemburu? Sudahlah, bukan urusanku. Sial*n! Aku jadi tidak bisa bebas bergerak!" Artur membatin kesal.
"Artur, kau mendengarku tidak?" tanya Sabrina.
"Yang menjadi pemikiranku hanya satu. Kenapa Lexi mengirim bunga untukmu? Jelas-jelas, kalian berdua sudah dua kali bertemu dan bermusuhan. Lalu, apa alasan dia tiba-tiba mengirim bunga? Itu aneh," papar Artur.
"Huh! Jika aku mengingat itu, aku menjadi jijik secara tiba-tiba. Jika sebelumnya aku dan dia tidak bermusuhan, kupikir aku tidak akan curiga padanya," timpal Sabrina.
"Yang paling kusesalkan adalah, mengapa ayah mengawasi kita?" tanya Artur.
Sabrina mencebikkan bibirnya. Mengiyakan apa yang dikatakan oleh Artur. Pikiran Sabrina menjadi rumit. Mengingat, ia semakin dibatasi geraknya. Tiba-tiba pikiran Sabrina sedikit terang. Ada yang mengganjal dari pagi ini.
"Artur, dari mana Lexi tahu alamat rumah yang aku tinggali? Jika aku berfikir, bukankah aku baru saja pindah ke rumahmu ya? Mengapa dia mengetahui alamat rumahku?" tanya Sabrina heran.
__ADS_1
Mendengar penuturan dari Sabrina, Artur juga berfikir sama. Jika Lexi mengirim bunga untuk Sabrina, bukankah itu artinya Lexi mengetahui jika ia dan Sabrina tinggal serumah? Kedua alis Artur bertaut.
"Sabrina!" Sebuah teriakan membuat Artur dan Sabrina menoleh. Terlihat Lexi berjalan ke tempat mereka. "Sabrina, kau sudah menerima bunga dariku?" tanya Lexi tanpa basa basi.
Dahi Sabrina mengerut. "Dari mana kau tahu alamat rumahku?"
Lexi mengukir senyuman. "Gampang. Kemarin aku mengikutimu. Em, aku ingin meminta maaf kejadian kemarin." Lexi menyodorkan tangan kanannya. "Kau mau kan memaafkanku?"
Sabrina menatap tangan yang mengambang di udara itu. Tatapan Sabrina kembali beralih kepada Lexi yang masih tersenyum. Tindakan Lexi cukup membuatnya bingung.
"Kau tidak ingin memaafkanku?" tanya Lexi. Pria itu memasang raut memelas. Tangannya bahkan masih di tempat yang sama.
Mendengar itu, Sabrina menjabat tangan Lexi. Hanya sebentar. Lalu Sabrina segera menarik kembali tangan. Sepertinya kekagetan Sabrina dan Artur tak sampai di situ. Lexi justru mendudukkan di bangku kosong yang bermeja bundar itu. Tepat di mana Artur dan Sabrina berada.
"Ngomong-ngomong, aku heran. Kenapa kalian tinggal bersama?" tanya Lexi.
Deg.
__ADS_1
Jantung Artur terasa berdetak lebih kencang. Seperti seorang maling yang baru saja ketahuan. Artur melirik ke arah Sabrina. Tampak gadis itu masih menatap lekat ke arah sosok Lexi berada. Terlihat sangat tenang.
"Kami saudara sepupu. Kenapa?" Nada suara Sabrina terdengar tak enak.
Tiba-tiba kedua mata Lexi berbinar. "Benarkah? Jadi gosip tentang kalian pacaran itu, hanya gosip semata?"
"Gosip?" Artur dan Sabrina bertanya secara bersamaan.
Lexi mengangguk cepat. "Berita ini sudah menyebar. Mengatakan kalian ini pacaran. Kalian tidak dengar? Tapi untunglah hanya gosip saja."
"Memangnya kenapa jika hanya gosip? Lalu, maksudmu apa mengirimku bunga? Aku sangat membenci bunga!" tandas Sabrina.
"Kau membenci bunga? Kupikir semua gadis akan menyukai bunga. Lalu bunga itu, sebagai permintaan maafku kemarin. Lain kali, aku tidak akan mengirim bunga. Kau suka coklat?" tanya Lexi.
"Tidak ada lain kali. Lebih baik, bunga tadi pagi adalah yang pertama dan terakhir kalinya. Jangan memberiku apapun lagi. Bisa-bisa pacarku tidak menyukainya! Artur, ayo ke kantin. Aku lapar." Sabrina segera bangkit. Di belakang Artur mengekor tanpa protes.
"Wah, aku ditolak? Keren! Sabrina, aku semakin penasaran denganmu!" Lexi menggumam. Senyuman kagum tersemat di bibirnya.
__ADS_1