
"Ini untukmu, Calon Mama." Lexy menyodorkan sebuket bunga yang indah untuk Sabrina. Wanita itu baru masuk ke kampus mulai hati ini setelah satu minggu absen.
"Hei! Dia sudah bersuami!" Artur menepis bunga itu.
"Aku tahu. Siapa yang mau merebut? Otakku masih normal. Ini aku berikan sebagai tanda persahabatan. Otakmu kenapa bisa berpikir aku ini pebinor?" balas Lexy.
"Wajahmu sudah menunjukkannya." Artur merampas bunga yang ada di tangan Lexy dan memberikannya kepada Sabrina.
"Hei!" Lexy protes karena Artur seenaknya saja berbuat ulah.
Sabrina menerima bunga itu dan mencium baunya. Wangi dari bunga itu membuatnya tersenyum. "Terima kasih, Lexy."
"Jika ayah tahu, pasti Mama dihukum." Artur bergumam. Membuat wajah Sabrina berubah.
"Itu untuk sahabatku, ayolah. Kenapa kalian masih saja memojokkanku?" rengek Lexy.
"Seperti yang Artur bilang, wajah Lu tuh mesum!" kelakar Dixton.
__ADS_1
"Sabrina!" Sebuah suara membuat tawa mereka teredam seketika.
Seorang gadis tiba-tiba saja menubruk tubuh Sabrina dan memeluknya erat. Artur yang melihat kejadian itu, sontak melepaskan sosok gadis yang tengah memeluk Sabrina. Wajah Artur pias saat sang gadis justru mengeratkan pelukan.
"Hei! Lepas! Sabrina baru saja sembuh!" bentak Artur.
Tangan Artur mencoba melepaskan dua tubuh yang saling memeluk. Artur panik tentu saja. Bukankah sang mama tiri sedang hamil adik bayinya? Akhirnya gadis yang ternyata Aretha itu melepaskan pelukannya. Wajah Sabrina memerah membuat Aretha merasa bersalah.
"Maaf, Sabrina. Aku, terlalu rindu." Aretha menundukkan kepala.
"Em, apa aku tidak salah dengar jika Artur memanggilmu Mama? Apa kalian memiliki hubungan?" tanya Aretha.
"Dia anak tiriku, jelas memanggilku mama. Bagaimana kabarmu?"
Aretha melebarkan mata. Artur menjadi anak tiri Sabrina? Itu berarti Sabrina menikah dengan ayah Artur? Aretha melongo dengan pikirannya sendiri. Melihat reaksi Aretha, Sabrina tersenyum.
"Benar. Aku menikahi ayahnya Artur. Pernikahan ini sudah berjalan satu tahun. Saat aku baru lulus SMA. Bagaimana kabarmu? Sepertinya kehidupanmu lebih baik." Sabrina berjalan menuju bangku kayu yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Aretha mengikutinya dari belakang. Kemudian keduanya mendudukan bokong di kursi.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Sabrina. Keluarga angkatku sangat baik, tapi ... Aku dijodohkan dengan seseorang. Mama dan Papa angkatku belum mengatakan siapa laki-laki yang akan dijodohkan denganku. Sebenarnya aku ingin menolak perjodohan ini. Akan tetapi aku tidak berani. Aku harus membalas budi kepada mereka. Karena adik-adikku di panti asuhan kini hidup lebih baik bahkan ada yang sudah diadopsi." Kedua iris coklat Aretha berkaca-kaca.
"Terima saja, Aretha. Aku juga dijodohkan. Memang sedikit sulit hidup bersama orang asing. Akan tetapi lama-kelamaan cinta pasti akan timbul jangan mengkhawatirkan apa yang belum terjadi. Lebih baik kita bersyukur dengan keadaan saat ini. Belum tentu kehidupan orang lain bisa sebaik kita saat ini," papar Sabrina.
Gadis itu bungkam. Apa yang dikatakan oleh Sabrina sedikit menyentil relung hatinya. Mengingat kehidupan Aretha yang beberapa waktu lalu sangat miris. Berbeda dengan sekarang, kehidupannya sangat-sangat baik. Kedua orangtua angkat yang menyayanginya, lalu seorang kakak laki-laki yang juga menyayanginya. Padahal sang kakak angkat selalu bersikap dingin ketika berhadapan dengan orang lain.
"Kalau dulu Sabrina juga dijodohkan, sepertinya tidak terlalu buruk." Aretha membatin seraya menahan tangis. Sabrina mengamatinya dengan lekat.
"Sabar, Aretha. Perjodohan tidak sepenuhnya buruk asal kedua belah pihak bisa saling menerima kekurangan pasangan dan saling percaya satu sama lain. Pacaran bertahun-tahun atas pilihan sendiri juga belum tentu berakhir dengan baik. Ada kalanya mereka juga bisa berakhir di tengah jalan ketika mengarungi bahtera rumah tangga. Percayalah kepada Allah, teguhkan hati dan jangan lupa perbanyak ikhtiar. Pasangan itu cerminan diri. Jika kamu gadis baik, pasti pasanganmu juga laki-laki baik." Sabrina mengusap lembut punggung Aretha yang bergetar. Gadis itu menahan tangis. Begitu mendengar kata-kata Sabrina kini Aretha tak mampu menahan tangisannya.
"Bagaimana aku tidak berbicara begitu? Jelas-jelas yang akan dijodohkan denganmu adalah Artur dan aku sangat memahami karakter juga kepribadiannya. Semua akan baik-baik saja, Aretha." Batin Sabrina dalam hati.
---
Sabrina dan William akan berakhir gaess. Tinggal konflik terakhir. Cerita tentang Steward sama Fahmeeda atau Artur sama Aretha kapan2 yak. Maklum ada tanggungan Rianna juga😁 Karena level Novelnya rendah, jadi Author sedikit nggak semangat🙃 Author udah rajin kok. 😆 Rianna akan lebih banyak up ketimbang novel yang lain. Karena biar cepat selesai dan bisa lanjut novel baru dengan rajin. Ngomong-ngomong, dibawah ini ada satu novel author yang setiap hari update ya. Beri hadiah maka author semakin rajin nantinyaaa.
__ADS_1