
Mau season 3 dari Mutiara Kasih Sayang? Menceritakan kisah anak dari Elena dan Rendy? Komentar dibawah sini ya. Setelah Rianna dan novel Lady In Action tamat, aku bakalan rilis novel Mutiara Kasih Sayang season 3. Pokoknya tetap favorit novel ini atau masuk ke grup chat author. Agar kalian gak ketinggalan info tentang novel baru author. Terima Kasih.
*******
Suasana kini hening. Ardan menghela nafasnya dalam-dalam. Tak mudah mengatasi emosi Rendy. Dirinya mendidik Rendy dengan begitu keras. Hingga membuat perangai Rendy sebelas dua belas dengan dirinya. Ya, dimasa muda sikap arogan Rendy adalah perwujudan dirinya diusia 20 tahunan. Bahkan membuat dirinya menjadi seorang ketua geng mafia.
"Ayah Ardan Wijaya," panggil Rendy dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Rendy bangkit dari posisinya dan berjalan mendekati Ardan. Setelah berada di hadapannya, Rendy berlutut. Membuat mereka semua yang berada disana mengerutkan dahinya.
"Dulu sewaktu aku masih kecil, aku begitu nakal. Aku begitu keras kepala. Tanpa aku sadari, aku telah banyak menyulitkanmu, atau bahkan kata-kata yang tajam dariku juga pernah melukaimu. Tak kusangka, aku menemukan fakta yang mengejutkan jika aku ini hanyalah anak sambungmu...." belum sempat Rendy meneruskan kata-katanya, Ardan segera memotongnya.
"Rendy! Jangan katakan hal itu, Nak. Kau tetap anakku. Putra sulung keluarga Wijaya!" Tubuh Ardan bergetar hebat.
__ADS_1
Kamu anakku, Rendy. Kau anak pertamaku. Tidak boleh. Kau tidak boleh meninggalkanku. Ardan membatin sedih.
"Aku bahagia sekali memiliki seorang ayah sepertimu." Rendy berhenti sejenak. Semua menunggunya untuk melanjutkan kata-katanya. Begitu pula dengan Johan. Meskipun hati lelaki itu hancur, tetapi dirinya masih betah juga bersimpuh di lantai. "Kau ayah yang sempurna. Bahkan kau jauh 1000 kali lebih baik dari ayah kandungku. Sebenarnya, hatimu terbuat dari apa Ayah? Mengapa kau begitu menerima kehadiranku? Mengapa kau bahkan tak pernah membuatku kesulitan sedikitpun. Apa kau tau mengapa aku pergi dari rumah ini dan menetap di negara London? Jawabannya mudah, karena aku telah mengetahui kebenaran jika aku adalah anak sambungmu. Anak tirimu. Aku kecewa dan marah. Aku merasa tak layak untuk menjadi anakmu karena sewaktu kecil aku begitu nakal."
"Rendy, sudah. Jangan bahas masa lalu. Sekarang kita buka lembaran baru ya? Kau mau menerima ayah kandungmu kan?" tanya Ardan sembari mengusap lembut pucuk kepala Rendy.
"Bisakah aku meluapkan isi hatiku barang sebentar, Ayah? Aku sudah menunggu lama untuk hari ini."
Ardan kalah. Lelaki itu menghela nafas dan kemudian menganggukkan kepalanya. Sedangkan disisi lain, hati Johan menghangat. Suami baru Mariani memang orang berhati besar. Pantas jika Rendy begitu mencintainya.
"Bisa! Kamu anakku, kamu bisa Rendy. Kamu anak ayah. Anak sulung ayah," ucap Ardan sembari menutup wajahnya. Air matanya sudah tak terbendung lagi. Apa maksud kata-kata Rendy itu? Gelisah, takut dan bingung.
__ADS_1
"Aku tak akan bisa seperti Ayah. Karena aku bukan anak kandung Ayah. Aku sadar dan marah pada takdir. Mengapa bisa begini? Mengapa? Aku juga bertanya-tanya. Kenapa ayah begitu mencintaiku? Kenapa ayah begitu menyayangiku? Aku telah jatuh cinta pada sosok terang seorang ayah yang begitu hebat. Hingga aku lupa, jika aku membutuhkan seorang pendamping. Ayah bahkan begitu bingung ketika aku belum menikah. Sejauh mana rasa cinta ayah padaku? Mengapa cinta ayah begitu besar padaku? Aku hanyalah anak tiri dan anak sambung."
"Rendy cukup! Tolong hentikan. Kamu anakku. Kamu anakku." Ardan memeluk tubuh Rendy. Menangis bersama dalam kehangatan yang hakiki. Sedangkan di sudut yang lain, rasa iri menjalari hatinya. Anak lelakinya menolaknya dan malah memeluk ayah sambungnya. Kembali ia merutuki kebodohannya dimasa lalu. Air matanya kian membanjiri wajahnya. Begitu pula dengan Mariani. Cinta ayah dan anak itu begitu besar. Hatinya tersentuh melihat kedua anak dn ayah sambung itu memiliki cinta yang luar biasa besar.
"Apakah Ayah akan marah padaku jika aku memanggil laki-laki bajingan itu ayah juga?" tanya Rendy dengan suara yang serak.
Seketika Johan menghentikan tangisnya. Mengangkat wajahnya dan menatap tajam kearah dua orang anak dan ayah sambung itu. Apakah telinganya tidak salah dengar? Apakah benar anak lelakinya ingin memanggilnya ayah? Sekali lagi Johan memasang telinganya dengan tajam. Berharap bisa mendengarkan hal itu sekali lagi.
"Tentu! Tentu! Bagaimanapun juga dia ayah kandungmu. Pernah mengharapkan kelahiranmu ke dunia ini, Nak. Tanpanya aku tak akan memiliki anak yang hebat sepertimu. Hanya saja, jangan tinggalkan ayah Nak. Ayah sudah tua!" Ardan masih memeluk Rendy dengan erat. Begitu takut untuk kehilangan putra sulungnya.
"Bagaimana mungkin? Rendy tidak akan meninggalkan Ayah. Ayah adalah separuh jantung Rendy. Rendy mencintai Ayah. Sepenuh hati ketika engkau tua nanti aku akan merawatmu bersama ibundaku. Aku hanya meminta ijin untuk memanggil lelaki itu ayahku. Bagaimanapun dia adalah ayah kandungku bukan? Aku hanya takut melukai hati Ayah Ardan," sahut Rendy.
__ADS_1
Deg. Jantung Johan seakan berhenti. Rendy ingin memanggilnya ayah? Apa dia lagi-lagi salah dengar? Tidak, dia tidak salah dengar. Terbukti Rendy beringsut mendekatinya dan tengah mengulurkan tangannya.
"Ayah, jangan lagi duduk di lantai. Disitu dingin. Mari duduk bersamaku diatas sofa."