Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
Season 2. Penjemputan.


__ADS_3

"Uhuk!" Rendi terbatuk saat mendengar kata-kata yang meluncur dari bibir Elena. Lelaki itu menatap kesal kearah Elena. Sedangkan gadis itu tanpa merasa bersalah masih menyantap hidangan yang ada di atas meja makan.


Dasar sapi! rutuk Rendy dalam hati.


"Belum selesai tugasmu. Itu masih tugas pertama dan masih ada tugas kedua serta ketiga. Dua hari lagi bersiaplah," ucap Rendy sembari tersenyum sering lelaki itu seperti sedang merencanakan sesuatu.


"Paman ... Apa yang kau katakan? Apa kau tahu jika aku ini hanya seorang gelandangan? Aku juga butuh uang buat jajan Paman. Usiaku masih muda. Aku juga perlu refreshing. Setidaknya aku bisa mencium bau-bau uang. Kau kan kaya masa iya ngutang?" kata Elena kesal.


"Astaga kau ini!" Ingin sekali Rendy mengatai Elena. Baru 2 hari saja dia sudah membuatku sakit kepala. Bagaimana nantinya? Bisa bisa aku mati berdiri sebelum aku kawin nanti. Beneran deh nggak bisa bayangin. Masa iya si otong belum masuk gua aku dha mati.

__ADS_1


"Paman ... Kenapa kau diam saja? Ayolah kasih aku Rp. 500.000. Ada beberapa hal yang harus aku beli," ujar Elena sembari menyodorkan kedua tangannya.


"Oke baiklah ... Memangnya apa yang mau kau beli? Uanng Rp500.000 itu sudah banyak sekali. Kau tahu, kau bilang kau masih kecil mengapa kau meminta uang sebesar itu?" ucap Rendy dengan kesal.


"Ya ... Gini, mau tahu atau mau tau banget? Aku mau beli pembalut Paman. Masa iya aku nyuruh Paman buat beli? tanya Elena.


"Astaga Kei! Cepat berikan uangmu. Supaya jomblo wanita di depanku ini segera pergi. Bisa-bisa darahku habis karena memikirkan dia. Kalau bisa lempar saja dia. Benar-benar membuat rugi." Rendy memijat kedua pelipisnya. Sepertinya dia memang pusing karena ucapan-ucapan dari Elena benar-benar to the point.


*****

__ADS_1


Rendy menatap sekeliling rumah dari atas balkon kamar miliknya. Suasana yang sejuk dan jauh dari polusi udara dan polusi suara. Membuatnya begitu betah dan begitu nyaman tinggal di sana. Setidaknya Rendi bukanlah lelaki yang sangat menyukai kebisingan. Lelaki itu tersenyum mendapati semuanya berjalan seperti yang seharusnya. Para tukang kebun itu merawat bunga-bunganya dengan sepenuh hati.


Perlahan senyum itu memudar sesaat ia mendapati sosok Elina sedang berjalan kaki menuju pintu gerbang utama. Rendy menyipitkan pandangannya agar jelas saat menatap sebuah punggung yang berjalan menjauhi posisinya.


Tanpa disadari sebuah senyum muncul di bibirnya. Saat Rendy melihat tingkah dari Elena yang begitu menggemaskan Sebenarnya dia terlihat polos. Tapi, entahlah perasaanku seperti mengatakan jika Elena tak sesederhana yang terlihat. Aku harus waspada.


***


Di sisi lain Elena semakin perlahan semakin menjauh dari villa milik Rendy. Saat dirinya berhenti tiba-tiba dari arah samping muncul sebuah mobil yang berhenti tepat di depannya. Kaca mobil itu diturunkan. Kemudian Elena tersenyum saat mendapati sosok yang ada di dalam mobil itu adalah sahabatnya.

__ADS_1


"Sesuai dengan perintah mu. Bagaimana langkah kita selanjutnya Elena?" tanya Gadis itu dengan tegas.


"Jika kau sudah menyiapkan pasukanmu, kita bergerak saat ini juga," ucap Elena dengan mantap.


__ADS_2