
Elena menurut saat Rendy membawanya kesuatu tempat. Meskipun dengan syarat kedua matanya harus ditutup menggunakan kain berwarna hitam. Baginya, sudah cukup dengan dirinya yang akan bertemu dengan Steven. Karena lelaki itulah yang membuat awal mula hidupnya terasingkan.
Asal aku bisa membalaskan dendamku ini. Aku bisa memberikan seluruh dunia untukmu, Rendy. Papa, mama lihatlah bagaimana nanti aku akan membalaskan dendam kalian. Aku memang hanya anak angkat dihidup kalian. Tapi aku akan menunjukkan baktiku kepada kalian untuk terakhir kalinya.
Mobil berhenti disuatu tempat. Elena tak mampu melihat dimana kini dirinya berada. Hanya dari genggaman tangan Rendy dirinya dapat berjalan. Mungkin saat ini Elena seakan buta. Tetapi jangan lupakan indra yang lainnya. Untuk itulah dia menjadi seorang ketua mafia The Queen.
Meskipun kami berada di dalam ruangan, tetapu aku merasa baunya pengap dan hawa dingin menyeruak menembus kulit. Tempat ini adalah ruangan bawah tanah! Ya ... Sesekali kakiku melangkah dapat dipastikan ini berlantaikan ubin. Hanya saja mengapa Rendy menutup kedua mataku?
"Elena ... kita sudah sampai. Buka penutup matamu."
Elena menganggukkan kepalanya seraya membuka penutup matanya. Seperti yang dijanjikan oleh Rendy, di hadapannya ada sosok yang selama ini telah dia cari. Ternyata keadaannya sungguh miris. Lelaki itu bahkan terlihat memiliki banyak luka ditubuhnya. Kemudian Elena menoleh kearah Rendy. Meminta jawaban atas luka lelaki dihadapannya.
"Aku hanya memberikan sedikit pelajaran," ucap Rendy sembari mendudukkan bokongnya disebuah sofa yang telah disiapkan oleh Kei.
__ADS_1
Elena menganggukkan kepalanya. Kemudian kembali menatap sosok tubuh yang telah terikat di tiang dengan mulut yang telah disumpal kain. Lelaki itu tak sadarkan diri. Kemudian Rendy menggerakkan tangannya. Danar dengan cekatan mengambil sebuah ember yang telah diisi air dan kemudian menyiramkannya ke tubuh Steven yang tak sadarkan diri.
"Uhuk uhuk." Steven membuka kedua matanya. Dengan segera kedua matanya melebar saat mendapati sosok yang sangat dirindukannya. Seulas senyum terbit dibibirnya. "Elena."
"Oh ... hai kak Steven. Sepertinya lama kita tidak berjumpa," sapa Elena dengan senyum yang sulit diartikan.
"Oh? Begitukah?" Elena berjalan mendekati Rendy. Tanpa disangka justru Elena duduk di pangkuan Rendy. Membuat darah Steven mendidih karena rasa cemburu yang menggelora.
"Elena! Mengapa kau bersama dia?" tanya Steven dengan menggertakkan giginya.
"Aku lupa memberitahumu kak. Jika aku telah bertunangan dengannya," ucapan Elena telak membuat dada Steven bergemuruh hebat. Tak terima dengan apa yang diungkapkan oleh Elena.
__ADS_1
"Elena! Aku memberikan seluruh dunia untukmu, tetapi inilah balasanmu? Kau hanya milikku, hanya milik Steven!" teriakan Steven membuat kemurkaan pada Elena. Gadis itu segera bangkit dan berlari kearah Steven. Sejurus kemudian gadis itu menampar dengan keras pipi milik Steven.
Plak.
"Sebaiknya kau mengingat kembali apa yang telah kau perbuat di masa lalu. Aku masih ingat betul, bagaimana kau tanpa belas kasih membunuh orangtuamu. Sebaiknya kau berdo'a agar mati dengan mudah. Tetapi sayangnya, kau telah bertemu denganku. Yang artinya kau harus mati ditanganku."
Elena segera menyambar sebuah pistol Revolver berkaliber 22 yang tersemat apik dibalik baju seorang penjaga. Steven yang baru saja tersadar jika Elena bukanlah gadis kecil kebanggaannya, segera murka.
"Laku-laki biadab! Apa yang telah kau lakukan pada Elenaku?" seru Steven.
Dor Dor.
Tanpa ragu, Elena menarik pelatuk pistol tersebut sebanyak 2 kali. Membuat Steven meringis kesakitan.
__ADS_1