
"Celup-celup apaan dah. Dasar orangtua," gerutu Dion.
"Emang ada masalah ya?" tanya Agnes.
"Nggak tau juga telpon juga dimatiin sama Ardan. Kayaknya bakalan balik lagi kejalan dulu deh,"
"Jalan dulu?"
"Hem...tapi Ardan ngelakuin ini pasti ada alasannya kok. Sekarang kan dia udah punya anak dan istri jadi wajar aja kalau mau balik ke yang dulu. Siapa sih yang pengen orang penting buat hidupnya celaka? Lagian dia juga gak pernah aneh-aneh,"
"Bakalan perang ya," gumaman kecil Agnes terdengar ditelinga Dion. Dion menoleh senyum tipis tersunggung dibibir mungil Agnes.
"Elo gak boleh ikutan !!"
"Lah kenapa?"
"Gue yang bakal disemprot papa mama !! Udah deh jangan bikin gue kena masalah. Sekarang elo tanggung jawab gue. Kalau elo kenapa-napa gue bakal digampar sama bokap gue,"
"Tapi..,"
"Nggak ada tapi-tapian !! Ingat jangan ikut campur lagi. Sekarang biar gue yang turun tangan !!"
"Tapi gue pengen..," belum sempat Agnes menyelesaikan kata-katanya Dion sudah menatapnya tajam. Agnes seketika menundukkan kepalanya.
"Gue tau masa lalu loe kayak apa tapi please loe hargai gue. Gue gak mau digorok sama bokap gue apa lagi bokap elo,"
Agnes hanya bisa diam mau bagaimanapun Dion memang benar. Kalau sampek dia kenapa-napa yang ada laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu bakalan habis oleh papanya. Belum lagi jika harus Mikhael yang turun tangan gak perlu deh nunggu waktu lama. Pasti Dion udah remuk dulu.
"Iya," gadis itu menundukkan kepalanya. Keinginannya untuk bebas hilang sudah.
"Seandainya elo udah sembuh gue bolehin aja. Tapi lihat tuh kaki aja masih pincang jalannya masa iya mau ikut gue. Kalau entar elo ketinggalan gimana coba kan gue yang repot," ucapan Dion sontak membuat Agnes mendengus kesal.
Sialan gue udah terharu malah dia ngatain gue pincang. Dasar kadal buntung. Emang ya sekali kadal ya tetep kadal. Gimana sih meskipun kadal begini udah jadi suami gue. Argghhh.
Tak terasa mobil Dion sudah sampai di pintu gerbang rumah Nico. Seorang satpam yang melihat kedatangannya pun segera membukakan pintu gerbang.
Begitu pintu gerbang telah dibuka Dion segera melesat menuju halaman rumah Nico. Dan benar saja sesuai dugaannya, rumah itu dijaga dengan sangat ketat.
"Pasti sudah terjadi sesuatu," Dion segera turun dari mobilnya begitu juga dengan Agnes turun dengan perlahan. Meskipun kakinya pincang sekalipun dia tetap tersenyum lebar. Karena tak sabar akan bertemu dengan mereka yang membuatnya bahagia. Meskipun hanya seorang pembantu namun mereka semua memperlakukannya dengan baik.
"Hei....lelet banget sih kamu?" dengus Dion kesal.
"Eh kadal, gue sakit begini elo masih aja ngatain gue lelet? Mau gue gampar?" tangan Agnes sudah diangkat keudara begitu sudah sampai didekat Dion.
__ADS_1
"Belum apa-apa udah mau KDRT aja lu," sarkas Dion. Membuat tangan Agnes segera menurunkan tangannya. Laki-laki itu benar-benar membuat moodnya naik turun.
Sialan gedek gue lama-lama. Untung elo suami gue kalo bukan udah gue habisi.
Saat sampai didepan kamar Nico segera Dion mengetuk pintu. Dan terlihat Rianna menyembulkan kepalanya. Saat melihat Dion yang muncul segera saja dia menghambur ke pelukan laki-laki itu.
