Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 67


__ADS_3

Jessica menatap dua sosok yang baru saja turun dari mobil. Matanya menatap tajam. Sosok yang akhir-akhir ini mencuri perhatiannya. Bertambah kesal saat tahu siapa yang bersamanya.


"Dasar ****** gembel!!! Udah bagus gua kasih peringatan jangan Deket laki orang kenapa malah sekarang loe bareng sama dia?! Kayaknya loe cari perhatian gue lagi ya." Jessica mendengus kesal lantaran Monica diantar oleh Kevin hari ini. Tentu saja banyak pasang mata yang mengawasi hal itu. Begitu pula Ani yang saat itu tengah turun dari mobilnya. Menatap kedua sosok itu lekat-lekat. Benar mereka adalah dua orang yang dikenalnya. Dia turun dari mobil. Berusaha membenarkan pemandangannya yang ada didepan matanya.


"Monic?" Panggil Ani. Sosok yang merasa dipanggil namanya pun beringsut menoleh mencari sumber suara itu berasal. Ditemukannya sosok Ani yang menatapnya lekat. Meminta jawaban.


"Ah beb....." Entah Monica harus bagaimana. Kevin benar-benar membuatnya canggung. Ani menyelamatkannya dari situasi menggelikan itu.


"Ya sudah sana belajar yang rajin oke. Aku akan menjemputmu nanti." Mencubit mesra hidung mancung Monica. Tubuh gadis itu kaku seketika.


Ani pun sama halnya benar-benar tak percaya dengan apa yang ada di depan matanya itu. Dilihatnya punggung cool Kevin. Kemudian beralih melirik Monica. Gadis itu lemas. Mencoba mengumpulkan separuh nyawanya yang hilang. Ujung baju Monica pun ditariknya. Mencoba mengembalikannya pada kenyataan yang ada.


"Monic kamu gak apa-apa?". Tanya Ani khawatir. Seperkian detik kemudian Monica menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya kamu butuh waktu untuk cerita."


"Maaf ya." Monica tersenyum kecut.


"Oke.... Yuk ke kelas ada yang ingin aku tawarkan buatmu."


"Apa?"


"Heheehhe ada deh..." Ani menggandeng tangan sahabatnya itu. Melangkah menuju kelas mereka.


💞💞💞


 


"Halo assalamualaikum?"


" Waalaikum salam.. Hai sayang.... Kamu lagi ngapain?"


"Beres-beres mau pulang. Udah gak ada matkul lagi. Ada apa? Tumben jam segini mas telfon?" Ani melirik jam tangannya.


"Nanti kamu kerumah mami ya? Ikut belanja mami. Nanti malam mas mau ajak kepesta. Biar semua diurus sama mami. Pak Herman sudah menghubungi butik langganan mama. Nanti disana kamu pasti tahu selanjutnya bagaimana. Ya sudah ya mas mau meeting dulu. I love you sayang. Muahhh"


"I love you too mas. Assalamualaikum."


"Eh ah... Waalaikum salam hihi maaf." Ardan menutup telfonnya.


"Ada apa beb? Pak Ardan?"

__ADS_1


"Hem iya nih katanya mau ngajak kepesta penting." Ujar Ani. Monica manggut-manggut tanda mengerti.


"Oh ya tadi pagi kamu mau bilang apa?"


"Begini Monic. Setiap bulan kan aku dapat uang belanja. Nah kan aku sama sekali gak pernah pakek uang itu alhasil uangnya numpuk di ATM. Berhubung gak kepakek itulah aku ingin membuka usaha. Kamu mau bantuin aku? Maksudku usaha kecil-kecil an lah seperti swalayan mungkin."


"Waaahhhhh... Berarti banyak dong duitmu dari pak Ardan. Uuuhhh ya ampun beb kamu tahu nggak hidup kamu tuh sempurna banget huuu" Monica sudah mengidolakan pasangan yang unik ini. Dia ikut berbahagia.


"Makanya itu. Aku mau buka usaha lah dari pada ngrepotin terus."


"Kamu salah beb. Aku rasa pak Ardan gak pernah merasa ngrepotin kamu. Kamu kan istrinya."


"Tapi aku ingin mandiri."


"Hah... Memang aku gak salah nih punya sahabat kaya Kayak kamu." Monica memeluk Ani erat." Yasudah ayo cari tempat yang cocok."


"Sekarang gak bisa Monic aku harus kerumah mami buat acara nanti malam." Ani merapikan kembali buku-bukunya. Memasukkannya satu persatu kedalam tasnya.


"Oke deh hati-hati ya. Aku mau ngerjain tugas praktekku aja deh kalau gitu."


"Eeeehhhh.... Ya ampun Monic !!! Tugas !! Kamu mau kan bantuin aku nanti?"


"Ya bantuin aku ya?"


"Tapi bukannya kamu juga bisa ya beb?"


"Dulu aku memang pintar tapi ingatkah kamu kalau otakku sudah berhenti bekerja tiga tahun lamanya?"


"Ohhhh oke. Santai saja. Sana pergilah."


"Oke beb makasih ya. See you." Ani berlari kecil menuju pak Surya supir pribadinya. Bergegas kerumah mertuanya. Untuk mengikuti acara suaminya. Entah pesta macam apa itu.


 


Mobil memasuki garasi. Terlihat mami dan Rendy sudah menunggunya.


"Bundaaa...."


"Aduh anak bunda kenapa nunggu diluar." Menggendong Rendy dan menghujaninya dengan ciuman.


"Hihihi ampun bunda."

__ADS_1


"Ayo nak kita belanja. Mumpung masih sore. Sekalian jalan-jalan."


"Ayo mi tapi sebenarnya ini pesta apa ya mi? Kok kayaknya penting banget."


"Pestanya si Dion nak. Kamu kenal kan?"


"Tentu saja mi udah dua kali ketemu juga kok."


"Ya udah yuk kita berangkat. Ayo cucu Oma."


"Yeayyy !!!" teriak Rendy kegirangan. Membuat hati Ani menjadi hangat.


*****


 


🤭🤭🤭🤭


"Ya halo?"


"*Apa nanti malam kamu ada waktu?" Sebuah suara diujung telpon*.


"Enggak. Tapi ngomong-ngomong ini siapa ya?"


"Dion".


Begitu mendengar nama itu gadis itu terlonjak kaget. Antara bahagia dan tidak percaya.


"Oh tuan Dion? Aku pikir siapa. Oh ya terima kasih atas hadiahnya. Aku bener-bener suka tuan. Tapi ini pasti mahal. Apa lagi perhiasannya. Aku jadi gak enak padahal baru kenal."


*Hehe kamu harus jatuh ke tanganku. Huh Johan bener-bener gak ada apa-apanya jika dibandingkan tuan Dion. Walaupun aku gak bisa dapetin tuan muda Ardan. Tuan Dion pun gak apa-apa yang penting banyak duit*.


"Gak apa-apa. Lagian cuma perhiasan kok."


Hah cuma? Perhiasan? Aaahhhhh udah ganteng tajir gilaaa ini mah.


"Walaupun begitu. Tetap harus berterima kasih."


"Pakailah dan datanglah kepestaku. Nanti orangku akan menjemputmu. Bagaimana nona Intan? Apa anda bersedia menghadiri pesta ku?" Tanya Dion. Diiringi senyum menyeringai.


 

__ADS_1


__ADS_2