Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 406. Satu Kenyataan Baru


__ADS_3

Sabrina menyipitkan kedua matanya. Amelia mengirimkan sebuah pesan email. Seketika Sabrina mengangkat satu alisnya. Tidak biasanya Amelia mengirimkan pesan melalui email. Begitu pikir Sabrina.


Ia pun segera membuka email dari Amelia. Seketika kedua matanya melebar. Pesan dari Amelia seakan memberikan jawaban hal yang membuatnya penasaran. Tentu saja berkaitan dengan sang pengagum rahasia. Di mana Sabrina sering kali mendapatkan hadiah-hadiah dari pengagum rahasianya.


"Kenapa aku tidak pernah berfikir? Ini adalah rahasia yang besar. Tapi aku malah mengabaikannya. Dua pria yang memberiku hadiah ternyata bagian dari pembunuh bayaran itu sendiri. Beruntung sekali Bibi Rosi membuang semua hadiah tersebut karena kemarahan Uncle William. Benar-benar diluar dugaan. Terlebih lagi, di semua hadiah yang dikirimkan. Berisi penyadap sekaligus racun? Oh astaga! Sabrina, kau kecolongan lagi! Kenapa kau mengabaikan darimana para penggemarmu mengetahui alamat rumah ini?" Sabrina membatin gelisah.


"Nona, ini bekal makan siang yang Anda inginkan." Bibi Rosi tampak menyodorkan satu kotak bekal makan siang untuk Sabrina.


Lamunan Sabrina buyar seketika. "Okay, Bibi. Terima kasih."


"Lagi-lagi kau melamun, Honey?" William menjatuhkan bokongnya di kursi.


"Aku hanya memikirkan Aretha. Mungkin aku harus memberikan hadiah untuknya." Sabrina dengan susah payah mengukir senyuman.

__ADS_1


"Anak itu lagi. Jangan dipikirkan. Kurasa kau terlalu baik dengan orang lain, Sabrina," sela Artur. Ia mengambil piring untuk segera sarapan.


Sabrina mengerucutkan bibirnya. Hingga tak sengaja melihat sesuatu dari balik jaket yang sedang dipakai Artur. Sabrina menyipitkan kedua mata. Ia cukup mengenali benda apa itu.


"Artur, dibalik jaketmu itu?" Sabrina menghentikan kata-katanya.


"Sesuatu yang diberikan oleh Oma untukku. Menjaga seseorang yang penting untuknya," sahut Artur.


"Wah. Aku menyesali ini. Kenapa kalian berdua semakin masuk ke jalan yang tak seharusnya kalian pilih?" Raut wajah Sabrina berubah sendu.


"Benar. Aku juga sudah mengambil keputusan. Keluargamu menyenangkan. Aku bisa merasakan kasih sayang dari opa dan oma. Sesuatu yang tak pernah kudapatkan sebelumnya," ujar Artur.


Hal itu menyentak William dan Sabrina. Sejurus kemudian, William menundukkan kepala. Pria itu menyadari kesalahannya. Yang membuat Artur hidup tersisih dari keluarga besarnya dan keluarga besar mendiang sang istri. Tiba-tiba keheningan melanda ruang makan. Sabrina menyadari ada hal yang tak seharusnya dibahas.

__ADS_1


"Ada apa ini? Sepertinya aku harus mencari tahu sekali lagi." Sabrina membatin.


"Kenapa murung begitu kalian berdua? Ayo segera sarapan. Jangan membuang waktu lagi. Sebaiknya kita segera sarapan dan berangkat," tukas Sabrina.


Artur dan William tanpa protes segera mengunyah sarapan yang ada di piring keduanya. Pun juga dengan Sabrina. Gadis itu mengunyah makanan dengan susah payah. Lagi-lagi Sabrina memiliki tugas baru. Ia harus menyelidiki orangtua William. Sejak mereka berdua menikah, rasanya Sabrina belum pernah diajak sekalipun bertemu dengan keluarga besar William.


"Aku sepertinya ditakdirkan untuk memiliki banyak masalah. Tapi ini belum terlambat. Aku pasti akan mencari tahu rahasia yang lagi-lagi menbuatku harus banyak berifikir. Kepalaku benar-benar pusing," rutuk Sabrina dalam hati.


Di kampus, Sabrina mencari dua sosok yang menjadi incarannya. Benar saja. Tanpa perlu repot-repot, dua orang itu kedapatan sedang mengawasi dari kejauhan. Di tempat yang ternyata ada Lexi juga. Sabrina merutuki semua kecerobohannya. Mengapa bisa ia ceroboh? Tak berpikir lebih panjang lagi? Sabrina menggelengkan kepala secara reflek. Tiba-tiba sebuah tepukan di pundak Sabrina membuat Sabrina menoleh.


"Kau mengagetkanku, Artur. Kenapa kau suka sekali membuatku jantungan?" kesal Sabrina.


"Apa kau tiba-tiba kepikiran dengan apa yang aku katakan saat kita berkumpul di meja makan untuk sarapan?" tebak Artur. Yang kini pria itu telah duduk di samping Sabrina.

__ADS_1


"Ya. Itu sebenarnya sedikit menggangguku. Tapi tak masalah. Itu privasi kalian berdua. Aku kesana sebentar." Sabrina bangkit dari tempatnya.


"Mamaku dibuang keluarganya karena ketahuan hamil diriku." Kata-kata dari Artur, membuat Sabrina menghentikan langkakinya. Gadis itu terlihat cukup terkejut.


__ADS_2