"Kakak....kakak baik-baik aja kan?" tanya Rianna.
"Iyalah...emang siapa juga yang berani sama aku, Ri,"
"Kenapa lu nggak mati aja ndro," teriak Kevin sembari memasukkan potongan kue red velvet.
"Eh setan !!! Kalau gue mati gimana bini gue. Bakalan jadi janda muda dong," ucapan Dion sontak saja mengagetkan siapa saja disana. Mereka segera mengangkat wajah dan kepalanya menuju sumber suara itu. Agnes baru saja muncul dengan kaki pincangnya.
Ada apa ini?
batin Agnes saat memasuki kamar Nico perasaan aneh dan bulu kuduk merinding tiba-tiba saja menghampirinya.
Kevin segera bangkit mendekati Dion dan menempelkan punggung tangannya di kening Dion.
"Nggak panas tuh," ucapnya.
"Loe ngapain?" tanya Dion sembari menepis tangan Kevin.
"Ngecek suhu elo. Elo gak panas tapi kenapa omongan elo ngelantur gitu,"
"Kak...." Rianna menautkan kedua alisnya mencoba mencari jawaban begitupun yang lainnya. Masih menatap Dion dengan tatapan tajamnya. Sedangkan yang ditatap memakan kue dengan santainya. Belum lagi dia tiba-tiba menyeruput secangkir kopi. Sangat santuy sekali. Kevin yang melihatnya pun merasa diabaikan.
Kenapa sih ini? Kenapa juga tuh kadal buntung malah duduk santuy gitu. Gak tau apa kalau dia lagi diliatin semua orang.
"Eh ndro maksud loe apaan?! Loe tadi bilang bini? Aduh elo mulai ngehalu ya? Pacar aja nggak punya. Liat aja bulan depan gue udah mau nikah. Pasangan gue nyata men," merangkul Monica dengan pedenya. "Kita juga udah tunangan. Nggak kayak elo, jomblo ngenes,"
Monica hanya bisa menganga. Padahal dia tadinya masih asyik dengan kue buatan Rianna yang membuatnya seakan kalap. Namun begitu Kevin melontarkan kata-kata pernikahan tiba-tiba wajahnya memerah layaknya kepiting rebus. Kue yang tadinya sangat menggugah seleranya pun kini terasa hambar. Padahal dia sendiri belum percaya jika dirinya bulan depan akan menikah.
"Siapa maksud elo yang jomblo ngenes? Gue?" Dion menunjuk wajahnya sendiri.
"Iyalah...masa Rianna. Dia kan emang jomblo tapi dia masih kecil. Jadi wajar nah elo? Udah tua !"
Monica yang mendengarnya masih melongo. Rianna masih kecil? Lah umurnya aja sama umurku gak beda jauh !! Itu mulut kenapa gak bisa direm sih. Kembali mengunyah kue dengan perlahan. Tapi mas Kevin ngomong gitu berarti Rianna bukan pelakor dong? Matanya menatap tajam gadis cantik yang sedang mencebik dan memasang wajah sedih.
"Kok gitu sih kak? Emang siapa yang masih kecil? Aku udah besar!" segera melesat menuju ranjang Nico dan Gretha menyembunyikan wajahnya. Mulai merajuk.
"Hahahaa...sayang kemarilah," menepuk sofa disampingnya. Menandakan dia ingin seseorang duduk disampingnya.
__ADS_1
Kadal buntung kenapa sih? Agnes menautkan alisnya.
"Sayang....kemarilah. Patuhlah sama suamimu," Dion kembali menepuk sofa disampingnya diikuti oleh semua mata yang masih kebingungan.
"Mas Dion kenapa sih mas," Ani menggoyangkan tubuh Ardan. Karena Ardan sedang mengalami morning sickness hanya mampu berdehem saja.
"Sayang...mau durhaka ya sama suamimu?" tatapan tajam Dion mengarah telak kearah Agnes. Seakan menghujani peluru kepada istrinya itu.
