
"Duduk!" titah Rendy begitu melihat Elena telah kembali dari pusat berbelanja itu. Elena menyipitkan kedua alisnya mencoba mencermati ekspresi dari Rendy.
"Ada apa Paman?" tanya Elena penasaran. Elenapun mendudukkan bokongnya di sebuah sofa. Kini keduanya saling berhadapan. Namun entah mengapa suasana begitu mencekam. Hawa dingin seperti menjalari tubuh Elena.
"Kau sudah menghabiskan uangku bukan?" tanya Rendy dengan tatapan mengintimidasi.
"Kan ... Paman sendiri yang memberikanku kartu itu?" tanya Elena bingung.
"Maaf Nona Elena. Setiap apa yang anda keluarkan dari kartu yang diberikan oleh Tuan Muda, anda harus menanggung resiko untuk mempertanggungjawabkannya," tutur Kei.
Sialan! Aku dijebak. Rintih hati Elena.
__ADS_1
"Baiklah. Apa yang harus aku lakukan Paman?" tanya Elena pasrah.
"Kau sudah menghabiskan 10 juta Poundsterling dari kartu itu. Jadi, ikuti aku untuk pulang ke Indonesia. Jangan banyak bicara atau aku akan menendangmu dari semua fasilitas ini," kata Rendy dengan senyum yang menyeramkan.
"Paman? Terima kasih karena telah menolongku. Kemanapun kamu pergi aku akan mengikutimu Paman. Kau jangan khawatir. Oke. Kalau begitu aku siap-siap dulu," ucap Elena sembari bangkit.
"Tidak perlu. Kei," panggil Rendy dengan angkuhnya.
Kei mengangguk, kemudian dia berjalan menuju ke kamar Elena. Elena hanya mampu meneguk salivanya. Bahkan Rendy belum mengatakan apapun. Tetapi Kei langsung paham akan titah dari Rendy. Hingga beberapa waktu lamanya, Kei telah selesai mengepak pakaian Elena. Dia terlihat menyeret sebuah koper besar.
"Kita akan menginap disana satu minggu." Rendypun bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
Elena bungkam. Bahkan Elena hanya mampu mengikutinya dari belakang. Semua kejadian ini benar-benar membuatnya linglung. Pasalnya, dia baru saja mendapatkan sebuah mall yang cukup besar di London. Lalu, apa yang mendasari Rendy untuk memberikan semua itu padanya? Elena kini terhanyut dalam lamunan yang panjang. Tanpa dia sadari, Rendy telah mengawasinya sejak beberapa waktu lamanya.
Aku sudah membantunya sejauh ini. Tapi lihatlah gadis bodoh itu bahkan kini seperti orang linglung. Apa dia sakit hati dengan kata-kata saudara sepupunya itu? Elena … Aku sudah memberimu banyak kesempatan untuk mengadu atau meminta tolong. Tapi lihatlah, kau bahkan begitu enggan memintanya padaku. Kau juga menghabiskan begitu banyak uangku hanya untuk temanmu itu. Mengapa kau tak meminta sesuatu dariku? Padahal aku mampu memberikan apapun padamu. Sial … Sejak kapan aku begitu mempedulikannya? Sudahlah. Lebih baik kita pulang ke Indonesia dan mari kita lihat drama apalagi yang dimainkan oleh pak tua itu. Kata Rendy dalam hati.
"Pa-paman?" Elena memanggil Rendy dengan terbata.
"Hem." Rendy diam tak bergeming. Hanya sebuah deheman yang mewakilinya. Membuat Elena mau tak mau bersabar.
"Paman … Harga dari mall itu begitu besar. Aku tak mampu untuk membayarnya. Sekarang kan Sonia sudah tidak ada. Mengapa Paman tidak menyuruh tuan Kei untuk membatalkannya saja?" tanya Elena ragu-ragu.
Dia begitu terbebani dengan apa yang diberikan oleh Rendy. Jika Rendy memberikannya perhiasan, itu tidak masalah. Namun, mengingat ini adalah sebuah pusat berbelanjaan yang terbesar di London membuatnya merasa terbebani.
__ADS_1
" Ckckck … Jika kau mengatakan hal ini lagi, aku akan melemparmu dari jet pribadi ini. Kei … Buang gadis sialan ini keluar saat ini juga jika dia membahas perihal mall itu." Rendypun membuang ponsel miliknya begitu saja. Hingga membuat Elena tergerak untuk menangkapnya. Syukurlah, ponsel itu tidak apa-apa. Kini Elena menatap tajam sosok Rendy yang justru tengah memejamkan kedua matanya. Ditambah dengan Kei yang mengiyakan permintaan dari Rendy. Membuatnya begitu kesal.
Sepertinya aku hanya mampu menerimanya. Sialan, mengapa aku seperti kucing peliharaan saja ya? Elena membatin miris.