Dasar setan !! Kadal buntung !! Brengs**k loe. Awas aja kalau kaki gue udah sembuh. Habis loe habis loe!! Dasar gila !!
Meskipun Agnes mengumpat didalam hati namun dia tetap berjalan kearah Dion, suaminya. Meskipun sebenarnya dia sendiri sudah pusing dengan pernikahan dadakan dan sekarang dia harus dipusingkan lagi oleh suaminya yang mendadak gila ini.
Agnes mendudukkan bokongnya tepat disamping dion. Membuat mereka semua terlonjak kaget. Terlebih Kevin. Laki-laki mengusap kasar wajahnya tak percaya.
"Heh...jangan gila elo. Masa iya dia mau sama elo!! Pasti elo paksa kan hahaha nggak mempan deh," Kevin kemudian mengecup pipi Monica membuat mata gadis itu membulat. Kemudian menatap Dion dengan senyum mengejek. "Kalau ngenes jujur aja napa sih,"
"Sayang," melingkarkan tangannya ditubuh ramping milik Agnes. Mata gadis itu membulat seketika. Bukan hanya dirinya tapi Nico dan Gretha menatap Dion tak percaya. Pasalnya mereka tau sifat anak itu. Tak ingin terjebak dalam kubangan asmara meskipun dia sering berkencan satu malam dengan gadis-gadis cantik.
"Hahahaha heh bro gue kasih saran ya mending gak usah sok-sok an manja gitu. Lihat tuh cewek udah kayak patung. Kasian anak orang tuh," kembali ledekan terlontar dari mulut Kevin. Monica yang sudah tak tahan mendengarnya pun segera mencubit perut laki-laki itu. "Aduh aduh aduh...sayang,"
"Mas Kevin udah dong. Gak kasian apa sama mereka berdua. Jangan kayak anak kecil," sungut Monica.
"Sayang sakit. Habis tiba-tiba dia bilang udah nikah sayang. Ya kali nikah dia gebetan aja gak punya. Mimpi kali,"
"Eh breng** nih lihat buku nikah gue !! Hari ini gue udah nikah!" teriakan Dion memenuhi ruangan. Membuat siapa saja terkesiap kaget. Bukan hanya itu dia melemparkan sebuah buku kecil yang diyakini sebagai buku nikah. Yakinlah semua mata rasanya ingin terlepas keluar dari tempatnya.
"Bagaimana bisa jomblo ngenes kayak elo udah nikah dalam semalam?!" Kevin masih memegang buku nikah milik Dion.
Mati aja lu mati aja !! Dasar kadaaaal!!
Agnes meremas ujung dressnya. ini seperti keluar dari kandang macan masuk kandang buaya.
"Ya bisalah be*o masa elo doang yang gak bisa," mendekat kearah Kevin.
"Eh bangs** gue yakin nih pasti tuh cewek elo paksa !! Iya kan?"
"Eh elo ngajak ribut ya? Udah gue kasih tau gue udah nikah kenapa elo gak terima sih hah?" Dion melipat kemeja miliknya.
"Oh ayo kalau elo ngajak ribut. Sini gue jabanin. Elo iri kan kalo gue ama yayang bebeb gue bulan depan mau nikah iya kan?" menarik kerah kemeja milik Dion.
"Siapa yang ngiri beg* !! Gue emang udah nikah!!"
"BERISIK KALIAN BERDUA!!!" seketika bantal dan guling melayang kewajah Dion dan kevin. dengan brutal diikuti dengan suara menggelegar dari Ardan. Kepalanya benar-benar pusing.
__ADS_1
"Eh,"
Keduanya mendongak melihat Ardan sudah berdiri dengan nafas tersengalnya. Matanya berkilat tajam. Setajam silet. Sungguh sial pagi-pagi sudah mual hebat. Dan sekarang harus mendengar dua orang yang berisik. Sungguh sial memang nasib Ardan. Begitu mual kembali mendera dia segera melesat kekamar mandi.